Sosialita

Ni Nyoman Ayu Upadani: Komitmen dan Transparansi

Bu Candra dan keluarga

Fokus dan yakin bisa berhasil, itulah pilar kesuksesan seorang pengusaha.  Komitmen meniti usaha tersebut akan semakin kuat ketika dilakukan bersama pasangan. Hal ini bisa dilihat pada langkah Ni Nyoman Ayu Upadani, seorang entrepreneur yang kini sukses mengelola “ Candra Collection”.

Kucuran keringatnya selama 18 tahun terbukti tidak sia-sia. Kini produknya tersedia di mal-mal besar di Bali dan di Jakarta. Selain itu, Bu Candra begitu panggilan akrabnya juga rajin mengikuti berbagai pameran mulai dari lokal Bali, Jakarta hingga di luar negeri. Bukan hanya itu, sandal buatan pun akhirnya di ekspor ke negara Eropa, Australia dan Jepang.

Setelah Bu Candra berhasil dengan usaha sandalnya,  suami tercintanya I Gede Darma Yasa menambah usaha bidang properti sesuai keahliannya di bawah bendera “Bintang Property”. Berikutnya,  masih dengan komitmen, kerja keras, dan disiplin yang diterapkan pasutri ini, usahanya melaju ke bidang ritel dengan mendirikan mini market.

Menurut Bu Candra, dengan semangat ingin maju dan selalu saling dukung menjadikan mereka tidak mudah goyah dalam menjalankan bisnisnya. “Intinya apapun yang akan kami lakukan, itu adalah kesepakatan kami berdua,” cetus ibu dari Ni Luh Candra Pudak Lestari, Ni Nengah Bintang Lestari dan Ni Komang Intan Lestari ini.

Perjalanan usahanya, tidak serta merta hasilnya seperti sekarang. Awalnya saat berhenti bekerja dari di hotel, yang sudah dijalaninya selama 8 tahun, karena hamil, ia memilih pekerjaan memasang mote di rumah. Kemudian berlanjut sebagai broker sekitar 2 tahun, yakni membeli produk untuk dijual kembali kepada para tamu.

Hingga suatu saat ia berpikir, jika bisa memproduksi sendiri tentu hasilnya akan lebih besar. Akhirnya dengan modal awal Rp 500.000 bersama sang suami ia mengawali usahanya membuat sandal. Kemudian bersama juga melakukan promosi kepada keluarga, kerabat, teman, dan tamu yang dikenalnya. Walau, pemasarannya hanya dari mulut ke mulut, namun sambutan yang diperolehnya cukup baik .

Terkait model produknya, Bu Candra mengatakan biasanya disesuaikan dengan pesanan. Jika di luar negeri, modelnya umumnya mengikuti yang lagi trend di sana. Sementara di wilayah lokal selain model bahan dasar kulit juga menyertakan material lokal seperti  endek, songket.  “Pemerintah tengah mengiatkan untuk terus membangkitkan dan mencintai produk dalam negeri,” katanya

Dalam menjalankan usahanya  kata Bu Candra, ia pun tak lepas dari yang namanya pengalaman pahit. “Saya sempat shock juga akibat pesanan dari tamu di luar negeri dibatalkan dan pelanggan yang menunggak pembayarannya. Apalagi saat itu modal masih sangat minim. Beruntungnya dukungan suami luar biasa, saya jadi tidak mudah putus asa. Setelah jatuh- bisa bangkit lagi dan bertahan sampai sekarang ,” papar Bu Candra yang dalam segala hal selalu terbuka dengan pasangannya ini.

Dikatakan sampainya ia di titik seperti saat ini, satu lagi kuncinya yakni kejujuran dan menjaga kepercayaan . Dua hal ini, sangat ampuh untuk menjaga semua klien atau pelanggang termasuk pasangan. “Setiap langkah mengambil keputusan dan menentukan arah usaha selalu kami bicarakan bersama,” ucap Bu Candra yang mendidik anak-anaknya dengan memberikan contoh, untuk tidak berlebihan, hidup sederhana, senang berbagi dengan memiliki kepedulian sosial terhadap kondis di sekitarnya. Sebab, semua mereka dimiliki saat ini adalah titipan Tuhan.

 

NGAYAH UNTUK  WARGA

Bicara sosoknya sebagai istri Kelian Banjar Mekar Jaya, Desa Pemogan, Bu Candra juga ingin memberikan kontribusi bagi warga banjarnya sebagaimana yang dilakukan suami. Setelah terpilih sebagai Kelian Banjar sejak tahun 2015 ini, ia  menyerahkan kembali gaji yang diterimanya. “Dana tersebut kami gunakan untuk metirta yatra bersama para prajuru, seka santi dan seka gong kami,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa tidak mudah ketika kita harus menangani banyak kepala. Namun, ia percaya jika memulai sesuatu dengan niat yang baik maka hasilnya juga akan baik. Kalaupun ada yang pemikirannya berseberangan, Bu Candra mengatakan lebih memilih menyikapinya dengan positifi. Begitu juga dengan sang suami, sebagai kelian banjar ia cukup membuktikannya melalui integritasnya, yakni konsistensi dan sinkronisasi antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan dalam menjalankan perannya mengabdi untuk warga.

“Saya percaya apapun yang dilakukan dengan niat dan tujuan yang baik, lambat laun mereka akan menyadarinya,” cetusnya.  Ia juga mengatakan perilaku baik dan berbudi pekerti juga sangat penting dicontohkan. Apalagi terhadap anak-anak, tujuannya agar mereka mencontoh dan kedepannya juga bisa meneruskan hal-hal yang baik yang sudah ditanamkan dan dilihatnya selama ini.

Bu Candra, yang dikenal gesit dan kreatif ini juga mengagas terbentuknya Seka Gong “Candra Swari”. Selain demi kebersamaan diantara warga banjar juga ingin berkontribusi dalam melestarikan budaya lokal. “ Hingga saat ini kami sudah menguasai 6 tabuh. Kami berlatih setiap dua kali seminggu,” ujar Bu Candra yang atas inisiatifnya pula, di akhir tahun 2016 mereka  berhasil  mendapatkan bantuan dana dari pemerintah Kota Denpasar.

Sebelum memperoleh bantuan dana, dari rezeki yang diperolehnya  ia sempat membelikan  kaus untuk  anggota seka gong, yang  tampil menyambut tamu pada kegiatan kenaikan tingkat sanggar tari di banjarnya. “Kami menggunakan dana bantuan tersebut sebaik-baiknya. Semua dana dikelola secara transparan, pengeluaran dan peruntukannya jelas tercatat dengan baik oleh bendahara. Mulai dari pembelian seragam hingga honor pembina,” katanya. Ia menambahkan sebelum memperoleh bantuan dana mereka dilatih megambel oleh warga yang sudah bisa, dengan ikhlas tanpa imbalan.

Masih bicara aktivitas di banjar, Bu Candra mengatakan, selain berlatih megambel, di banjar juga ada kegiatan rutin lainnya, yakni olah raga  yang berlangsung setiap minggu pagi. Inisiatif  lainnya dari Bu Candra adalah mendirikan seka gong anak-anak. Hal ini ditujukan agar  anak-anak mengisi waktu liburan setelah menerima raport dengan positif. “Di sini mereka diajarkan sejak dini untuk mengenal dan mencintai budayanya. Saya bangga melihat anak-anak.  Mereka luar biasa , baru belajar saat liburan ini sudah berhasil menguasai dua tetabuhan,” katanya sumringah.  – ard

 

 

 

To Top