Bunda & Ananda

Anak Wajib bisa Menari

Tari Condong, tarian dasar untuk anak perempuan

Menari menjadi salah satu aktivitas yang banyak dilakoni orang, khususnya di Bali. Mulai dari usia anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia, perempuan maupun laki-laki. Bahkan, bagi seorang Ibu yang mengikutkan anak-anaknya les menari sejak mereka masih kanak-kanak mengatakan, sebagai orang Bali wajib hukumnya bisa menari.

Selain sebagai salah satu seni kreativitas untuk melestarikan budaya, menari  juga merupakan pengolahan gerak tubuh dalam bentuk tarian. “Dalam aktivitas menari ini sudah dipadukan antara wirama yang indah dari alunan gamelan, wiraga dari lekukan/gerakan tangan yang lembut dan hentakan langkah kaki yang serentak dengan irama gamelan, yang kemudian memunculkan wirasa dengan beragam ekspresi,” ujar I Gusti Ngurah Okta Diana Putra, S.Pd., pemilik Sanggar Tari Giri Semara Madu di Pangsan, Petang-Badung.

Ia menyebutkan, menari juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan, melatih kerja otak, dan melenturkan badan. Bahkan, dengan menguasai tarian ini dikatakannya bisa sebagai bekal untuk menambah uang saku. “Dan yang tak kalah penting, menari juga bisa untuk menyama braya, seperti ngayah dan membagi ilmu,” ucap Wahde-sapaan akrabnya, yang sudah beberapakali mengajak anak-anak didiknya dan dirinya ngayah di Pura.

KUASAI GERAKAN DASAR

Sebelum mempelajari sebuah tarian, anak-anak harus dilatih melakukan gerakan dasar, seperti, agem kanan, agem kiri, gerakan mata, ngegol, malpal, gerakan tangan. “Karena jika anak-anak tidak menguasai gerakan dasar, akan sulit untuk mengajarkan materi /tarian kepada anak,” ujar Alumni S1 Pendidikan Seni, Drama, Tari dan Musik IKIP PGRI Bali ini.

Umumnya, untuk pemula diajarkan Tari Condong (untuk anak perempuan), dan Tari Baris (untuk anak laki-laki). Kedua tarian ini dipakai sebagai tarian dasar karena semua pakem dan kelincahan gerak yang ada di tarian lain banyak ada dalam Tari Condong dan Tari Baris. Mulai dari teknik menari, kelincahan agem, tandang, dll. “Seperti Tari Baris, penguasaan tari baris lebih cepat diresapi oleh anak-anak pemula karena gerakannya yang mengulang,” jelas Wahde.

Setelah menguasai tarian dasar tersebut, baru kemudian anak-anak dikenalkan dengan tarian lain. Dalam sebuah lembaga kurus (sanggar), seperti juga pada Sanggar Tari Giri Semara Madu, setidaknya seiap 6 bulan dilaksanakan Ujian Kenaikan Tingkat. Tujuannya tak lain untuk memotivasi anak-anak untuk terus berlatih dan berlatih. Karena dari ujian ini bisa dikatakan anak-anak sudah melalui level 1 menuju level 2 begitu seterusnya. “Jadi ketika ujian kenaikan tingkat, level penguasaan anak terhadap tarian itu bertambah/meningkat. Disini juga sebagai ajang bersaing secara sportivitas bagi anak agar mereka terus giat berlatih. Selain juga sebagai pertanggungjawaban Sanggar kepada para orangtua anak bahwa memang benar anaknya sudah berlatih dengan baik dan sudah mampu mementaskan sebuah tarian,” papar Wahde.

Ada banyak jenis tarian, di antaranya tarian tradisional, tarian modern hingga tarian kontemporer, tarian yang dipadukan dengan drama atau yang sering disebut dengan drama tari. Cepat tidak anak menguasai sebuah tarian, dikatakannya sangat tergantung pada daya tangkap masing-masing anak yang terntunya berbeda satu sama lain. Umumnya, kesulitan yang dialami anak-anak adalah menghafalkan gerakan tertentu. Seperti gerakan mata (nyeledet), malpal, dll. “Tapi semuanya bisa dipelajari dan pasti bisa dikuasai, yang penting anak-anak disiplin, ada kemauan, dan giat berlatih,” tegasnya. (Inten Indrawati)

To Top