Dara

Festival ke Uma: Bermain Tradisional dan Mengenal Sawah

Masih ingat zaman anak-anak dulu? Saat itu, anak-anak selalu bermain apa saja, kapan saja dan dimana saja. Ruang dan waktu seakan tak ada batas untuk melakukan aktivitas. Alam dan lingkungan sangat bersahabat yang selalu menyediakan berbagai alat dan sarana untuk mereka bermain. Suasana itulah yang terjadi pada Festival ke Uma yang digelar di Subak Uma Ole, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Marga – Tabanan.

Festival yang digelar selama dua hari (24-25 Juni 2017) itu mengajak anak-anak melakukan permainan tradisional sekaligus mengenal uma (sawah). Anak-anak tak hanya menghibur dengan melihat festival semata, tetapi diberikan kesempatan ikut berpartisipasi. Anak-anak pengunjung diajak ikut bermain, sehingga muncul suasana gembira, ceria dan bahagia. Segala yang disuguhkan di acara itu, bukan untuk ditonton, tetapi untuk dinikmati sercara bersama.

Anak-anak yang bermain di sawah itu, memang sebagian besar dari Banjar Ole, yang bergabung dalam Sanggar Buratwangi dan Sanggar Wintang Rare. Namun, tidak sedikit pula anak-anak dari daerah lain yang terlibat. Di antaranya, anak-anak dari Desa Geluntung, anak-anak dari Bumi Bajra Sandi, dari Mengwi, Kukuh Marga, Kota Denpasar, Karangasem, Buleleng dan Tabanan. “Kami merancang festival partisipatif, pengunjung ikut larut dalam kegiatan bukan sekadar jadi penonton,” kata Koordinator acara I Putu Edi Novalia Artha.
Fetival ke Uma menyajikan berbagai jenis permainan tradisional yang dibagi menjadi dua kategori yaitu eksebisi dan lomba. Eksebisi menampilkan permainan megandu, medempul, mapoh-pohan, lait kancing, obek-obek uang, colek-colek tain belek, tangklak-tingklik dan megala-gala. Jenis permainan yang dilombakan,seperti metimbangnyuun sigihmatulupanpaid upih dan megandong di nyanyad (lumpur).

Selain permaianan tradisional, juga diisi dengan workshop yoga oleh IGS Raka Panji Tisna, workshop tanaman obat oleh Bagus Arya (Padma Herbal) dan workshop membuat layang-layang dari Sanggar Buratwangi. Kegiatan workshop ini melibatkan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang tua. “Festival ini juga memiliki visi untuk mengajak anak-anak dan masyarakat untuk membudayakan hidup bersih dan sehat dengan mengurangi pemakaian bahan-bahan dari plastik,” ucap Putu Edi.

Pada malam harinya, Festival ke Uma ini juga dimeriahkan dengan pentas seni berupa Monolog oleh Putu Satria, Musikalisasi dari Komunitas Mahima, Dongeng Tantri dari Bumi Bajra Sandhi, Monolog Cupak Gerantang oleh salah seorang Mahasiswa ISI Denpasar, seni pakeliaran Kambing Takutin Macan dan musik dari Komunitas Jalan Air.

Pada hari kedua, hujan sempat mengguyur, tetapi anak-anak tak ada yang mengeluh, tak ada yang protes terhadap alam, tak ada yang memikirkan tentang pawang hujan atau lampu laser pemecah awan. Pengisi acara layaknya petani, yang menerima air melimpah dan panas sinar matahari dengan penuh syukur. Anak-anak setia menunggu hujan reda, dan begitu hujan reda, mereka kembali bermain dengan gembira meskipun petak sawah yang sebelumnya dikeringkan sebagai kalangan sudah benar-benar kembali seperti sawah. (Budarsana)

 

To Top