Kolom

LEBARAN

Memakai baju batik, Amat menggandeng istrinya yang mengenakan kebaya, mengetuk pintu rumah dokter Soegianto. Begitu pintu terbuka, Amat kontan mengulurkan tangan sambil mengucap:
“Selamat Hari Raya Idul Fitri, Dokter. Mohon maaf lahir-batin!”
Tapi yang muncul ternyata hanya pembantu.
“Maaf, Pak, Bapak dan Ibu Dokter baru saja pergi.”
Lho, ke mana?”
“Katanya ke rumah Pak Amat.”
Amat kerling-kerlingan sama istrinya.
“Saya Pak Amat. Ini istri saya, Bu Amat.”
Bu Amat mengangguk.
“Saya Bu Amat. Pasien rematik Pak Dokter. Kami memang janji datang untuk mengucapkan Selamat Hari Idul Fitri, tengah hari. tapi karena ada tamu, baru bisa datang sekarang. Adik ini saudaranya?”
“Bukan, Bu. Saya PRT.”
Bu Amat terkejut.
“PRT? Apa itu?”
“Pembantu Rumah Tangga!” kata Amat memotong.
“O, pembantu, kirain keponakannya. Soalnya cantik sekali. Baru ya? Dari mana?”
Pembantu itu nampak malu. tapi menikmati pujian itu. Tapi belum sempat menjawab Amat nimbrung lagi.
“Maaf, boleh tanya berapa gaji PRT sekarang sebulan? Ya, kami juga lagi perlu. Barangkali adik bisa mencarikan?”
Bu Amat langsung memotong.
“Bapak ini bagaimana, kita kan mau halal-bihalal, kok malah bisnis pembantu. Sudah ini bagaimana sekarang? Mau tunggu di sini atau pulang saja kita?”
“Kalau pulang, tapi Pak kalau Pak Dokter juga pulang, bisa papasan kita. Padahal besok pagi-pagi kita sudah berangkat, kan?!”
“Makanya pakai planning dong, jangan asal jalan!”
Amat nampak gugup. Ia mengeluarkan HP.
“Mau nelpon siapa?
“Pak Dokter! Hallo Dok! Dok! ini aku Amat. Aku di sini di rumahmu. Di rumahmu, ya, ya di rumahmu! Kamu dimana? Di rumahku? Gila! Jadi gimana ini? Aku pulang atau kau pulang? Oke kalau begitu, aku tunggu di sini. Oke, sip!”
Amat menutup HP lalu menoleh istrinya.
“Dia bilang kita tunggu saja di sini!”
“Tapi berapa lama?!”
“Sssttt!”
Amat menyabarkan istrinya yang kelihatan jengkel. Lalu berpaling pada pembantu yang dari tadi bengong melihat tamunya nampak kesal.
“Siapa namanya, Dik?”
“Sunyi, Pak.”
Amat ketawa. Bu Amat langsung menginjak kaki Amat.
“Sunyi sepi?”
Pembantu itu mengangguk.
“Ya, Pak. Sepi. Pak Made juga pulang karena istrinya sakit jadi saya sendiri rumah sebesar begini.”
“Tapi tak ada. hantunya, kan?”
“Ada, Bu! Tadi saya sudah takut. Untung Bapak dan Ibu datang!”
“Oke, tidak usah takut. tadi Pak Dokter bilang supaya kami tunggu saja di sini. Sekalian dia minta supaya kami bantu membersihkan hantu supaya pergi.”
“Bapak bisa ngusir hantu?”
“Sekarang hari apa?  O ya, mungkin bisa? Kamu punya hiu?”
“Ikan hiu, Pak?”
“Bukan. H-i-u!
“Dupa untuk sembahyang.”
“Tidak ada, Pak. Ada lilin.”
“Tidak bisa! Coba cari sebentar ke toko, beri dia uangnya, Bu. Nanti kita usir hantunya sambil nunggu Pak Dokter.”
“Tokonya jauh, Pak.”
“Ya, naik kendaraan umum saja. Kasih uangnya, Bu!”
Bu Amat menggerutu, tapi membuka juga dompetnya. Sunyi nampak ragu-ragu.
“Ayo nanti keburu Pak Dokter datang. Atau masih ingin halal-bihalal dengan hantunya? Kelihatannya ada tiga. Semua seneng sama kamu!”
“Pak!”
Amat ketawa. Sunyi nampak ketakutan. Ia permisi masuk ganti pakaian. Lalu memanggil pacarnya di pos satpam.
“Mas, Mas, antar aku sebentar ke supermarket!”
Tak ada dua menit, satpam pacar Sunyi muncul dengan motor bututnya. Langsung memboyong Sunyi mencari hiu.
Tapi mereka tidak langung ke supermarket. Singgah dulu ke KFC karena pacar Sunyi mau nraktir dengan THR-nya.
Setengah jam kemudian Sunyi baru kembali membawa segepok hiu. Bertepatan dengan Dokter Soegianto yang keluar dari mobilnya yang baru sampai.
“Sunyi! Dari mana kamu?”
Sunyi menunjukkan hiu yang dibelinya.
“Apa itu?”
“Hiu, Pak, disuruh Pak Amat untuk ngusir hantu.”
“Pak Amat siapa?”
“Pak Amat, tamu Bapak!”
Lho, kami baru saja habis makan bersama dengan Bapak dan Bu Amat.”
Sunyi tercengang.
Istri Dokter Soegianto yang baru masuk rumah, berlari keluar sambil berteriak:”Paaakkk kita dirampok!”

To Top