Sosialita

Tolinia Sukma Wardhani: Eksplorasi Kreativitas Melalui Kebaya

“Wardhani House of  Kebaya “di Jalan Tibung Sari, Kwanji, Denpasar adalah salah satu rumah mode yang mengedepankan bentuk desain nuansa modern  simpel de­ngan siluet klasik nan menawan. Pemiliknya Ni Luh Nyoman Tolinia Sukma Wardhani, S.S. Namanya pun makin berkibar sebagai seorang desainer kebaya.

 Cutting yang bagus, modern klasik dan fit di badan itulah kebaya karyanya. Bukan hanya itu ia diketahui memiliki ciri khas lainnya yakni pilihan warna kebaya yang senada dilengkapi dengan tile warna kulit. Menggunakan material france lace, semi lace hingga corneli dijamin menjadikan penampilan lebih memikat di berbagai kesempatan.

Ditemui di workshop yang bersebelahan dengan ruang display- nya, ibu dari Ghani Bhaskara (5) ini, mengaku sangat menikmati aktivitasnya men­desain kebaya. Baginya, kebaya adalah busana yang istimewa. Karenanya, makin banyak wanita menjadikan kebaya sebagai busana andalan untuk tampil elegan, mulai dari acara wisuda, potong gigi, pernikahan hingga ulang tahun pernikahan.

Kebaya lanjut istri Agus Suprianta, S.E., M.Si., ini  membuat pemakainya tampak memesona bahkan tampil seksi jika pas di badan. Apalagi di Bali dengan aktivitas budayanya, dan kebaya sekarang tampil lebih beragam dengan model makin keren juga aplikasinya makin gaya untuk berbagai acara. Kare­na itu pula, kini ia dibanjiri klien yang ingin dibuatkan kebaya.

Saat ini tercatat kebaya bikinan Toly bukan hanya dikenal di lokal Bali, dan beberapa kota di Indonesia namun pelanggannya juga datang dari Australia, Belanda dan Swiss. “Seru juga ya, di luar negeri  sana banyak yang berkebaya. Walau, pilihan mereka lebih banyak kebaya yang polos tanpa modifikasi, sehingga kami bisa menggarapanya dan pas dikenakan, ujar Toly yang kuliah di Program MM di Unud ini.

Selanjutnya menurut Toly untuk usaha jasa yang satu ini, ia wajib memberikan pelayanan terbaik dan ekstra bagi setiap kliennya. Jika ada seorang klien datang meminta dibuatkan kebaya dengan membawa  contoh karya orang lain, maka Toly akan mengatakan tidak bisa membuat yang persis sama. Namun, ia memberikan solusi dengan membuatkan gambar sesuai stylenya tapi inspirasinya dari contoh yang dibawa kliennya. Dikatakannya dengan komunikasi personal yang dilakukan selama ini, mereka bisa menerima.

“Mereka menerimanya, meski desain kebayanya tidak serupa, tapi setelah dicoba   merasa cocok. Malahan mere­ka mengatakan jadi memiliki koleksi dengan desain baru ala Toly”, kata putri ketiga dari empat bersaudara pasutri Ni Ne­ngah Trisanthi dan dr. Made Buana, SpM., ini tersenyum. Ia juga mengatakan kalau selama ini informasi usahanya berjalan dari mulut ke mulut.

Begitu juga jika ada klien datang memesan kebaya, namun tidak tahu ingin model seperti apa, dan hanya menyampaikan  yang penting bagus di badan dan enak dilihat.  Untuk yang seperti ini, Toly menanganinya juga de­ngan membuatkan sketsa dan dikomunikasikan hingga kliennya  benar-benar merasa sreg dengan modelnya. Khusus, untuk kebaya maupun gaun pengantin, dikatakan oleh Toly sebaiknya dipesan dua atau sebulan sebelum acara se­hingga hasilnya akan memuaskan

SELALU INGIN LEBIH BAIK

Tentu saja selalu ada cerita di se­tiap mengawali usaha. Jika sekarang Toly, dikenal sebagai salah seorang desainer kebaya yang dicari dan diminati, bukan diperolehnya dalam sekejap, ada proses yang dilaluinya.Toly yang memiliki bakat menggambar dan menggemari dunia fashion sejak remaja ini, menuturkan jika sekitar tahun 2010 saat dirinya ingin menjahitkan sebuah kebaya, ia merasa ongkosnya cukup mahal. Ia pun bicara dalam hatinya, apa yang membuat ongkosnya mahal, dan ia merasa bisa dan membuat kebaya sendiri.

Sejak itu ia terinspirasi memiliki usaha membuat kebaya. Rupanya keinginannya mendapat dukungan modal dari orangtuanya. Maka ia pun segera membelikannya mesin jahit dan perlengkapan lainnya. Menariknya, ketika itu meski masih coba-coba namun, sudah ada yang datang  minta dibuatkan kebaya.

Namun, diakuinya ia juga memiliki kisah yang mampu memacunya untuk belajar lebih baik lagi. Suatu saat, ketika ia baru bisa sebatas dasar menjahit kebaya, seorang koleganya datang minta dibuatkan baju pengantin seperti karyanya Anne Avanti. Toly merasa bisa dan menerimanya. Setelah dikerjakan ternyata hasilnya jauh dari harapan pemesannya. Akhirnya ia pun mengganti kainnya dan klien itu pun menjahitkan kebayanya pada orang lain. “Itu pengalaman yang tak terlupakan, cetusnya”.

Selanjutnya Toly pun penasaran ingin bisa berkarya seperti sosok Anne Avanti, desainer yang meng­inspirasinya. Ia pun berinisiatif belajar secara formal tentang teori, teknik dan keterampilan menjahit. Setelah sempat belajar sebentar di sekolah mode milik Susan Budihardjo, setelah itu Toly melanjutkan mengikuti programnya  Angeliqa Wu Fashion Design Course. Di sini talenta Toly semakin terasah, terbukti saat ujian ia berhasil  meraih predikat salah satu dari 3 Best Student. Selanjutnya untuk lebih lagi menguatkan  passion-nya di kebaya, Toly tidak sungkan-sungkan menambah ilmunya dengan belajar langsung di beberapa penjahit kebaya tradisional yang cukup terkenal.

Ketika bicara hasil, untuk Toly, bukan semata mata soal uang, tapi lebih pada nilai kepuasan. “Rasannya bahagia dan ada kepuasan tersendiri ketika melihat  foto klien kami terlihat makin cantik mengenakan kebaya. Apalagi jika pengantin perempuan tampil cantik di hari bahagianya dengan kebaya buatan kami”, ucap Toly yang melengkapi koleksi butiknya dengan wastra Indonesia seperti songket alam, batik, dan endek.

Toly mengakui ada peran besar orang disekelilingya selama ini. Dalam menjalankan usahanya, kata Toly selain dukungan suami, keluarga, ibu mertua Ni Komang Sutresni serta ayah mertua­nya Drs.  Wayan Mundra yang juga dosen Undiksha dan telah bergelut di dunia bisnis selama 20-an tahun  disebutnya sebagai mentor terutama dalam hal etika berbisnis.

Sementara itu, pemilik motto  “hidup bekerja untuk selalu menaikkan kualitas hidup” ini masih ada mimpi yang ingin digapainya, yakni memiliki cabang butik di area Kota Denpasar. Kemudian setelah beberapa kali menghadirkan karya dalam ajang fashiow show di Bali, suatu saat nanti ia ingin bisa menggelar fashion show koleksi kebayanya di luar negeri. -ard

To Top