Kolom

KONSLET (Kritik 4)

“Bagus juga Bapak sudah melaporkan Bagus ke polisi. Kalau terlambat pengguna narkotika, biasanya berakhir dengan kehancuran seluruh keluarganya!” puji Bu Amat.
Amat yang mau menyeruput kopinya, tak jadi. Dia meletakkan kembali gelas kopinya, lalu melirik istrinya. Bu Amat masih terus memuji.
“Yah begitulah mestinya orang hidup bertetangga. Harus saling tolong-menolong. Siapa lagi yang akan menolong kita, kalau bukan tetangga. Hidup di kota sudah jauh dari keluarga. Kalau pun ada keluarga, mereka juga pasti sedang banyak kesulitan. Jangankan menolong kita, mereka sendiri juga perlu sekali pertolongan. Ada yang sakit. Ada yang anaknya perlu biaya sekolah. Ada yang sibuk tugas keluar kota. Ada yang.,,, ”
Suara Bu Amat lirih. Ia membelakangi Amat. Dan Amat tahu sekali teman hidupnya itu sedang mengusap mata. Tangis adalah ujung dari segala rasa kesal. Tak penting kesal karena apa. Yang penting itu harus dilenyapkan. Ia harus tetap bahagia, karena dialah Ratu Rumah Tangga, meskipun sudah tua.
Amat segera membuang semua persoalannya sendiri. Bingung, heran, tak mengerti, kesal, itu makanan laki-laki yang harus ditelan sendiri dan diselesaikan sendiri, tanpa merecoki teman hidup. Itu sudah motto hidup Amat. Ibu rumah tangga yang sudah merawatnya bertahun-tahun itu, harus selalu dipelihara perasaannya. Tak perduli apa pun masalahnya.
“Maaf Bu,”kata Amat akhirnya, setelah berdiam lama.
Amat  hanya meraba-raba, apa di balik tangis itu. Ia tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi. Apa yang sedang berkecambuk dalam benak teman hidupnya itu.
Minta maaf adalah tidakan yang paling aman. Paling netral. Karena setiap saat, bisa dibelokkan ke mana saja. Minta maaf waktu salah, wajib. Waktu benar pun sangat bijak. Meskipun untuk minta maaf ketika tak tahu apa persoalannya, sangat sulit.
Pengalaman hidup Amat bersama istrinya selama puluhan tahun sudah menjadikannya bijak. Dulu waktu muda ia juga punya kesombongan seperti semua orang berdarah muda lain. Tidak mau minta maaf kalau tidak salah.
Tapi kini, ketika sudah lapuk, bagai sepeda ontel, ia jadi pengalah. Orang bilang itu bijak dan sabar,  untuk menghindari istilah kalah, menyerah atau takut.
Berkorban itu tidak pernah mubazir, kata Amat menghibur diri, kalau sudah terpaksa mengalah lagi. Ia lantas menjamah kembali gelas kopinya. Meneguk sedikit, sekedar membasahi tenggorokan. Lalu menyapa sejuk.
“Maaf, Bu, Bapak menyangka Pak Alit datang ke mari curhat, untuk minta tolong sebagaimana biasanya. Tapi juga seperti biasanya, ia juga tak mau berterus-terang, mungkin malu atau gengsi. Bapak tahu apa masudnya, jadi bapak hanya berusaha menolong. Kalau rasanya itu keliru, maaf. Bapak yang salah. Bapak nyesel kenapa tidak berunding dulu dengan ibu.”
Amat berhenti di situ. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Terlalu banyak ngecap, juga akan terasa ngibulnya. Lalu ia diam saja memandangi punggung istrinya.
Ketika tambah bingung, Amat  menegak kembali kopi. Tiba-tiba Bu Amat berbalik. Amat terkejut. Tangannya sampai bergetar, menumpahkan kopi ke meja. Ternyata Bu Amat tidak menangis. Ia mengusap matanya karena kemasukan asap bakaran sampah dari jalan.
“Jadi betul, Bapak yang sudah melaporkan Bagus ke polisi?” tanya Bu Amat gembira dan bangga.
Luapan bahagia di wajah istrinya itu, membuat Amat tak tahu harus menjawab bagaimana. Menarik semua pengakuannya, bisa meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan  bekas pacarnya yang setia itu.
“Jadi betul, Bapak aktor intelektual di belakang musibah Pak Alit ini? Itu mulia sekali, Pak!”
Amat gelagapan dipuji setinggi itu. Mulutnya sudah ternganga mau membantah. Kebohongan sebesar itu, walau demi perdamaian sekali pun, sudah terlalu mahal.
Tapi Bu Amat mendekat. Mengusap, membelai dan memeluknya membuat Amat terlontar ke 30 atau 40 tahun lalu. Lelaki mana sanggup memotong mimpi yang seindah itu. Di awal 2017, ketika banyak orang merasa makin tua, Amat kembali merasa dirinya perkasa.
“Meskipun sudah tua,  Bapak masih berjiwa besar, masih tetap lelaki sejati!”
Amat tak berani menjawab. Tak berani bergerak. Bahkan tak berani menggaruk lehernya yang gatal. Takut mimpi itu terputus.

To Top