Connect with us

Bunda & Ananda

PENYAKIT CACAR AIR PADA ANAK

Published

on

dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera,

Penyakit cacar air adalah penyakit yang sering terjadi di masyarakat terutama pada anak-anak. Bila mendengar penyakit cacar air, sering kita merasa ngeri dan takut, karena terbayang wajah yang bopeng dengan bekas-bekas luka yang kehitaman. “Sebenarnya bila penyakit cacar air tidak disertai komplikasi, maka penyakit ini hanyalah penyakit virus yang ringan dan dapat hilang tanpa bekas,” ujar dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera.

Cacar air atau yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan varicella adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Penularan terutama melalui kontak langsung, dengan cairan pernafasan maupun kontak langsung pada kulit, dan dapat terjadi walaupun jarang melalui kontak yang tidak langsung melalui udara.

Cacar air dapat mengenai semua kelompok umur termasuk bayi baru lahir. “Tetapi hampir sembilan puluh persen kasus mengenai anak di bawah umur 10 tahun dan terbanyak pada umur 5-9 tahun,” jelasnya.

Hal ini dikatakannya mungkin disebabkan karena sistem kekebalan tubuh pada anak-anak yang masih labil sehingga mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh virus. Selain itu karena pada usia tersebut anak mulai masuk sekolah sehingga kontak dekat dengan penderita memudahkan penularan penyakit cacar air ini.

Advertisement

Pasien dapat menularkan penyakit mulai 24-48 jam sebelum lesi kulit timbul, sampai semua lesi timbul keropeng, biasanya sekitar 7-8 hari. Sebenarnya seumur hidup seseorang hanya satu kali menderita cacar air, karena jika sudah terkena penyakit ini maka akan terbentuk imunisasi alamiah. Tetapi kadang-kadang penderita akan mengalami serangan kedua dengan gejala yang mirip dengan cacar air yang disebut dengan herpes zoster. Hal ini bisa terjadi karena setelah infeksi virus ini, varicella zoster tidak akan hilang sepenuhnya dari tubuh penderita. Virus akan tidak aktif dan menetap di saraf. Virus dapat aktif kembali jika sistem imun atau kekebalan tubuh penderita rendah dan akan muncul gejala-gejala yang mirip cacar air, padahal sebenarnya itu merupakan gejala dari herpes zoster atau yang kita kenal dengan cacar ular.

BACA  Ibu Itu Komplit

Virus varicella-zoster adalah salah satu dari 8 jenis herpes virus dari family herpesviridae yang merupakan virus DNA alfa herpervirus. Virus ini masuk ke dalam tubuh terutama melalui kontak langsung dari lesi kulit atau melalui kontak cairan saluran pernapasan. Setelah masuk ke dalam tubuh, lalu virus ini memperbanyak dirinya (bereplikasi). Proses replikasi virus terjadi di kelenjar limfe lokal selama 2-4 hari diikuti dengan dilepaskannya virus ke dalam sirkulasi darah (viremia primer) yang terjadi 4-6 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Virus lalu bereplikasi di hati, limpa dan organ lain. Virus kembali dilepaskan ke dalam sirkulasi darah (viremia sekunder). Pada viremia sekunder terutama terjadi penyebaran partikel-partikel virus ke kulit. Proses ini terjadi sekitar 14-16 hari setelah kontak. Setelah terjadi viremia sekunder, timbullah lesi vesikuler yang khas.

Gejala penyakit cacar air biasanya mulai timbul dalam waktu 14-16 hari setelah terinfeksi. Gejala penyakit cacar air yang terjadi pada anak umumnya lebih ringan bila dibandingkan dengan orang dewasa. Pada awalnya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lesu, dan lemah yang merupakan gejala khas dari infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan keluhan nyeri sendi, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan ataupun pembesaran kelenjar getah bening di leher bagian belakang. Beberapa hari kemudian muncul bintik-bintik merah datar yang dimulai dari badan kemudian menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Kemudian bintik tersebut menonjol, membentuk lepuhan berisi cairan yang disebut vesikel. Vesikel ini biasanya terasa gatal, sehingga dapat tergaruk secara tidak sengaja. Jika vesikel dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap. Bercak ini lama kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi. Lain halnya jika vesikel tersebut dipecahkan. Keropeng akan segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. Kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka tersebut, dan setelah mengering bekas cacar air tadi akan menimbulkan bekas yang dalam. Terlebih pada penderita dewasa, dimana bekas cacar air akan lebih sulit untuk dihilangkan. Ruam ini akan muncul secara bertahap selama 3-4 hari sehingga pada puncak masa sakit dapat ditemui ruam dalam semua tahapannya baik itu berupa bintik kemerahan, vesikel maupun keropeng. Selain di kulit, ruam juga dapat muncul di selaput lendir (mukosa) misalnya pada bagian dalam mulut atau vagina. Umumnya ruam membutuhkan sekitar 7-14 hari untuk sembuh.

BACA  Kenali Kunci Parenting di Era Milenial

Penyakit cacar air sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pemberian pengobatan apapun. Pengobatan yang diberikan biasanya bersifat simptomatis atau hanya untuk meringankan gejala yang timbul. Pemberian obat antivirus masih kontroversial dan hanya dianjurkan diberikan pada penderita cacar air dengan komplikasi yang berat, cacar air pada bayi di bawah usia 28 hari, maupun cacar air pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Meskipun demikian menurut beberapa penelitian, pemberian antivirus pada anak yang menderita cacar air dapat mengurangi lamanya demam dan jumlah ruam yang ada, bila dilakukan dalam jangka waktu 48 jam setelah muncul ruam.

Salep antivirus (acyclovir) dapat diberikan untuk bintik cacar yang baru agar tidak menyebar ke area sekitarnya. Anak dianjurkan untuk istirahat (tirah baring), dan diberikan banyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Untuk menurunkan demam sebaiknya diberikan parasetamol, sedangkan untuk mengurangi rasa gatal, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga diberikan bedak salisil, calamine lotion ataupun lotion yang mengandung menthol. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar jangan sampai luka terinfeksi bakteri dengan selalu menjaga kebersihan kulit.

Advertisement

Anak boleh dimandikan bila tidak demam, dan pada saat mengeringkan badan sebaiknya menggunakan handuk yang lembut agar vesikel tidak pecah. Setelah masa penyembuhan cacar air, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral, konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C dan E serta penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra.

BACA  Lindungi Anak saat Pandemi Covid-19, Ini Kiatnya

Pencegahan penyakit cacar air dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi pada anak. Di Indonesia sendiri, cacar air tidak termasuk dalam daftar imunisasi wajib untuk anak, tetapi tetap dianjurkan. Imunisasi sudah dapat diberikan sejak anak berusia 12 bulan, namun mengingat kejadian cacar air di Indonesia terbanyak terjadi pada anak yang telah bergaul dengan anak seumurnya (awal sekolah) dan penularan terbanyak terjadi pada saat usia sekolah, maka imunisasi dianjurkan diberikan mulai usia masuk sekolah, yaitu 5 tahun. Imunisasi ini juga dianjurkan bagi orang di atas 12 tahun yang tidak mempunyai kekebalan. Apabila diberikan setelah anak berusia 12 tahun, maka imunisasi perlu diberikan 2 kali dengan jarak minimal antara pemberian pertama dan kedua selama 4 minggu.

Berdasarkan penelitian, imunisasi varicella dapat memberikan perlindungan hingga 20 tahun setelah diimunisasi. Pemberian imunisasi ini efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat. Akan tetapi, sekitar 15-20% anak sehat yang diberikan imunisasi ini tetap terkena varicella, tetapi dengan gejala yang ringan, dimana tidak ditemukan demam, ruam kulit yang lebih sedikit, dan keluhan lain juga lebih ringan. Selain itu penyakit cacar air pada anak yang sudah mendapatkan imunisasi juga jarang menular kepada orang lain yang belum terkena cacar air.

Penularan cacar air juga sangat mudah terjadi dan dapat menyebar dengan cepat. Langkah pencegahan penyebaran pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengisolasi penderita cacar air dari tempat-tempat umum seperti misalnya sekolah atau kantor. Selain itu jika kita tinggal bersama pengidap cacar air, penularan dapat kita cegah di antaranya, dengan mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak dengan penderita; mengenakan masker; menggunakan cairan pembasmi kuman untuk menyeka benda atau permukaan yang mungkin terpapar virus; mencuci baju atau seprai penderita secara terpisah; menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan yang bergizi, minum air putih 7-8 gelas perhari dan istirahat cukup. (Inten Indrawati)

Advertisement

Bunda & Ananda

KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Published

on

Anak-anak antusias mengikuti vaksinasi Covid-19 (cybertokoh/dok. BNPB)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap akan menjadikan anak berpotensi menjadi pembawa Covid-19 setelah beraktivitas di luar rumah dan menularkannya kepada orang lain. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat mendorong agar vaksinasi anak usia 6-11 tahun dapat dipercepat.

“KPAI sangat mengapresiasi kerja keras BPOM dan para ahlinya sehingga memberi izin penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun. KPAI berharap agar Kementerian Kesehatan bisa segera memberikan vaksinasi tersebut pada anak usia 6-11 tahun,” ujar Retno LIstyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

PAUD/TK dan SD, kata Retno, sudah mulai menggelar PTM (pembelajaran tatap muka). Mereka belum divaksin dan sulit dikontrol perilakunya. Karenanya KPAI berharap Kemenkes bisa segera memberi mereka vaksin. Meskipun diketahui bahwa Kemenkes baru bisa memberi mereka vaksin pada awal 2022.

Advertisement

Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak sangat luas terhadap perkembangan anak dalam hal kesehatan (fisik dan mental), aspek sosial juga pendidikan. Saat Juni-Juli 2021, pada saat tingkat infeksi Covid-19 cukup tinggi di Indonesia, kelompok anak yang terinfeksi cukup banyak. Mencapai 2,9% untuk usia 0 – 5 tahun dan 10% untuk usia 6 – 18 tahun.

Sejumlah negara yang mengalami penurunan kasus, saat ini kembali mengalami kenaikan kasus. Kondisi tersebut mungkin sekali dialami juga oleh Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang dapat mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus Covid-19 pada anak, termasuk perlunya vaksinasi untuk usia anak.

BACA  KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Di bagian lain Retno menjelaskan soal survei singkat persepsi peserta didik tentang vaksinasi anak usia 12-17 Tahun yang dilakukan oleh KPAI. Survei yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi google form ini diikuti oleh 86.286 partisipan/responden dari jenjang pendidian SD/MI/SLB (10%), SMP/MTs/SLB (40%), MA/SMA/SMA/SLB (50%). Adapun asal daerah para partisipan berasal dari 34 Provinsi di Indonesia, bahkan diikuti juga peserta didik dari Sekolah Indonesia Luar negeri (SILN), yaitu SILN Singapura dan SILN Filipina.

Ada beberapa temuan dari hasil survei tersebut, di antaranya 88% anak bersedia menerima vaksin, ragu-ragu 9% dan menolak vaksin 3%. Meskipun bersedia menerima vaksin, namun banyak dari mereka belum ada kesempatan untuk mendapatkannya.

“Baru 36% yang sudah beruntung mendapatkan vaksin, sedangkan 64% di antaranya belum divaksin,” jelas Retno sembari menambahkan, dari data tersebut menggambarkan belum meratanya vaksinasi anak di berbagai daerah di Indonesia.

Advertisement

Sebanyak 3% responden tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang menyatakan tidak perlu vaksin yang penting menerapkan protokol kesehatan. Ada juga yang beralasan memiliki komorbid sehingga secara medis tidak bisa divaksin.

“Tapi ada juga yang menolak vaksin karena tidak yakin dengan merk vaksin tertentu. Itu jumlahnya 8%. Ada juga yang bilang, divaksin tidak menjamin tidak tertular Covid-19 (8%) dan tidak diijinkan orangtuanya untuk vaksin (7%),” papar mantan kepala sekolah SMAN 3 Jakarta, ini.

BACA  KPAI Minta Pemerintah Beri Bantuan pada Anak yang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Menurut Retno, meski yang tidak bersedia divaksin hanya 3% dari 86.286 responden, namun hal tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti pemerintah, Misalnya melalui pendekatan berbasis sekolah/madrasah yang melibatkan pendidik di sekolah.

Anak-anak yang sudah divaksinasi mengaku pasca divaksin merasakan nyeri ditempat suntikan dilakukan (41%); lapar atau haus (16%); rasa lelah (11%); sakit kepala (4%); demam (3%); mual atau muntah (1%); dan sisanya jawabannya lainnya (24%). Namun begitu, efek dari vaksin yang dirasakan anak, tidak ada yang parah apalagi sampai di rawat di rumah sakit.

Hasil Pengawasan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun

Advertisement

Selain melakukan survei tentang program vaksinasi anak dengan sasaran responden anak usia 12-17 tahun, KPAI juga telah melakukan pengawasan langsung ke 7 sekolah terkait program vakinasi anak di sejumlah sentra vaksin sekolah di wilayah DKI Jakarta. Di antaranya di SMPN 161 Jakarta Selatan, SMPN 88 Jakarta Barat, SMPN 270 dan SMPN 30 Jakarta Utara, SMAN 22 Jakarta Timur, SDN Pasar Baru 07 dan SMAN 20 Jakarta Pusat.

Sepanjang pantauan KPAI di media massa, ada sejumlah daerah yang sudah melakukan vaksinasi anak usia 12-17 tahun sejak Juli 2021, di antaranya : Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, bahkan Papua . Sementara vaksinasi anak yang baru mulai digelar bulan Agustus 2021, di antaranya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

BACA  Kenalkan Budaya sejak Dini

Tidak ditemukan kasus vaksinasi anak yang berefek berat di setiap sentra pengawasan vaksinasi anak. Namun di Bali ada 2 kasus anak mengalami pusing dan terjatuh setelah divaksin, tepatnya saat observasi pasca vaksin dan langsung mendapatkan pertolongan.

Setelah diperiksa di IGD oleh dokter, ternyata anak mengaku belum sarapan dan tidur terlalu larut sehingga pasca vaksin mengalami pusing dan jatuh pingsan. KPPAD Bali sebagai mitra KPAI sudah mendatangi sekolah dan kediaman kedua anak tersebut. “Saat bertemu, anak dalam kondisi sudah sangat membaik,” kata Retno.

Terkait dengan permasalahan vaksinasi anak, KPAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah mendorong percepatan vaksinasi anak usia 12-17 tahun karena capaiannya masih rendah yaitu 4,5 juta dari target 26 juta anak.

Advertisement

“Jika pemberian vaksinasi anak usia 12-17 tahun belum dapat dituntaskan pada Desember 2021 ini maka program vaksinasi anak usia 6-11 tahun akan tertunda,” ujarnya.

KPAI mendorong para orangtua yang memiliki anak-anak usia 6-17 tahun segera divaksin. Jangan ditunda, jangan memilih milih merek vaksin. KPAI yakin bahwa vaksin Covid yang ada aman, berkhasiat dan bermutu.

“Ingat, vaksin adalah hak anak-anak Anda. Berikan haknya, izinkan dan antar mereka untuk divaksin. Vaksin Sinovac sudah digunakan untuk anak usia 6-11 tahun di sejumlah negara, seperti China, Chile, Kolumbia dan Kuba,” jelas Retno. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Bunda & Ananda

Peran Orangtua Sangat Penting Dalam Membiasakan Anak Taat Prokes

Published

on

Para pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’ (Tangkapan Layar-Diana Runtu)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Mengajarkan anak-anak menerapkan protokol kesehatan (prokes), apalagi yang usianya di bawah lima tahun, bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Asalkan orangtua mau melakukan pengajaran terus menerus, mengingatkan, juga memberi pengertian, anak-anak akan bisa patuh melaksanakan prokes.

Hal ini disampaikan oleh dr. Grace Hananta, salah satu pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’, Senin (8/11). Selain Grace, yang juga menjadi narasumber talkshow tersebut adalah dr. Piprin Basarah Yanuarso (Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI), dr. Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksin Covid-19).

“Saya melihat banyak anak-anak usia 1,5-2 tahun sudah pandai menggunakan masker. Mereka tetap memakainya meskipun tengah bermain dengan teman-temannya. Itu juga terjadi pada anak-anak saya yang masih usia 3,5 tahun dan 5,5 tahun. Mereka sangat disiplin memakai masker, bahkan kadang mengingatkan orangtuanya,” ungkap dr. Grace yang rajin mengkampanyekan prokes di media sosial miliknya.

Advertisement

Menurut Grace, sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, dia telah mengajarkan anaknya yang kala itu—anak bungsu—baru berusia 2 tahun untuk memakai masker.Namanya anak-anak, memang tidak mudah. Namun asalkan orangtua telaten mengajarkannya, melakukannya secara berulang-ulang, termasuk memberi pengertian, pasti bisa. Ajaran yang dilakukan berulang kepada anak, akan masuk dalam pikiran mereka dan anak akan menurut orangtua.

“Jadi peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menaati prokes. Bukan hanya mengajarkan dan memberi pengertian, tapi juga memberi contoh. Jadi orangtua pun harus taat prokes, anak-anak melihatnya,” tutur Grace sembari menyarankan, bahwa yang terbaik adalah memberi pengertian pada anak bukan menakut-nakuti.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Piprin Basarah Yanuarso, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya, anak-anak jika diajarkan dengan telaten, mereka pasti bisa memakai masker.

BACA  Kasus Kematian Kelompok Anak Didominasi Balita

“Saya memiliki pasien kecil-kecil, usianya 1-1,5 tahun. Tapi mereka sudah pintar memakai masker. Sampai-sampai saya tanyakan, kok pintar betul anak ibu memakai masker. Para ibu menjawab, itu karena mereka mengajarkan anak secara terus menerus,” jelas Piprin.

Jadi kuncinya ada pada orangtua. Jika anak diajarkan secara terus menerus, juga diberi penjelasan, mereka akan menurut pada orangtuanya. “Kita (orangtua) bisa mengajarkan anak-anaknya untuk menjalani prokes, utamanya ketika berada di luar rumah (outdoor). Tapi saya ingatkan, sebaiknya, kalau tidak perlu sekali, tidak usah keluar rumah.

Advertisement

Vaksinasi Anak Sangat Penting
Selain prokes yang melindungi anak dari penyakit, kata dr Piprin, juga diperlukan vaksinasi Covid-19 untuk anak. Pihak IDAI, ujarnya, sangat menyambut baik keputusan memperluas vaksinasi yang sebelumnya usia 12-17 tahun, menjadi 6-11 tahun.

“Pada prinsipnya anak-anak yang bertubuh sehat tanpa komorbid, dibolehkan untuk vaksinasi. Kecuali, dalam beberapa kasus berat misalnya anak yang sedang infeksi berat, demam akut, sedang dirawat karena pneumonia, kanker dengan pengobatan sitostatiska dosis tinggi. Atau, anak yang menderita penurunan imunitas seperti HIV berat atau imunodefisiensi berat,” paparnya.

Untuk anak-anak yang memiliki masalah kronik, asalkan terkontrol dengan baik, seperti penyakit jantung bawaan misalnya, atau leukemia, itu bisa konsultasi dengan dokter anak yang biasa merawatnya guna mendapatkan surat keterangan layak vaksin.

Jadi, tandas dr Piprin, pada prinsipnya kebanyakan anak bisa divaksin. Karenanya, para orangtua jangan khawatir. “Insyaallah vaksinasi Covid ini aman. Bahkan beberapa studi terkait efek sampingan, itu jauh lebih ringan daripada orangtua. Efektivitasnya pun lebih tinggi dibanding orang dewasa,” jelasnya.

Sempat, kata Piprin ada yang menyebut ‘Buat anak kok coba-coba’. Hal ini tidak benar. Vaksinasi anak bukan coba-coba karena telah melalui uji klinis fase 1 dan 2. “Jadi bukan coba-coba. Justru kalau orangtua tidak membawa anak-anaknya untuk divaksin, malah mereka coba-coba,” katanya.

Advertisement

Efek sampingan pasca vaksin biasanya bersifat local. Seperti; agak demam, nyeri di sekitar bekas suntikan. Berdasarkan survey, sekitar 4-5% mengalami agak demam, 90% nya tidak mengalami efek sampingan.

BACA  Korban bisa jadi Pelaku Baru Pedofilia

“Kalau anak masih ceria saja, masih lari ke sana-kemari. Kemungkinan anak tersebut oke-oke saja. ‘Sumeng’ sedikit, tapi dia masih lincah, orangtua tak perlu terlalu khawatir. Anak memahami bahasa tubuhnya. Karena kalau dia memiliki masalah serius, dia akan diam, tidak aktif,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar orangtua melakukan observasi terhadap anaknya sebelum maupun setelah divaksin. Mempersiapkan anak dengan baik. Seperti, mengingatkan anak agar cukup beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan baik sebelum dan sesudah vaksin.

Anak Rentan Terhadap Infeksi
Dalam kesempatan itu dr.Grace juga mengingatkan kepada orangtua tentang pentingnya vaksinasi pada anak. “Selain prokes 3 M 5 M, vaksinasi penting sekali. Karenanya saya sangat bersyukur dengan adanya keputusan penggunaan darurat vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun. Anak saya belum mencapai usia itu, tapi tahun depan dia akan 6 tahun, jadi sudah bisa mendapatkannya,” kata Grace.

Anak-anak, lanjut Grace, rentan terhadap infeksi. Jika terpapar Covid-19, mereka cenderung menjadi OTG (orang tanpa gejala). Karenanya penting bagi anak untuk bisa segera mengakses vaksinasi, selain untuk melindungi dirinya juga keluarga. Apalagi sekarang ini pembelajaran tatap muka sudah mulai digelar secara bertahap di sekolah-sekolah. “Jadi kami orangtua sangat menunggu adanya vaksinasi anak usia 6-11 tahun,” ucap wanita cantik ini.

Advertisement

Imunitas anak, tambahnya, belumlah sebaik orangtua. Anak usia di bawah 5 tahun yang terkena Covid, memiliki risiko meninggal hingga 50%. Karenanya penting dilakukan antisipasi dengan vaksinasi. Prokes dan vaksinasi adalah cara untuk melindungi diri dan keluarga dari Covid-19.

BACA  Tegas dan Suka Bercanda, Guru Idola Siswa

“Kita para orangtua bisa menjaga kesehatan anak dengan baik. Yakni dengan mengajarkan anak disiplin prokes. Juga memberi mereka vaksinasi. Masker atau prokes melindungi dari luar dan vaksinasi melindungi dari dalam. Dengan begitu kita juga anak-anak sehat dan bisa melewati pandemic Covid ini dengan baik,” katanya.

Terkait vaksinasi terhadap anak usia 6-11 tahun, Juru Bicara Kemenkes untuk vaksin Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, saat ini tengah dipersiapkan petunjuk teknisnya. Data sementara peserta yang akan divaksin sekitar 26-27 juta anak. Itu artinya diperlukan dosis tambahan.

Nantinya, anak-anak usia 6-11 tahun akan memperoleh vaksin Sinovac dua dosis. IDAI merekomendasikan dosis yang diterima anak-anak sama dengan dosis yang diterima orang dewasa. Rentang waktu antara dosis pertama dan kedua 28 hari. Cara pendaftaranya, sama seperti vaksinasi-vaksinasi yang sudah dijalankan selama ini yaitu, system vaksinasi satu data. Diperlukan nomor induk kependudukan (NIK) anak.

“Jadi mumpung vaksinasi anak 6-11 tahun belum berjalan, para orangtua mulai sekarang melakukan persiapan, khususnya terkait administrasi. NIK anak ada di kartu keluarga. Jika anak belum memiliki NIK, agar segera ke kelurahan atau kecamatan setempat untuk mengurusnya. Karena NIK itu dipakai sebagai identitas saat kita memulai vaksinasi,” jelas Nadia seraya menambahkan kegiatan vaksinasi ini rencananya bekerja sama dengan sekolah-sekolah.

Advertisement

“Biasanya anak akan lebih termotivasi jika dilakukan di sekolah, ketimbang di Puskesmas. Karena di sekolah ada teman-temannya. Anak akan melihat teman-temannya divaksin,” katanya.

Selain itu, lanjut Nadia, vaksinasi juga akan dilakukan pada anak penyandang disabilitas. “Kita akan kerja sama dengan sekolah luar biasa juga komunitas-komunitasnya. Sedang untuk anak yang tidak berada di bangku sekolah, kita akan kerja sama dengan Dinas Sosial. Misalnya anak jalanan, dsb,” paparnya panjang lebar. (Diana Runtu)

Continue Reading

Bunda & Ananda

Ny. Putri Koster Ingatkan Pentingnya Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menekankan pentingnya fase tumbuh kembang anak-anak sejak dalam kandungan, sehingga hendaknya bukan hanya saat anak lahir baru dipersiapkan oleh orang tua. Karena, hal ini juga menjadi indikator pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak-anak sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Prov Bali yang bertemakan ‘Melindungi Anak-Anak Bangsa Menuju Indonesia Maju’ secara virtual dari Jayasabha, Denpasar, Sabtu (31/7).

Pada webinar mengangkat topik ‘Peranan Keluarga di Masa Pandemi dalam Membangun Indonesia Maju’ ini, Ny. Putri Koster bahkan mengatakan jika dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas, cerdas, berakhlak mulia serta berbudi pakerti yang luhur, sejatinya juga harus disiapkan oleh calon orang tua sejak remaja. “Nah ini seperti rantai, kita menyiapkan para remaja putra dan putri kita untuk siap menjadi orang tua yang bisa mencetak generasi penerus yang sehat jasmani dan rohani. Jika rantai ini terus terjaga tanpa jeda, niscaya Indonesia akan dipenuhi oleh generasi bangsa yang berkualitas,” ujarnya.

Advertisement

Pendamping orang nomor satu di Bali itu juga mengatakan, TP PKK yang diketuainya juga sedang menggalakkan program pencegahan stunting pada anak-anak. Dalam webinar ini juga sangat berkaitan dengan program tersebut.

BACA  Kenalkan Budaya sejak Dini

“Webinar ini sangat berkaitan dengan program kerja kami. Karena, ketika kita bisa menyiapkan sedini mungkin bahkan selama dalam kandungan anak-anak kita, secara bersamaan juga bisa mencegah stunting,” ungkapnya.

Ia pun menegaskan, ini menjadi peranan seluruh komponen dalam menyiapkan tumbuh kembang anak-anak, baik orang tua, aparat desa hingga pemerintah demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka.

“Terutama bagi orang tua, sejak anak-anak remaja persiapkan mereka menjadi orang tua yang baik bagi calon anak mereka. Untuk aparat desa, pantau terus lingkungan sekitar, jika memang dirasa ada yang aneh terutama anak-anak kita, laporkan dan ambil tindakan. Jangan pikir anak-anak sudah di rumah aman-aman saja. Kekerasan juga terkadang ada di rumah,” imbuhnya.

Selain tumbuh kembang anak, Ny. Putri Koster juga berpesan tentang bahaya narkoba serta ancaman pedofilia pada anak-anak. “Ini pentingnya peranan dari orang tua serta keterlibatan lingkungan anak-anak dala menjaga generasi penerus kita,” tambahnya dalam acara webinar yang turut dihadiri sekitar 400 peserta. Ia mengatakan penting sekali juga para orang tua untuk mendapat edukasi, agar bisa menghindarkan anak-anak dari ancaman-ancaman tersebut.

Advertisement

Sementara Ketua PDSKJI Bali dr. Ida Bagus Wisnu Wardana mengatakan webinar kali ini bertujuan untuk mengedukasi para orang tua serta lingkungan tempat tinggal anak supaya bisa menjaga serta membesarkan anak-anak dengan baik di tengah pandemi. Ia mengakui, memang banyak tantangan dalam menghadapi anak-anak apalagi selama pandemi ini. Ia pun berharap melalui webinar kali ini bisa memberikan inspirasi dan masukan bagi para orang tua.

BACA  Yuk, Melukis di Atas Baju Kaus

Webinar pagi itu menghadirkan narasumber Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS; dr. Dewa Ayu Shinta Widari, SpKJ, MARS; dr. I Dewa Gede Basudewa, SpKJ; dan Dr. dr.  Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ.

Sebagai penutup, tak lupa Ny. Putri Koster menyimpulkan ujung dari pembentukan karakter adalah keluarga. Sehingga ia mengajak para orang tua, terutama para ibu untuk mulai memperhatikan tumbuh kembang mental anak-anak. Ia juga berharap agar acara seperti ini bisa sering diadakan karena sangat berguna bagi keluarga.

Pada akhir acara, Ny Putri Koster juga berkesempatan menampilkan puisi bertajuk ‘Aku Melihat Indonesia’ yang ia bacakan di panggung terbuka Ardha Candra, Art Center. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren