Bunda & Ananda

PENYAKIT CACAR AIR PADA ANAK

dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera,

Penyakit cacar air adalah penyakit yang sering terjadi di masyarakat terutama pada anak-anak. Bila mendengar penyakit cacar air, sering kita merasa ngeri dan takut, karena terbayang wajah yang bopeng dengan bekas-bekas luka yang kehitaman. “Sebenarnya bila penyakit cacar air tidak disertai komplikasi, maka penyakit ini hanyalah penyakit virus yang ringan dan dapat hilang tanpa bekas,” ujar dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera.

Cacar air atau yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan varicella adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Penularan terutama melalui kontak langsung, dengan cairan pernafasan maupun kontak langsung pada kulit, dan dapat terjadi walaupun jarang melalui kontak yang tidak langsung melalui udara.

Cacar air dapat mengenai semua kelompok umur termasuk bayi baru lahir. “Tetapi hampir sembilan puluh persen kasus mengenai anak di bawah umur 10 tahun dan terbanyak pada umur 5-9 tahun,” jelasnya.

Hal ini dikatakannya mungkin disebabkan karena sistem kekebalan tubuh pada anak-anak yang masih labil sehingga mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh virus. Selain itu karena pada usia tersebut anak mulai masuk sekolah sehingga kontak dekat dengan penderita memudahkan penularan penyakit cacar air ini.

Pasien dapat menularkan penyakit mulai 24-48 jam sebelum lesi kulit timbul, sampai semua lesi timbul keropeng, biasanya sekitar 7-8 hari. Sebenarnya seumur hidup seseorang hanya satu kali menderita cacar air, karena jika sudah terkena penyakit ini maka akan terbentuk imunisasi alamiah. Tetapi kadang-kadang penderita akan mengalami serangan kedua dengan gejala yang mirip dengan cacar air yang disebut dengan herpes zoster. Hal ini bisa terjadi karena setelah infeksi virus ini, varicella zoster tidak akan hilang sepenuhnya dari tubuh penderita. Virus akan tidak aktif dan menetap di saraf. Virus dapat aktif kembali jika sistem imun atau kekebalan tubuh penderita rendah dan akan muncul gejala-gejala yang mirip cacar air, padahal sebenarnya itu merupakan gejala dari herpes zoster atau yang kita kenal dengan cacar ular.

Virus varicella-zoster adalah salah satu dari 8 jenis herpes virus dari family herpesviridae yang merupakan virus DNA alfa herpervirus. Virus ini masuk ke dalam tubuh terutama melalui kontak langsung dari lesi kulit atau melalui kontak cairan saluran pernapasan. Setelah masuk ke dalam tubuh, lalu virus ini memperbanyak dirinya (bereplikasi). Proses replikasi virus terjadi di kelenjar limfe lokal selama 2-4 hari diikuti dengan dilepaskannya virus ke dalam sirkulasi darah (viremia primer) yang terjadi 4-6 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Virus lalu bereplikasi di hati, limpa dan organ lain. Virus kembali dilepaskan ke dalam sirkulasi darah (viremia sekunder). Pada viremia sekunder terutama terjadi penyebaran partikel-partikel virus ke kulit. Proses ini terjadi sekitar 14-16 hari setelah kontak. Setelah terjadi viremia sekunder, timbullah lesi vesikuler yang khas.

Gejala penyakit cacar air biasanya mulai timbul dalam waktu 14-16 hari setelah terinfeksi. Gejala penyakit cacar air yang terjadi pada anak umumnya lebih ringan bila dibandingkan dengan orang dewasa. Pada awalnya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lesu, dan lemah yang merupakan gejala khas dari infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan keluhan nyeri sendi, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan ataupun pembesaran kelenjar getah bening di leher bagian belakang. Beberapa hari kemudian muncul bintik-bintik merah datar yang dimulai dari badan kemudian menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Kemudian bintik tersebut menonjol, membentuk lepuhan berisi cairan yang disebut vesikel. Vesikel ini biasanya terasa gatal, sehingga dapat tergaruk secara tidak sengaja. Jika vesikel dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap. Bercak ini lama kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi. Lain halnya jika vesikel tersebut dipecahkan. Keropeng akan segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. Kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka tersebut, dan setelah mengering bekas cacar air tadi akan menimbulkan bekas yang dalam. Terlebih pada penderita dewasa, dimana bekas cacar air akan lebih sulit untuk dihilangkan. Ruam ini akan muncul secara bertahap selama 3-4 hari sehingga pada puncak masa sakit dapat ditemui ruam dalam semua tahapannya baik itu berupa bintik kemerahan, vesikel maupun keropeng. Selain di kulit, ruam juga dapat muncul di selaput lendir (mukosa) misalnya pada bagian dalam mulut atau vagina. Umumnya ruam membutuhkan sekitar 7-14 hari untuk sembuh.

Penyakit cacar air sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pemberian pengobatan apapun. Pengobatan yang diberikan biasanya bersifat simptomatis atau hanya untuk meringankan gejala yang timbul. Pemberian obat antivirus masih kontroversial dan hanya dianjurkan diberikan pada penderita cacar air dengan komplikasi yang berat, cacar air pada bayi di bawah usia 28 hari, maupun cacar air pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Meskipun demikian menurut beberapa penelitian, pemberian antivirus pada anak yang menderita cacar air dapat mengurangi lamanya demam dan jumlah ruam yang ada, bila dilakukan dalam jangka waktu 48 jam setelah muncul ruam.

Salep antivirus (acyclovir) dapat diberikan untuk bintik cacar yang baru agar tidak menyebar ke area sekitarnya. Anak dianjurkan untuk istirahat (tirah baring), dan diberikan banyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Untuk menurunkan demam sebaiknya diberikan parasetamol, sedangkan untuk mengurangi rasa gatal, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga diberikan bedak salisil, calamine lotion ataupun lotion yang mengandung menthol. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar jangan sampai luka terinfeksi bakteri dengan selalu menjaga kebersihan kulit.

Anak boleh dimandikan bila tidak demam, dan pada saat mengeringkan badan sebaiknya menggunakan handuk yang lembut agar vesikel tidak pecah. Setelah masa penyembuhan cacar air, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral, konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C dan E serta penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra.

Pencegahan penyakit cacar air dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi pada anak. Di Indonesia sendiri, cacar air tidak termasuk dalam daftar imunisasi wajib untuk anak, tetapi tetap dianjurkan. Imunisasi sudah dapat diberikan sejak anak berusia 12 bulan, namun mengingat kejadian cacar air di Indonesia terbanyak terjadi pada anak yang telah bergaul dengan anak seumurnya (awal sekolah) dan penularan terbanyak terjadi pada saat usia sekolah, maka imunisasi dianjurkan diberikan mulai usia masuk sekolah, yaitu 5 tahun. Imunisasi ini juga dianjurkan bagi orang di atas 12 tahun yang tidak mempunyai kekebalan. Apabila diberikan setelah anak berusia 12 tahun, maka imunisasi perlu diberikan 2 kali dengan jarak minimal antara pemberian pertama dan kedua selama 4 minggu.

Berdasarkan penelitian, imunisasi varicella dapat memberikan perlindungan hingga 20 tahun setelah diimunisasi. Pemberian imunisasi ini efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat. Akan tetapi, sekitar 15-20% anak sehat yang diberikan imunisasi ini tetap terkena varicella, tetapi dengan gejala yang ringan, dimana tidak ditemukan demam, ruam kulit yang lebih sedikit, dan keluhan lain juga lebih ringan. Selain itu penyakit cacar air pada anak yang sudah mendapatkan imunisasi juga jarang menular kepada orang lain yang belum terkena cacar air.

Penularan cacar air juga sangat mudah terjadi dan dapat menyebar dengan cepat. Langkah pencegahan penyebaran pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengisolasi penderita cacar air dari tempat-tempat umum seperti misalnya sekolah atau kantor. Selain itu jika kita tinggal bersama pengidap cacar air, penularan dapat kita cegah di antaranya, dengan mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak dengan penderita; mengenakan masker; menggunakan cairan pembasmi kuman untuk menyeka benda atau permukaan yang mungkin terpapar virus; mencuci baju atau seprai penderita secara terpisah; menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan yang bergizi, minum air putih 7-8 gelas perhari dan istirahat cukup. (Inten Indrawati)

To Top