Kolom

NAGA MAS: (Kritik 3)

Larut malam baru Bu Amat pulang. Amat yang sudah tak sabar menunggu keadaan Bagus yang tak bagus itu, langsung menerkam.
“Bagaimana? Mereka kecewa Bapak tidak datang?”
“Untung Bapak tidak datang!”
Lho kok untung, kenapa?”
“Bagus ngamuk. Dia menuduh Bapak melaporkan dia ke polisi!”
Amat terkejut.
Kok jadi putar-balik begitu? Apa urusan kita, apa untung kita melaporkan Bagus? Bapak tahu juga, tidak! Itu kan info dari Ibu!”
“Ya. Sebab polisi datang memeriksa rumah Pak Alit, mencari kalau ada narkoba.”
“Dan ketemu?”
“Tidak.”
“Jadi kalau begitu, Bagus bukan pecandu narkoba, dong!”
“Ya, memang itu maunya Pak Alit!”
Amat tertegun.
“Bingung, kan?!”
Amat tak menjawab. Bukan bingung. Tapi heran kenapa ia jadi nyangkut ke dalam persoalan keluarga Pak Alit. Ia memang tak pernah ngomel meskipun sering direcoki warga dengan alasan dia orang tua yang disegani. Arif-bijaksana, penuh pengertian Tapi begitulah, jadi sering dilibatkan dalam persoalan orang lain. Karena pasti mau dan tak marah.
“Jadi Pak Alit sendiri yang sudah melaporkan kepada polisi, Bagus itu pengguna narkoba?”
Sekarang Bu Amat terkejut. Ia menatap suaminya heran.
“Siapa yang bilang Pak Alit yang melaporkan putranya sendiri ke polisi?”
“Bapak.”
Kok bapak bilang begitu?”
Amat tersenyum.
“Habis kata Ibu, Bagus, menuduh Bapak yang melaporkan dia. Itu pasti informasi dari bapaknya. Karena pasti Bagus curiga, narkoba-narkoba yang disembunyikannya tiba-tiba semua hilang. Itu sebabnya dia marah dan memaki bapaknya anjing. Ya, kan?”
Bu Amat tercengang. Ia seperti bukan berhadapan dengan suaminya, tapi Naga Mas. Detektif lokal dalam cerita spionase di majalah “Terang Bulan” tempo doeloe.
“Bapak kok seperti Naga Mas?”
Amat tertawa.
“Bu, Pak Alit itu tahu anaknya ketagihan narkotika. Ia juga tahu, lambat laun polisi akan menangkapnya. Sebelum itu terjadi, dia bertindak, menyelamatkan putranya dari penangkapan dan sekaligua  memaksa Bagus jera. Lalu dia laporkan anaknya ke polisi, tapi terlebih dahulu melenyapkan barang bukti. Jadi di mata polisi,  Bagus bersih, jadi tak ada alasan untuk menangkapnya. Dan Bagus sendiri setelah rumah digeledah pasti jera. Tidak akan berani lagi mengulangi perbuatannya! Betul, tidak?”
Bu Amat masih tetap  bengong. Ia tak menjawag. Dan ketika Amat tertawa bangga mengagumi analisanya, ia hanya geleng-geleng kepala.
Pagi-pagi esoknya, Pak Alit dan Bu Alit serta Bagus muncul. Bagus menyandang tas gendong seperti mau berangkat.
“Pak Amat, maaf pagi-pagi kami mengganggu. Bagus mau pamitan.”
Amat yang sudah kaget karena kehadiran keluarga Pak Alit tambah bingung.
“Mau ke mana, Pak Alit?”
“Mau ke tempat rehabilitasi, dia sudah sadar. Ayo bicara, Gus, katanya tadi mau pamitan.”
Bagus mendekat. Lalu bicara sambil menundukkan kepalanya.
“Saya minta maaf, Pak Amat. Maafkan kesalahan saya. Dan terima kasih sudah melaporkan saya, sehingga saya jadi sadar. Siapa lagi yang akan mau memperbaiki saya kalau bukan Pak Amat.”
Bagus menjangkau tangan Amat bersalaman. Menyusul Pak Alit mengguncang tangan Amat dengan gembira.
Amat hanya bengong. Tak bisa mengatakan apa-apa karena bingung. Bu Amat mendekat sambil berdesis: “Naga Mas!”

To Top