Kreasi

Tari Tarunajaya nan Digjaya

Suara gamelan Bali yang renyah, terdengar berkecipak dari sebuah gedung modern di jantung kota Singapura. Dari Victoria St, jalan utama Negeri Singa itu, bunyi gamelan itu semakin jelas menguak dari L1 Plaza, National Library Building. Seorang penari Bali, di atas panggung, membawakan tari Tarunajaya dengan iringan gamelan rekaman.

Kamis (18/5) adalah pembukaan perhelatan yang bertajuk Asian Festival of Children’s Content (AFCC) yang tahun ini fokus mengetengahkan tentang Indonesia. Tari Tarunajaya khusus diboyong dari Pulau Dewata yang disuguhkan oleh Sri Ayu Pradnya Larasari (19),  penari Bali yang memiliki spesialisasi tari yang telah tercipta pada tahun 1950 tersebut.

Larasari yang akrab disapa Laras tampil penuh pesona di hadapan ratusan penonton. Tempat pementasan yang dikelilingi oleh stand pameran buku itu yang sebelumnya hening, menjadi gegap oleh suara gamelan. Pengunjung yang asyik menyimak beragam buku mengalihkan perhatiannya  ke panggung, menyaksikan sarat minat pada sajian tari Tarunajaya, seni tari karya I Gede Manik dari Bali Utara ini. Seusai pementasan, begitu turun dari panggung, sejumlah penonton tak menyia-nyiakan kesempatan berfoto bersama Laras.  Bagaimana totalitas seorang seniwati muda Bali ini menggambarkan semangat seorang remaja mengarungi kehidupannya yang dikisahkan dalam tari Tarunajaya, kemungkinan membuat penonton yang banyak mengaku baru pertama menonton tari Bali, terkesan dan dengan antusias mengerubungi Laras.

Pengalaman menunjukan, sajian tari Tarunajaya di mancanegara, sering berhasil menggugah penonton. Sementara, di tengah masyarakat Bali sendiri, tari Tarunajaya masih dikagumi hingga hari ini. Pementasan tari lepas yang sering digelar dalam berbagai kesempatan, sering menampilkan tari yang melenggang energik ini. Bahkan Tarunajaya biasanya ditempatkan sebagai nomor penampilan pamuncak. Di kalangan para penabuh gamelan, mengiringi tari Tarunajaya, kendati cukup melelahkan karena sebagian besar berungkap keras dan cepat, namun sangat disukai. Antara aspek tari dan iringannya, dalam tari Tarunajaya, terajut dalam interaksi yang responsif.

Tari Tarunajaya berembrio dari tari Kebyar Legong. Kebyar Legong lahir dari euforia munculnya gamelan Gong Kebyar yang lahir pada tahun 1915 di Bali Utara. Adalah seorang seniman dari Desa Jagaraga, Buleleng, I Wayan Peraupan yang lebih dikenal dengan sebutan Pan Wandres, pada tahun 1920-an berhasil menciptakan tari dengan iringan gamelan Gong Kebyar yang disebut Kebyar Legong. Tambahan nama Legong diduga karena pada bagian tengah tari itu memasukkan sejenis tari Legong, tari klasik Bali Selatan yang saat itu sudah berkembang ke seluruh Bali. Pada awalnya, Kebyar Legong dibawakan oleh  penari pria. Salah satu penari Kebyar Legong yang kemudian memadatkan tari ini menjadi Tarunajaya adalah I Gede Manik.

Pemberian nama Tarunajaya ada ceritanya.  Pada suatu hari, Presiden Sukarno, mengundang seniman dari Buleleng untuk mementaskan Gong Kebyar beserta tariannya di Istana Tampaksiring. Seusai menyajikan tabuh kebyar, ditampilkanlah tari Kebyar Legong. Kendati Bung Karno suka cita menyimaknya, namun proklamator itu berpendapat tari itu agak panjang jika ditampilkan untuk tamu kenegaraan, beliau menyarankan dibuat versi pendeknya. Kesempatan berikutnya, bertempat di Bali Hotel, Gede Manik menampilkan Kebyar Legong versi pendek, sekitar 11 menit, di hadapan Bung Karno yang sedang menjamu tamu-tamu kehormatannya. Sang Presiden yang peka dengan seni sangat menyukainya. Presiden I RI ini kemudian memberi nama  Tarunajaya.

Bagaimana dan kenapa Bung Karno memberi nama Trunajaya? Sebuah seni pentas yang bertajuk “Sirna Ilang Kertaning Bali” yang digelar 2016 di Sukawati, Gianyar, mencoba menutur-interpretasikannya dalam sebuah adegan. Pada suatu hari di tahun 1950, Bung Karno terkagum-kagum dengan sebuah tari ciptaan baru yang disaksikannya di Bali Hotel ketika menjamu tamu kenegaraan. Kepada I Gede Manik, sang pencipta tari itu, Bung Karno bertanya: “Pak Gede Manik, tari ciptaan bapak lain dari pada yang lain, bagus, bagus sekali! Tari apa namanya?” I Gede Manik menjawab polos, “Belum punya nama paduka presiden”. “Oh, begini Pak Manik, melihat dari gerak gerik semangat, dinamis dan lugasnya tari ciptaan bapak ini, aku melihat adanya gelora generasi muda yang pantang menyerah berjuang memajukan bangsanya. Oleh karena itu, tari ini aku beri nama Tarunajaya, setuju?”

Sebagai Bapak Bangsa, Bung Karno tidak hanya mengapresiasi nilai keindahan permukaan sebuah kesenian, namun juga dapat menangkap makna yang berkobar di belakang   tari Tarunajaya tersebut. Sebab, tari Tarunajaya-nya Gede Manik bersumber dari tari Kebyar Legong karya Pan Wandres, dimana kedua tari ini menguak  dari deru membuncahnya Gong Kebyar di Bali Utara, kawasan Bali yang paling awal merasakan tindasan  kaum kolonial. Gong Kebyar dengan tari kebyarnya adalah ekspresi counter culture terhadap penjajah Belanda. Tari Tarunajaya yang dikonstruksi emosional, lugas, tangkas, bisa jadi oleh Bung Karno dipandang sebagai representasi patriotisme nan heroik bangsa Indonesia dalam menggapai kemerdekaan dan berjuang penuh semangat memajukan negara dan bangsa. “Membawakan tari Tarunajaya, memang sangat terasa adanya semangat menyala-nyala, sejak awal dan semakin meninggi pada bagian akhir,” ujar Laras yang saat penutupan AFCC, Sabtu (20/5), diminta kembali naik panggung membawakan tari Tarunajaya, yang, turut disaksikan oleh Duta Besar RI di Singapura, I Gede Ngurah Swajaya. Kedigjayaan tari Tarunajaya, disambut tepuk tangan panjang. (Kadek Suartaya)

To Top