Bunda & Ananda

Belajar Bahasa Inggris yang Menyenangkan: 50 Persen Speaking, 50 Persen Grammar

Belajar bahasa Inggris gampang-gampang susah. Khususnya untuk anak, kita harus menyelami jiwa anak yang masih senang bermain. Hal tersebut diungkapkan Founder YNS, I Nyoman Edy Arta, S.S. Karena itu, ia menerapkan sistem harmonis dalam kursus bahasa Inggris yang ia dirikan sekaligus dikelolanya tersebut. Yakni 50 persen speaking dan 50 persen grammar. “Sehingga nantinya tak hanya nilai bahasa Inggrisnya saja yang bagus, tetapi speaking-nya juga bagus,” ujarnya.

Selama 16 tahun menjadi guru bahasa Inggris di SD hingga saat ini, tentu Edy Arta sudah paham betul bagaimana karakter anak-anak. Ia menyebut hal pertama yang harus diperhatikan adalah menenali usia anak. Anak dari tingkat TK sampai SD itu jiwanya masih bermain. “Karena itu pula, sistem dalam pengajaran dibuat biar anak-anak senang, yakni dengan menyediakan tempat senyaman mungkin dan ada tempat bersantainya,” ucapnya.

Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah anak harus sering dipuji supaya senang. Kalau sudah senang akan gampang memasukkan materi. Pengajaran di awal, berikan anak materi paling ringan dan diselipi lelucon-lelucon agar anak tertarik, baru kemudian ditransfer ilmunya. Biasanya pertamakali anak diajak reading (membaca). Selanjutnya belajar tata bahasa, seperti colourred-merah, blue-biru… Setelah mereka bisa membaca, baru diberi latihan. Contohnya: i like red..i like blue. Setelah anak mengetahui tata bahasa, dilanjutkan dengan speaking yang dilakukan berpasangan. Contoh: Hai Intan, what colour do you like? Teman satunya lagi menjawab: I like yellow. Demikian sebaliknya, anak saling bertanya kepada pasangannya.

Itu dikatakan Edy Arta hanya contoh sederhana. Berikutnya latihan ditambahkan lagi dikombinasikan dengan buah-buahan. Contohnya: What colour is the banana? Dijawab: Oh banana, it is yellow. “Kemudian mix lagi dengan sayuran (vegetables). Terus latihan speaking seperti itu sehingga anak terbiasa mendengarkan. Sehari minimal 80 persen harus speaking,” ucap alumni sastra Inggris Universitas Warmadewa ini.

Pada prinsipnya, belajar bahasa Inggris harus sering diulang. Ibaratnya seperti anak kecil yang belajar ngomong, belum bisa menulis. “Jika belajar bahasa Inggris harus diulang-ulang. Tidak boleh sekarang belajar number, besok belajar colour. Harus diulang sekarang belajar number, besok belajar number lagi, diingatkan lagi,” ingatnya.

Dalam pengajaran di YNS ini, tidak ada pembagian kelas sesuai levelnya. “Semua kami gabung, namun ditangani berbeda sesuai level kelas,” ujarnya. Contohnya, pada level bawah, anak akan disodorkan pertanyaan: what number is it? Pada level di atasnya,..how many students are there? What animal do you like? Dan, yang istimewanya lagi, setiap hari keterampilan mereka speaking direkam dan diupload di FB, sehingga anak-anak tambah bersemangat. Tak hanya itu, di tempat kursus ini mereka tak hanya belajar, mereka juga diajak menari supaya tidak bosan.

Edy Arta tak menyangkal bahwa keterampilan anak berbahasa Inggris tak terlepas juga dari lingkungan, selain dari faktor internal anak. “Di tempat les belajar bahasa Inggris hanya 1,5 jam, sementara waktu terbanyak di keluarga memakai bahasa bukan bahasa Inggris, ya bagaimana?” ucapnya. Karena itu pula, di tempat kursusnya itu, ia membebaskan anak untuk datang belajar kapan saja, bahkan setiap hari pun boleh.

TERAMPIL MULAI SD

Edy Arta mengisahkan, latar belakang mendirikan YNS ini dikarenakan pada zaman itu, tahun 2.000, dunia pariwisata masih bagus, banyak sarjana kerja di hotel. Sementara di jenjang pendidikan SD, pelajaran bahasa Inggris hanya sedikit tersentuh. “Melihat kondisi itu, hati saya terketuk bagaimana caranya agar anak-anak Bali yang terkenal dengan pariwisatanya ini, bisa terampil berbahasa Inggris. Dan, saya ingin tak hanya orang luar Bali yang memiliki kursus bahasa Inggris, namun orang lokal,” ucapnya.

Ia pun memberanikan diri membuka kursus bahasa Inggris YNS di tahun 2.000. Selama 5 tahun di awal, Edy Arta mengaku materinya masih mencopot sana-sini, dan masih sendirian mengajar. Baru setelah menginjak tahun keenam, YNS mulai memiliki sistem dan logo. “Intinya, saya ingin lebih banyak anak-anak Bali bisa menguasai bahasa Inggris. Karena itu, kursus di YNS saya patok dengan tarif murah tapi bukan murahan alias berkualitas, dan menyenangkan, terlebih dalam perekonomian sekarang yang sedang lesu ini,” ujar Edy Arta yang juga tergabung dalam Tim Pembuat Soal di Diknas Denpasar ini. (Inten Indrawati)

To Top