Kolom

BAGUS (KRITIK 2)

Kembali Bu Alit bertamu. Tetapi kali ini langsung menemui Amat. Minta maaf atas kelakuan Bagus.

Amat sendiri sama sekali tidak melihat tindakan Bagus tercela. Ia lebih menyalahkan dirinya.

“Bu Alit, putra Ibu itu anak muda yang karena usianya jadi berdarah muda. Mudah emosional! Gampang tersinggung dan marah. Tinju dan memukul bagi anak muda adalah perbendaharaan katanya yang masih sedikir itu. Berbeda dengan kita yang sudah tua. Kita selalu berpikir panjang lebar dulu menimbang-nimbang untuk urusan tetek bengek sekalipun. Kadang sampai ketinggalan kereta,” kata Amat sambil tersenyum.

“Jadi saya bisa mengerti, Bagus tentu marah, sebab saya sudah menyela ketika ia belum selesai bicara dengan mengucapkan kata: anjing. Padahal sebenarnya maksud saya bukan dia yang anjing, tapi saya, saya sendiri yang anjing, karena mengaku mendukung demokrasi tapi tidak mau dikritik. Jadi kelakuan saya itu yang anjing. Bukan Bagus. Bukan sama sekali! Hanya saja, saya terlalu cepat mengucapkannya, mestinya saya tunggu sampai Bagus selesai bicara. Jadi sebenarnya hanya salah paham, tidak ada yang harus dibahas.”

Diberi penjelasan seperti itu, Bu Alit justru tambah sedih. Ia pulang dengan menundukkan muka, nampak sangat malu.

Malam hari, datang Pak Alit. Dengan sangat sopan dia mohon agar Amat memaafkan kelancangan anaknya.

“Pak Amat, paradigma Bagus itu sudah direcoki oleh celotehan-celotehan facebook di dunia maya. Dia lupa mengganti paradigmanya waktu kembali dalam kehidupan nyata. Sekarang dia sendiri menyesal sekali oleh perbuatannya memukul Pak Amat. Apalagi tadi ibunya setelah selesai bertemu dengan Bapak menjelaskan bahwa, sebenarnya kata anjing itu bukan untuk dia, tapi kelakar Pak Amat terhadap diri sendiri. Bagus tambah menyesal,  dia malu. Dan tadi dia minum baygon mencoba bunuh diri, untung ketahuan lalu kami cegah!”

Amat terkejut.

“Bunuh diri?”

“Ya, Pak Amat, katanya sangat malu,  dia tak sanggup lagi akan bertemu Pak Amat.”

Amat bengong.

“Tapi itu bukan salah Bagus, itu kecerobohan saya sebagai orang tua!”

“Yah, saya dan istri saya sudah bilang begitu, Pak Amat. Tak mungkinlah Pak Amat akan marah karena beliau sangat bijak dan mengerti jiwa anak muda, kata kami berkali-kali. Tapi dia tetap saja seperti dikejar-kejar oleh perasaan berdosa. Saya khawatir jiwanya akan terganggu.”

Amat termenung.

“Kalau begitu, saya harus ketemu dan bicara dengan Bagus,” kata Amat sambil masuk kamar mau ganti pakaian.

Bu Amat yang nguping percakapan itu dari kamar langsung menahan suaminya.

“Jangan ke situ!”

Amat heran.

Lho kok jangan?”

“Ini sejak awal persoakan mereka, kenapa sekarang jadi persoalan kita?”

Lho, itu kan maksud Bapak juga begitu, tapi Ibu yang nyuruh Bapak ke sana. Sekarang ini sudah jadi persoalan kita.”

“Tidak, jangan pergi!”

Lho, Bapak tadi sudah bilang mau bicara dengan Bagus!”

“Jangan!”

“Anaknya minum baygon, mau bunuh diri karena merasa malu!”

“Bagus yang malu atau orangtuanya?”

Amat tercengang.

“Bagusnya dong! Dia yang malu bukan orangtuanya!”

“Bapak keliru!”

Kembali Amat bengong.

“Bapak keliru? Keliru bagaimana?”

“Sudah, Bapak di rumah saja, saya yang akan nemui Bagus, pemakai dan pengedar narkoba itu!”

Amat terpukau. Tiba-tiba semua jadi terang benderang. Ia terduduk di tempat tidur bengong. Sementara Bu Amat keluar menemui Pak Alit dan terus berangkat untuk mengurus Bagus.

“Nama Bagus mungkin terlalu berat buat putra Pak Alit,” gumam Amat, “Kadang nama mendongkrak tapi tak jarang  menjebloskan!”

To Top