Edukasi

Hipnoterapi Solusi Efektif Atasi Masalah Emosi

Seorang peserta sebut saja namanya Yuli diminta naik ke panggung. Dengan perintah dari pembicara, tiba-tiba saja perempuan itu lupa namanya sendiri karena sang pembicara sedang meminjam namanya. Kemudian, dengan perintah sang pembicara, tiba-tiba ia lupa  nama suaminya bahkan menganggap si pembicara  adalah suaminya. Karuan saja, adegan itu membuat peserta seminar lainnya tertawa terbahak-bahak.  Adegan itu hanyalah satu contoh hipnoterapi yang dibawakan Dr. Adi W. Gunawan., CCH dalam seminar Hipnoterapi Klinis, Solusi Efektif untuk Masalah Emosi dan Perilaku, di Kuta, pekan lalu.

Sebelumnya, ia meminta seluruh peserta seminar untuk menuruti perintahnya. Ia meminta semua peserta melekatkan ibu jari dan jari telunjuk seperti lengket terkena lem. Bahkan, sangat lekat sampai-sampai banyak peserta yang tak bisa melepaskan jarinya.  Dalam hitungan detik kemudian, ia  meminta peserta melepaskan jari mereka dan ternyata bisa lepas. Salah seorang peserta yang jarinya terlihat sangat lengket diminta ke depan yakni,  Yuli, yang datang bersama suaminya menjadi “kelinci percobaan” di panggung.   Alhasil, atraksi yang dilakukan A.W. Gunawan membuat peserta  makin bersemangat mengikuti seminar hipnoterapi tersebut.

Intinya, ia menekankan, hipnoterapi hanya bisa terjadi ketika klien mau dan menyetujui apa yang dilakukan dan percaya kepada si pemberi perintah. Kalau tidak, apapun yang diperintahkan, tidak akan berhasil.  Yuli, contohnya. Ketika ia tidak mempercayai si pemberi perintah, tak ada yang terjadinya padanya.  Pembicara tak bisa melakukan intervensi padanya.

Ia memberi contoh lain, ketika di jalanan ada yang melakukan aktraksi hipnosis  dan tiba-tiba ada orang yang di sekitarnya terkena hipnosis. Sangat dipastikan itu rekayasa atau pembohongan.  Karena ia menegaskan, hipnosis hanya bisa terjadi kalau klien memberi izin untuk dirinya dihipnosis.  “Selama ini masyarakat mendapat edukasi yang kurang tepat perihal hipnosis melalui televisi yang hanya mengidentikkan hipnosis hiburan dengan hipnoterapi, berpersepsi negatif terhadap hipnoterapi dan tidak memanfaatkan hipnoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujar pendiri Adi W.Gunawan Institute of Mind Technology  yang sudah mengeluarkan 22 buku ini.

Selama ini, banyak anggapan salah tentang hipnoterapi. Hipnoterapi bukan praktik supranatural.  Hipnoterapi bukan penguasaan pikiran. Saat  terjadi trance ketika ditanya dan alam bawah sadar memberikan izin,  hipnosis bisa terjadi. Kalau tidak diizinkan, tidak akan bisa. Hipnoterapi  tidak sama dengan tidur.  Hipnoterapi tidak dapat digunakan untuk mengubah kepribadian dasar. Hipnoterapi tidak mengakibatkan lupa ingatan dan hipnoterapi bukan cuci otak.

Apakah betul hipnoterapi bisa menyembuhkan? Apakah kesembuhan lewat hypnosis itu bersifat permanen? Apa saja masalah yang bisa diatasi dengan hipnoterapi? Apakah hipnoterapi bisa dilakukan pada anak-anak? Apakah ini bukan praktik menakutkan? Apakah semua terapisnya dokter atau psikologi? Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan sedikit dari banyaknya  pertanyaan masyarakat tentang praktik hipnoterapi.  Hipnoterapi masih menjadi  pendekatan yang belum familier bagi masyarakat kita. Mirip dengan gambaran psikiatri dan psikologi di benak awam ketika masyarakat masih menganggap psikiater adalah dokternya orang gila sedangkan psikolog bertugas mengurusi psikotes.

Sebagai konsep dan tujuan tertinggi kebahagiaan mencakup sejumlah unsur yang saling terkait yang salah satunya kesehatan, serta kesejahteraan mental dan psikologis.

Upaya mencapai kondisi bahagia dan sejahtera  di aspek mental dan psikologis dapat dilakukan dengan swadaya atau dalam kondisi tertentu dengan bantuan profesi pemberi bantuan  seperti psikiater, psikolog, konselor dll. Salah satu profesi pemberi bantuan yang saat ini berkembang pesat di Indonesia adalah hipnoterapis.

Hipnoterapis terdiri dari dua kata hipnosis dan terapi. Hipnosis adalah kondisi pikiran rileks, fokus, dan reseptif. Dengan demikian,  hipnoterapi sejatinya adalah terapi yang menggunakan beragam teknik yang dilakukan dalam kondisi hipnosis untuk meningkatkan hidup dan kesejahteraan individu.

Ia mengatakan, di dunia ini ada dua penyakit yakni sakit jiwa ranahnya psikiater dan orang normal tapi bermasalah yang bisa diobati dengan hipnoterapi. Bermacam penyakit medis juga bisa diobati dengan hipnoterapi.  Namun, ia menegaskan,  hipnoterapi merupakan pengobatan komplementer  yang bisa dilakukan berbarengan dengan pengobatan dokter. Misalnya, untuk pengobatan kanker.  Namun, untuk penyakit orang normal tapi bermasalah paling tepat diselesaikan dengan hipnoterapi misalnya, anak hiperaktif, sulit tidur, menstruasi sakit, alergi,  phobia, termasuk LGBT, pelecehan seksual dll.

Dalam prespektif neurosains, hipnosis adalah kondisi pikiran reseptif bercirikan gelombang otak, dominan alfa, theta, dan terutama delta. Kondisi pikiran reseptif memungkinkan klien mengakses memori (theta) dan emosi (delta) yang selama ini menjadi sumber masalahnya tanpa gangguan dan intervensi dari pikiran sadar (beta).  Terdapat lima cabang ilmu hipnosis, hypnosis hiburan, hipnosis klinis, hipnosis forensic, hipnoanestesi dan hipnosis ekperimen

Ia menyatakan, hipnoterapi telah mendapat pengakuan dan penerimaan dari berbagai asosiasi medis dan psikologi terkemuka dunia. British Medical Association adalah organisasi profesional pertama dunia yang mendukung penggunaan hipnoterapi untuk tujuan medis. Hipnoterapi sesuai dengan pernyataan Barios,  lebih unggul dibandingkan psikoanalisis dan terapi perilaku karena langsung bekerja di pikiran bawah sadar tempat tersimpan berbagai program pikiran dan emosi yang menjadi akar masalah yang berhubungan dengan atau yang menjadi penyebab berbagai gangguan emosi, perilaku dan penyakit psikosomatis. “Terapi pikiran bawah sadar penting dilakukan karena pengaruh pikiran bawah sadar sangat besar terhadap hidup manusia,” kata dosen di berbagai universitas di Surabaya ini.

Keunggulan hipnoterapi dalam menangani beragam masalah terutama yang disebabkan pengalaman traumatik dengan emosi intens didasarkan pada cara kerja hipnoterapi yang bersifat bottom up bukan top down seperti kebanyakan terapi bicara dalam psikoterapi. Rekaman memori akibat trauma tidak dapat diselesaikan dengan pemahaman atau pemaknaan ulang top down.  Solusi trauma butuh pendekatan bottom up yang mampu memasilitasi ekspresi emosi intens baik pada level fisiologis maupun psikologis.

Ia memberi beberapa contoh kasus. Hipnoterapi dalam menyembuhkan anak yang menderita alergi baru lahir. Ternyata, ketika diterapi terlihat saat dalam kandungan ibunya stres. Ayah dan anak tidak akur alias anaknya tidak suka dengan ayahnya. Ternyata, saat diterapi, ayahnya dulu pernah meminta ibunya untuk menggugurkan anak itu.

Emosi ibarat panci (pot) panas yang siap meledak yang mengakibatkan  dua  pilihan, RS Jiwa atau kuburan.  Bunuh diri masih dikatakan solusi,  karena merasa mati adalah salah satu solusinya. Sebelum emosi meledak namanya simptom. Inilah yang  bisa memicu asam lambung, migren, vertigo, alergi, susah tidur,  dll.  Pada saat kritis pot mental mengalami keretakan sehingga sebagian besar uap bisa keluar dan tekanan di dalam pot berkurang. Simptom menunjukkan jalan keluarnya.  Sumber ini yang menuntun untuk mencari  jalan keluarnya.  “Teknik sugesti cenderung hanya memotong sebagaian atas suatu masalah setelah itu masalah yang sama muncul. Sementara, hipnoterapi akan melakukan penyelesaian sampai ke akar masalah,” ujarnya.

Ia mengatakan, keunggulan hipnoterapi dalam menangani beragam masalah terutama yang disebabkan pengalaman traumatik dengan emosi intens didasarkan pada cara kerja hipnoterapi yang bersifat bottom up. (Wirati Astiti)

 

 

 

To Top