Kreasi

Wirasa, Wirama, dan Wiraga Lahirkan “Taksu”

putri suastini

Kesenian itu seperti kegiatan spiritual jadi harus dijalankan dengan penuh keyakinan hati. Ada nuansa suci, magis,  dan religius sehingga lelaku seni tidak bisa sembarangan dilakukan harus tepat dan  sesuai waktunya. Demikian disampaikan seniman Putri Suastini, saat didaulat menjadi pembicara  seminar lokal “Narasi Simbolik Cipta Seni di Bali”, di kampus ISI Denpasar, Senin (22/5).

Perempuan yang dikenal masyarakat Bali berkat perannya yang memikat  di acara drama klasik ini mengatakan, membaca puisi adalah anugerah. Bahkan, menurutnya, menjadi seorang seniman adalah makhluk Tuhan yang memiliki anugerah dari lahir. Jadi, dalam berkesenian perlu memancarkan ‘taksu”. Bagaimana taksu ini bisa muncul?

Ia mencontohkan, pernah ditodong membaca puisi secara mendadak. Ia sendiri belum pernah membaca puisi itu sebelumnya, bahkan mendengar orang lain membacanya juga belum pernah. “Kita harus belajar menghormati karya orang lain. Chairil Anwar saja membuat puisi “Aku” perlu waktu yang lama dan membuat berkali-kali coretan, untuk pendalaman.  Jadi, sebaiknya sebelum membaca puisi, kita harus sudah pernah membaca puisi itu sebelumnya dan melakukan pendalaman,” kata istri Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, I Wayan Koster ini.

Putri menegaskan, prilaku beretika dalam berkesenian sangat penting untuk memunculkan “taksu” tadi. Seniman harus menguasai 3 W, wirasa, wirama,  dan wiraga.

Salah satu contoh, saat ia membaca puisi berjudul “Padang Karma” karya Dhenok Kristanti. Puisi ini menggambarkan Dewi Durga yang penuh kasih sayang. Saking sayangnya, apapun yang diminta manusia dikabulkan, tapi risikonya ditanggung sendiri. “Saat membaca puisi ini, saya manfaatkan keterampilan saya menari dan bermain teater. Jadi terlihat lebih hidup. Membaca puisi ada unsur seni yakni memesona dan indah,” kata Putri Suastini.

Sebagai awalan dalam membaca puisi, ia biasa mengucapkan doa dengan mantram “Om awighnam mastu nama sidham”. Ia memohon kekuatan Tuhan untuk menyertainya dalam membaca puisi.

Putri sangat yakin, alam semesta mempunyai kekuatan untuk melahirkan “taksu”. Uniknya, ada kejadian menarik yang ia kisahkan. Waktu itu, ia sempat membacakan puisi yang membuat penonton kerauhan. “Ada penonton yang menari tak ada hentinya mengikuti puisi saya. Seolah-olah orang itu tahu kapan akhir dari puisi itu. Ketika saya mengakhiri otomatis orang tadi langsung berhenti menari dan pingsan,” kata perempuan yang menyabet penghargaan  di bidang seni tingkat Bali dan nasional ini.

Ada hal sederhana yang ia lakukan kalau itu terjadi. “Saya perciki air putih 11 kali dan orang yang kerauhan tersebut sadar. Ketika ditanya, orang itu tak bisa menjawab, ia hanya berkata seperti ada satu kekuatan yang mengerakkannya menari. Jadilah saya disebut penyair yang bisa menyihir,” ujarnya sembari tertawa yang disambut tepuk tangan para mahasiswa ISI Denpasar.

Ia mengatakan, lelaku seni harus menyampaikan kebaikan hati. Jadikan karya merupakan satu kebanggaan. Jangan takut  salah untuk memulai,  dan harus berani.  “Orang bilang kelebihan saya membaca puisi karena tidak sekadar membaca,  tapi  ada unsur teaterikal. Kebetulan saya menguasai teater dan menari jadi sangat mendukung saya membaca puisi di panggung.  Saya bahagia kalau penonton senang  menyaksikan pertunjukkan saya. Getarannya  akan saya serap dan saya pancarkan kembali rasa kebahagiaan tersebut,” katanya.

Ketika ada mahasiswa bertanya, bagaimana sinergi seni dan politik, ia mencoba berbagi.  Saat berkesenian yang ada dalam hati hanya keindahan. Sementara politik adalah strategi. Sinergi keduanya, seorang politik tidak menghalalkan segala cara untuk menyentuh konstituennya. Tapi ia melakukannya dengan indah dan penuh kasih sayang, tidak ada istilah  siapa yang kita habisi hari ini. Tapi akan muncul dalam diri, siapa dan dimana yang harus saya sejahterakan dengan kemampuan saya.  Dalam mencapai kekuasaan tidak harus menghancurkan orang lain. “Saya berprinsip, peran apapun yang dilakoni, harus selalu  ada kesiapan mental dan penyerahan diri dengan totalitas,” ujarnya memberi tips.

Ia mencontohkan saat ia bermain teater.  “Saat saya diserahkan naskah satu hari sudah habis saya baca dan besoknya pentas saya langsung sudah hapal. Saat take juga tidak perlu mengulang-ulang alias langsung jadi. Sutradara hanya sedikit mengarahkan karena diberikan  kesempatan untuk improvisasi,” tuturnya.

Ada satu lagi kiat sukses yang dibagi Putri Suastini. Ia tak mudah besar kepala dengan pujian. “Saya jadi ingat sutradara Anom Ranuara. Dia tidak pernah memuji walaupun saya bermain bagus. Dari sana saya banyak belajar, justru semakin dipuji saya semakin takut. Ketika dipuji, saya berpikir, benarkah saya seperti itu,” kata Putri Suastini.  Intinya, kata dia, berkesenian adalah satu persembahan kepada guru kita dan Tuhan.  Berkesenian harus dilakukan dari hati. (Wirati Astiti)

To Top