Bunda & Ananda

Bacakan Puisi Karya Anak

Ni Made Ariani dan Ngurah Arya

Anak-anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Indah dan tidaknya lukisan yang terbentuk di atas kertas sangat tergantung bentukan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya. Pembentukan kepribadian seorang manusia dimulai dari masa kanak-kanak. Karenanya untuk membentuk pribadi-pribadi yang cerdas sekaligus luhur, sejak kecil kehalusan budi anak-anak perlu diasah dengan memperkenalkannya pada karya sastra.

Dari karya satra, seorang anak tidak saja bisa memahami orang lain atau pencipta karya, tetapi juga bisa belajar mengekspresikan perasaannya. Salah satu karya sastra yang paling mudah dibawakan dan dipahami oleh anak-anak adalah puisi, terutama puisi yang diciptakan oleh anak-anak juga, yang sangat dekat dengan jiwa anak-anak.

Untuk menghaluskan jiwa anak-anak sekaligus untuk memberi ruang ekspresi pada anak-anak, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menyelenggarakan Lomba Membaca Puisi Tingkat SD, Rabu (24/5) di Wantilan Taman Budaya, Denpasar.

Salah seorang juri, Ngurah Arya Dimas Hendratmo mengatakan, pembacaan puisi sangat berhubungan dengan karya puisi, dalam artian seberapa jauh karya itu memberikan ruang kepada pembacanya. “Jadi yang paling pertama diperhatikan adalah pemilihan puisi, harus hati-hati dan betul-betul untuk anak SD. Sehingga  mereka bisa menggali dengan bisa mengangkat rasa anak-anak itu pada dirinya,” ujar Ketua JKP (Jatijagat Kampung Puisi) yang akrab disapa Dimas ini.

Ia menyampaikan, kadang-kadang dalam lomba ada puisi yang tidak ditulis tepat dan tidak disampaikan tepat, karena pemilihannya yang tidak tepat disampaikan di awal. “Puisi tepat, pembacaannya mengalir dengan indahnya. Sebenarnya ini keberhasilan dari penyelenggaranya,” ucapnya tersenyum.

Lebih lanjut Dimas mengatakan, yang menjadi point terbesar dalam penilaian pembacaan puisi khususnya puisi untuk anak, adalah penghayatan (wirasa). Tidak hanya pada anak-anak, namun pada tiga strata (anak, remaja, dewasa), hal yang paling utama dalah pada penghayatan. Menurutnya, puisi adalah milik semua kalangan. Karena, ketika vokal menjadi yang utama, puisi hanya milik mereka yang bervokal berat.

Ia menegaskan, sang penyair saat menuliskan puisi berharap bahwa rasa  itu yang paling utama. “Ketika menulis puisi, penyair tentu tidak membayangkan vokal pembacanya seperti apa. Tapi penyair membayangkan rasa adalah yang utama. Rasa  itu berhubungan dengan jiwa, seni berhubungan dengan jiwa, seni berhubungan dengan rasa. Seni tidak dibenturkan oleh vokal, seni tidak dibenturkan oleh kulit. Tapi disini dibenturkan oleh rasa, hal terbesar dalam penciptaan, hal yang paling utama,” ujar pelatih Teater Takhta.

Juri lainnya, Ni Made Ariani mengimbuhkan, biasanya kalau anak sudah masuk dalam penghayatan dan mendapatkan rasa, yang diawali dengan interpretasi puisi, dibaca, dihayati, didapatkan rasanya, dibacakan dengan tepat, dimunculkan rasanya, otomatis semuanya akan mengalir, baik itu irama, penampilan, gerak tubuh, semuanya mengikuti. Artinya harus dari penghayatan dulu keluar,” ujar Redaktur Tabloid Anak-anak Lintang ini.

Tapi untuk anak-anak, katanya beban kriterianya diturunkan lagi, karena kemampuan mengintepretasikan puisi antara anak-anak dan dewasa berbeda. Tetapi ia melihat sekarang ini anak-anak sudah cukup baik menginterpretasikan puisi, karena mungkin puisinya dari kalangan anak-anak sehingga mereka lebih mudah mencerna puisinya. “Jadi saya setuju dengan Dimas, bahwa hal yang utama adalah pemilihan puisi untuk anak-anak harus diperingan, disesuaikan usia agar anak lebih mudah menangkap, lebih mudah memasukkan perasaan mereka kesana, terutama sekali kebebasan anak-anak,” ucapnya.

Dengan begitu diharapkan anak bisa menyampaikan dengan ringan, tanpa beban, sehingga  bisa enjoy dalam membacakan puisi. Kita tidak bisa menuntut anak-anak sempurna. “Paling tidak mereka bisa menunjukkan keberanian, mengekspresikan kebebasannya. Improvisasi bisa saja yang penting tetap pada konteks penghayatan. “Paling tidak anak-anak bisa mengeksplor dirinya lebih bebas, karena ini tahap awal. Intinya anak-anak bebas, lebih ringan, tidak dituntut harus begitu begini. Bukan tidak mungkin, mereka malah menemukan gaya mereka sendiri,” tukasnya. (Inten Indrawati)

 

To Top