Kolom

KRITIK

Bu Alit curhat. “Bu Amat, masak anak saya sudah memaki bapaknya, anjing!”

Bu Amat tersirap.

“Putra ibu yang mana? Bagus Alit?”

“Ya! Si Bagus! Jelas-jelasan di depan saya! Untung di depan saya. Kalau misal di depan umum atau di depan Bapaknya sendiri, bisa jadi ramai!”

“Jadi Pak Alit, tidak tahu?”

“Untung tidak. Tapi saya khawatir juga, jangan-jangan sudah tahu, sebab kelakuannya agak lain sekarang.”

“Lainnya bagaimana?”

“Kelihatan sedih, susah, banyak ngelamun.”

Bu Amat segera menyampaikan info itu pada suaminya. Amat mendengar tenang-tenang saja. Rupanya ia sudah tahu.

Lho, kalau Bapak sudah tahu, kenapa tenang-tenang saja?”

“Habis harus bagaimana?”

“Itu kan bahaya! Bisa jadi modus tidak baik buat anak-anak dan orangtua yang lain di lingkungan kita ini!”

Amat ketawa.

“Jadi harus bagaimana? Pak Alitnya sendiri tidak apa-apa! Kenapa kita yang repot!”

Bu Amat marah.

“Siapa bilang tidak apa-apa?! Bu Amat yang biasa-biasa tenang itu sampai mengadu ke mari, Pak Alit banyak ngelamun sekarang! Itu kan tanda-tanda dia dapat tekanan batin. Bapak kan tahu sendiri Pak Alit ada gangguan jantung kan? Ayo bertindak!”

Amat terpaksa menyerah.

“Ya, sudah, besok tak tanyai Pak Alit!”

Kok besok, sekarang! Itu Bu Alit masih nangis di dapur, Bapak tidak kasihan?!”

Amat terpaksa meletakkan buku yang sedang dibacanya. Setelah salin pakaian ia langsung ke rumah Pak Alit.

Sebenarnya Amat sudah mendengar semua itu dari Pak Alit sendiri. Menurut Pak Alit itu adalah kenakalan anak zaman sekarang, yang banyak ditulari oleh apa yang ada di medsos seperti facebook.

“Bagus, anak saya ingin menirukan idolanya di FB yang memaki dengan anjing, cuma salah sasaran ke orangtuanya sendiri!” kata Pak Alit dua hari yang lalu pada Amat sambil ketawa. Itu sebabnya Amat tidak menanggapi masalah itu serius.

Di rumah Pak Alit tidak ada siapa-siapa, kecuali Bagus sendiri. Tapi begitu melihat Amat, Bagus langsung ngajak perang.

“O, jadi betul, Bapak saya sudah minta bantuan Bapak untuk interogasi saya?!”

Amat terkejut. Belum sempat menjawab, Bagus sudah menyusul dengan memaki.

“Dasar kolot! Zaman dulu memang orangtua itu dewa. Apa saja perintahnya tidak boleh dibantah. Tai pun kalau mereka yang suruh kita makan, harus dimakan! Anjing?”

Amat terkesiap.

“Kita ini negara demokrasi, Pak! Dalam demokrasi tiang utamanya kebebasan berpikir dan berpendapat! Kritik itu hak azasi yang menghidupi demokrasi! Kalau betul mau menegakkan demokrasi jangan melarang kritik! Melarang kritik, itu berarti menentang demokrasi. Pak Amat menentang demokrasi?”

Amat tidak segera menjawab, sebab ia lihat  masih ada sepenggal kalimat nyangkut di leher Bagus.

“Orang yang menentang demokrasi itu orang yang memusuhi HAM. Orang yang memusuhi HAM bukan orang tapi: anjing! Pak Amat orang atau anjing?”

Amat kaget langsung menjawab,”Bapak orang, karena Bapak mendukung demokrasi!”

“Kalau begitu Bapak bukan anjing, seperti Bapak saya!”

Amat bengong.

“Yang Bapak tahu, orangtuamu juga mencintai demokrasi. Jadi mereka juga bukan anjing.”

“Tapi mereka tidak suka kritik, jadi tidak suka demokrasi, jadi mereka anjing!”

Amat hampir mati langkah. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Kritik itu adalah telaah yang objektif, ilmiah dengan pertimbangan referensi dari dua tiga opini berbeda dan sama sekali tidak ada intervensi emosi!”

“Setuju Pak Amat? Tidak ada intervensi emosi!”

“Tapi anjing itu dalam tata bahasa Indonesia kata benda, kalau dipakai sebagai kata sifat, yang artinya seperti anjing, itu sudah 200 persen emosi. Apalagi kalau dengan sadar memakaikan kata anjing yang termasuk jenis binatang itu kepada manusia, kepada ayah atau ibu, itu jelas sudah 300 persen emosi!”

“Tapi itu kritik, Pak Amat! Untuk menunjukkan kekuasaannya yang sudah ketinggalan zaman! Kita kan negara demokrasi yang memuliakan kritik!”

“Kritik kita muliakan dengan bahasa yang baik, bukan luapan emosional! Itu sudah memaki!”

“Wah kalau begitu Pak Amat juga termasuk orang kolot yang tidak mau dikritik alias antidemokrasi.”

“Anjing!” potong Amat cepat, maksudnya melucu.

Bagus kaget, tersinggung dan langsung memukul. Amat mengelak reflek langsung memelintir mengunci lengan Bagus. Anak muda itu berteriak kesakitan.

“Waktu itu Pak Alit keluar dari persembunyiannya di kamar,” tutur Amat kemudian kepada istrinya, setelah kembali ke rumah.

“Jadi begitulah anak muda mengartikan demokrasi: boleh seenak perutnya memaki orang, tapi dia sendiri, padahal diajak guyonan, langsung mukul!”

To Top