Bunda & Ananda

Kenalkan Budaya sejak Dini

N. Arindri Dangkua, M.Psi dan Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum.

Riuh gelak tawa penonton membahana di areal Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar. Sore itu, TK Lingga Murti School dan TK Hindu Widya Kerti tengah mementaskan beragam kreativitas seni budaya anak-anak didiknya. “Pementasan ini sangat alami sekali, tidak dibuat-dibuat. Walaupun ada yang salah atau pakaiannya melorot, mereka tetap melanjutkan performance-nya, tetap ceria. Saya suka dan kagum pada bakat-bakat mereka,” ujar seorang ibu muda yang mengajak dua putrinya menonton dan sangat menikmati atraksi “Mepalyanan” yang ditampilkan oleh beberapa anak laki-laki dan perempuan.

Orangtua murid pun tampak antusias mengantarkan putra-putrinya. “Anak saya tidak bisa menari, bisanya bercanda. Anak saya yang ikut ‘Mepalyanan Goak Maling Taluh itu’,” ucap seorang Bapak sembari menunjuk peserta tercilik dari atraksi Mepalyanan yang cukup mengocok perut penonton tersebut. Ia mengatakan kegiatan ini sangat bagus dalam upaya mengenalkan budaya sejak dini dan untuk melatih mental anak tampil di depan orang banyak. Hal senada juga disampaikan Kepala Sekolah TK Lingga Murti School, AA Eka Yuliawati, S.Pd. “Pementasan semacam ini sangat bagus dilaksanakan kontinyu, apalagi untuk murid TK. Kita bisa mengenalkan kesenian Bali sejak usia dini supaya kesenian Bali semakin ajeg,” ucapnya.

BUDAYA SEBAGAI FILTER

Sebuah pementasan menjadi suatu wadah untuk anak-anak menampilkan bakat/kemampuan selain untuk menguji mental mereka. Namun jauh di balik itu, pengamat pendidikan Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. mengatakan pementasan tersebut terkait dengan pembentukan karakter yang dimulai sejak dini. “Ini proses pembiasaan supaya anak mengenal ragam budaya, yang nanti akan terpatri dalam jiwanya. Pembiasaan ini akan mengakar dan membentuk karakter anak,” ujarnya.

Aktivitas ini dikatakannya juga akan memayungi anak bagaimana menjadi orang yang memiliki karakter berbasis budaya. Di sana akan muncul logika, etika, dan estetika. Sehingga, ketika nanti anak menerima budaya asing, ia akan memfilter, memilih dan membedakan, budaya baik diambil, budaya yang tidak baik dibuang. “Inilah yang menjadi pendidikan karakter yang betul-betul membentengi anak memasuki dunia global. Karakternya budaya. Budaya ini bagian dari Bhinneka Tungal Ika. Jika itu sudah terbentuk, tidak akan mudah kena pengaruh yang bersifat negatif, karena kekuatan budaya itu sudah terbentuk, terbiasa dari kecil,” tegas Made Suarta yang juga Rektor IKIP PGRI Bali ini.

BANGUN SELF-ESTEEM ANAK

Menurut psikolog N. Arindri Dangkua, M.Psi., bagi perkembangan psikologis anak dan pertumbuhan mentalnya, kegiatan pementasan yang melibatkan tampil di depan publik bisa jadi pengalaman positif untuk memupuk rasa percaya diri dan membangun self-esteem anak. “Anak yang sejak kecil terbiasa untuk tampil di depan umum berdasarkan keinginannya sendiri tanpa paksaan dari orangtua biasanya punya rasa percaya diri yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak ikut kegiatan itu. Dalam konteks penampilan secara berkelompok, anak juga punya peluang untuk menumbuhkan sikap kooperatif bekerja sama dengan orang lain,” ujar Staf Ahli Divisi Recruitment, Assessment, Training Center di Pradnyagama yang akrab disapa Zeta Dangkua ini.

Kalau pementasannya bersifat kompetisi dimana anak dituntut untuk tampil sendiri secara individu, semakin sering ia memenangkan kompetisi tentu saja semakin meningkatkan rasa percaya diri anak akan kemampuannya. Di sisi lain, jika anak seringkali kalah dan tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar terutama orangtua, self-esteem nya akan pelan-pelan terkikis dan menjadi minder atau kurang percaya diri karena merasa kalah mampu dibandingkan dengan pemenang kompetisi.

Peranan orangtua dalam hal ini besar sekali, antara lain mendorong anak pada awalnya untuk berani ikut serta dalam pementasan. Apabila anak menunjukkan kebosanan dan tidak mau lagi ikut pentas, sebaiknya orangtua bersikap bijak untuk tidak memaksakan kehendak meskipun dengan dalih “sayang bakat anak terbuang”.

Dan yang paling terpenting adalah, ketika hari H pementasan, akan sangat berarti bagi anak jika orangtua bisa hadir menyaksikan langsung anak tampil. Dari situ orangtua juga bisa memberikan masukan, baik berupa apresiasi maupun saran untuk penampilan berikutnya berdasarkan kondisi yang diamati orangtua. “Jika anak mengalami kekalahan pada kompetisi, orangtua juga perlu memupuk kembali rasa percaya diri anak dengan tetap mengedepankan semangat sportivitas dan memuji keikutsertaanya,” ucapnya. (Inten Indrawati)

To Top