Kolom

SAKIT BATIN

Ami menunjukkan sebuah pesan facebook di dalam ponselnya pada Amat:
“Apa yang dipikirkan oleh seorang yang sedang sakit, memang sulit dirasakan oleh orang yang masih segar-bugar dan produktif. Apalagi bila itu menyangkut, tak bisa: jalan, bicara, menelan, mendengar dengan jelas, membaca dan memanggil memori. Out put-nya hanya air mata. Sedih, terharu, pedih, kosong, tanpa daya. Apakah orang harus sakit dulu sebelum bisa menyukuri karunia-Nya yang tak terhingga indahnya itu? Saya kira pendidikan kita mesti memikirkan ini, sehingga bukan semata ‘mencetak manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif’ saja yang di’cetak biru’, tapi juga menghayati anugerah ‘tubuh’ kita yang tak tertara nilainya. Hari ini saya bertemu salah seorang penulis cerpen terkemuka: Hamsat Rangkuti di Siloam Hospital Karawaci, sama-sama latihan fisioterapi. Semoga kesehatannya terus semakin membaik.”
Di bawahnya ada foto yang bersangkutan. Amat terkejut.
“Bapak tahu pengarang Hamsat Rangkuti ini. Bapak punya bukunya. Jadi dia sakit?”
Ami mengangguk. Lalu mengulang membaca pesan yang dibaca Amat. Amat terkejut lagi. Padahal tadi sudah membacanya. Dibacakan Ami terasa lain:
“Apa? Tak bisa: jalan, bicara, membaca, menelan, mendengar jelas  dan memanggil memori?”
“Ya!”
“Sakit apa itu?”
“Stroke.”
Amat termenung. Menelan, sesuatu yang tak perlu dipelajari apalagi dipikirkan, bisa tidak bisa? Bahkan bicara, jalan, meskipun harus dipelajari dulu, tapi bagi semua orang yang normal itu sudah aksesoris standar yang dengan sendirinya. Kalau itu sampai tak bisa, manusia bangkrut.
Tiba-tiba Amat merasa sangat beruntung, karena ia sama sekali bebas dari semua “tidak bisa” itu.
“Bapak masih bisa: jalan, bicara, membaca, menelan, mendengar jelas  dan memanggil memori, dalam usia seperti sekarang,  Bapak harusnya merasa berbahagia!”
Amat mengangguk
“Memang! Bapak bahagia Ami. Apalagi Bapak punya anak seperti kamu, punya istri seperti ibumu dan punya mantu seperti suamimu! Bapak selalu bersyukur terhadap apa yang dikaruniakan-Nya kepada kita – kalau itu yang mau kamu katakan!”
“Termasuk juga bersyukur punya negara seperti Indonesia ini, dengan segala kemauan beberapa kelompok yang mau memaksakan kehendaknya sendiri itu?”
“Jelas! Dengan segala kurang-lebihnya Bapak bangga dan bahagia jadi orang Indonesia. Ini negeri ajaib dengan beraneka ragam perbedaan tapi satu dan damai. Ini  hanya bisa terjadi di Indonesia, Ami!”
“Wah kalau begitu yang ditulis di facebook itu salah dong!?”
“Kenapa salah?”
“Sebab Bapak tidak perlu sakit dulu, untuk bisa mensyukuri karunia-Nya?!”
Amat termenung. Tapi kemudian menjawab lirih.
“Harus sakit Ami! Tapi ‘sakit-batin’. Sakit  yang membuat manusia peka, berpikir, ngeh dan mensyukuri!”

To Top