Sosialita

BINTANG MIRA: HIDUP HARUS BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Sebuah pencapaian bagi sosok perempuan yang satu ini bukan hanya soal duniawi semata, namun hidupnya bisa bernilai. Bagaimana keberadaannya yang dikenal sebagai seorang desainer di dunia ini, juga bisa bermanfaat bagi orang lain, dengan berbagi ataupun memberikan inspirasi bagi orang lain.

Bagi Bintang Mira perusahaan yang sukses bukan perusahan yang besar tapi perusahaan yang bisa bermanfaat bagi orang lain.Karenanya, seiring dengan motto hidupnya bahagia adalah berbagi, maka tahun silam ketika ia mendaftarkan nama “Bintang Mira” sebagai sebuah perusahaan yang memproduksi Batik Bali juga dengan brand yang sama. Pemilik nama panjang Bintang Mira Afriningrum ini juga langsung mendaftarkan nama “ Bintang Mira” sebagai  nama yayasan yang dikelolanya.

Rumah Batik Bali Bintang Mira, yang lahir pada 21 April 2016 silam, bertepatan dengan lahirnya pahlawan perempuan Indonesia RA Kartini. Dengan landasan spirit Kartini pula ia ingin memajukan kaumnya, terlebih yang masih tergolong generasi muda. “Di sinilah Yayasan Bintang Mira bergerak menjalankan perannya, seperti memberikan bantuan pada  anak-anak yang putus sekolah,” ujar istri Ir. I  Wayan Suamba, M.T. ini.

Dengan landasan itikad baik, Bintang Mira sengaja membentuk wadah yang memiliki dasar hukum, bukah hanya demi memudahkan dirinya bergerak, namun juga agar para donatur  dan calon donator yang ingin membantu, percaya dan yakin karena ada pencatatan dan pertanggungjawaban yang jelas dan transparan. Begitu pula didalam kegiaitan usahanya, saat menerima profit, maka 10% nya langsung disisihkan untuk yayasannya melakukan kegiatan sosial.

“Dengan bantuan yang diberikan  Aku ingin mereka bisa sukses. Sebab ketika sukses, mereka bisa memperoleh penghasilan lebih, yang akhirnya bisa melanjutklan berbagi untuk saudara-saudara yang lainnya yang masih memerlukan bantuan. Kita hidup harus bermanfaat bagi orang lain

Semakin banyak orang yang bisa berbagi semakin baik,” tegas ibu dari Wayan Gde Septadi, S.Farm.Apt., Kadek Deddy Permana Artha, dan Komang Bram Krisna Nendra ini.

Sekretaris APSAI Gianyar ini menegaskan  sukses baginya adalah saat ia bisa mengaplikasikan hidup untuk berbagi dan menebar virus kebahagiaan bagi orang di sekitarnya, bagi lebih banyak orang. Sebab sejatinya, kesuksesan itu berbanding lurus dengan keberkahan.

 

PERAJIN BINAAN BI

Sebagai seorang desainer, Bintang Mira mengaku bahagia dan menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang memberikannya kesempatan istimewa dapat memperagakan kembali karyanya berbahan Batik Bali di ajang fashion  show bergengsi di Bali yang diselenggrakan oleh IFC pada 21 Mei 2017 di TS Suites Hotel di Kuta. Ajang yang memberikan panggung untuk pelaku industri seperti dirinya untuk mempromosikan karya-karyanya. Ia pun semakin semangat untuk terus dan  menggali lebih banyak lagi motif Bali untuk koleksi “Batik Bali Bintang Mira”.

Bicara usahanya untuk terus mengembangkan batik Bali, Bintang Mira mengakui jika sambutan pasar selama ini baik dan menggembirakan. Terbukti dalam pameran di lapangan Gianyar beberapa waktu lalu, dengan produk Batik Bali Bintang Mira berhasil mendapatkan penjualan tertinggi. Rupanya masyarakat banyak yang bangga mengenakannya. Meski, di balik kebahagiaan itu masih ada menyangkal ada batik di  Bali, namun Bintang Mira tetap ingin terus berupaya mengembangkannya.

Ketika ditanya  ramainya produk sejenis, anggota APPMI Bali ini mengaku sedih jika yang memproduksi hanya dengan asal-asalan, Namun, ia percaya bahwa rezeki sudah diatur. Semua memiliki porsinya masing-masing.

“Optimisme juga tumbuh ketika banyak pihak yang meminta kami untuk mengadakan work shop membatik,” cetusnya sambil mengatakan batik Bali memang paling tepat dikerjakan di Bali, agar style Balinya muncul.

Mengenai “Batik Bali Bintang Mira” termasuk dalam kategori perajin binaan Bank Indonesia, ia kembali mengaku bahagia

Apalagi dalam waktu dekat BI ingin mengedukasi masyarakat agar lebih paham mana yang namanya  batik, endek, dan songket.  Umumnya masyarakat bakal membayangkan endek atau tenun ikat seperti songket, padahal diantaranya ada batik Bali yang sempat tenggelam di tahun 1980-an.

“Bali memiliki kain batik. Sejarahnya awalnya batik Bali ini dicipatakan pertama oleh Linda Garland  yang kemudian dikembangkan oleh keluarga Pande sekitar tahun 1980-an,” ungkapnya. Bintang Mira yang awalnya mengembangkan batik poleng kini mulai menghidupkan batik Bali dengan mengambil spirit dari pepatraan, ada patra cina, patra mesir, dan patra punggal.

Secara singkat Perempuan Inspiratif Tokoh 2015 ini juga menjelaskan perbedaan proses pembuatan jenis batik berdasarkan cara membuat. Saat ini, Batik Bali Bintang Mira memproduksi batik tulis. Semua proses dikerjakan secara manual, satu per satu, dengan canting, lilin malam, kain, dan pewarna. Antara ornamen yang satu dengan lainnya akan berbeda meski bentuknya  sama. Bentuk isen-isennya  relatif rapat, rapi, dan tidak kaku.

Untuk batik cap, proses batik ini, pola telah diprint di atas alat, sehingga pembatikan dan pewarnaan bisa dilakukan secara langsung. Stempel tersebut dicelupkan ke dalam lilin panas, kemudian ditekan atau dicapkan pada kain. Proses ini memakan waktu yang lebih cepat dibanding  proses batik tulis. Antara ornamen yang satu dengan lainnya dipastikan sama.

Sedangkan batik printing,  kata Bintang Mira proses batik dapat diselesaikan tanpa menggunakan lilin malam serta canting. Ornamennya  bisa sama atau sebaliknya  tidak sama, sebab  tergantung desain batik yang ditiru. Di sini Bintang Mira meniru kain batik produksinya sendiri. Semua sudah disertai label sesuia dengan proses pembuatannya. –ard

 

.

 

To Top