Buleleng

Potensi Desa Wisata Sudaji Sawan

Banyak potensi yang dimiliki Bali Utara untuk memikat wisatawan mancanegara. Beberapa daerah unggul dengan potensi pantainya, sebagian lagi unggul dengan potensi alam pegunungannya dan juga budaya. Tinggal bagaimana masing-masing daerah mengemas dan menyuguhkan potensi yang dimiliki kepada wisatawan.

Salah satunya desa yang sedang mengembangkan potensinya dengan cirri khas yang dimiliki adalah desa Sudaji di Kecamatan Sawan, Buleleng. Selain dikenal dengan Agrowisata buah duriannya, sejak beberapa tahun Sudaji di kenal sebagai desa wisata. Menurut Ketua Desa Wisata Desa Sudaji, Gede Suharsana, Sudaji telah dikukuhkan sebagai desa wisata oleh Bupati Buleleng sejak 5 Mei lalu. Meskipun baru dikukuhkan, akan tetapi pihaknya telah menggagas dan merintis desa wisata tersebut sejak tahun 2008. Desa wisata memiliki penggerak berupa PokDarwis yang telah dikukuhkan oleh desa adat tahun 2012. “Dulu saya tinggal di ibu kota, setelah balik ke desa saya melihat potensi yang dimiliki oleh Sudaji dan saya yakin setiap desa pasti memiliki potensi masing-masing,” jelasnya.

Kata dia, pembentukan desa wisata tersebut melalui proses yang cukup panjang, tidak terlepas dari pemetaan potensi yang dimiliki. “Ini tidak terlepas dari potensi yang dimiliki, alamnya masih sangat asri, kearifan lokalnya masih sangat terjaga, demikian juga dengan budayanya,” jelasnya. Konsep yang dikenalkan dan ditonjolkan adalah kearifan lokal dengan didasari Tri Hita Karana. Dengan memanfaatkan rumah penduduk yang layak huni sebagai penginapan sekaligus tempat berinteraksi oleh wisatawan dengan warganya. “Kami kembangkan desa tanpa membangun villa, hanya memanfaatkan rumah penduduk dan wisatawan sudah cukup senang asalkan kebersihannya terjaga,” imbuhnya.

Pihaknya pun mengenalkan kuliner khas desa ketika menyuguhkan makanan kepada wisatawan, bukan makanan barat. Tidak hanya itu, dalam kurun waktu beberapa tahun saja desa wisata Sudaji mampu menyuguhkan wisata mulai dari trecking, wisata spiritual, agrowisata, pentas budaya, dan yang paling unik melibatkan wisatawan dengan berbagai aktivitas masyarakat setempat. “Selain wisata alam, mereka (wisatawan-read) akan sangat senang jika diajak dalam keseharian masyarakat seperti menyabit, membajak sawah bahkan ke pasar, bahkan kami akan gali kembali budaya-budaya dan seni yang sempat hilang” lengkapnya. Untuk dapat menjaga dan memperkenalkan desa melalui konsep kearifan lokal, memang dibutuhkan Sumber Daya Manusia yang memiliki komitmen sama untuk melakukan penataan maupun kesiapannya dalam menghadapi kedatangan wisatawan yang berkunjung.

Pihaknya bersama Pokdarwis terus berupaya menggali potensi yang dimiliki desa, yang terbaru adalah potensi sungai. Sungai yang masih alami dengan aliran yang cukup deras dapat dimanfaatkan untuk wisata rafting. “Menurut saya, daripada bangun kolam lebih baik manfaat yang alami. Kami punya sungai yang panjang bisa ditempuh sekita dua setengah jam dari hulu,” jelasnya. Wisata arum jeram ini digadang-gadang sebagai wisata pertama di Bali Utara. Hanya saja pihaknya masih terkendala peralatan olaharaga pemacu adrenalin tersebut. “Kemarin masih uji coba dengan peralatan yang kami buat sendiri, sehingga perlu peralatan yang memang sesuai dengan standar,” lengkap pria kelahiran 22 September tersebut. Kendala lain adalah soal cuaca, musim hujan yang rentan terjadi banjir akan berbahaya dan membuat wisatawan merasa takut untuk mencoba wisata arum jeram tersebut. (Wiwin Meliana).

To Top