Bunda & Ananda

IMUNISASI, PENTINGKAH?

Dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes

Tahun ajaran baru segera tiba. Para orangtua yang memiliki calon siswa tentunya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Di beberapa PAUD dan SD, salah satu persyaratan mendaftar adalah melampirkan Kartu Menuju Sehat (KMS).

Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan Dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes. menjelaskan,

program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) merupakan sebuah bentuk sinergitas program kesehatan dengan sekolah. Khusus untuk siswa TK yang disinergikan adalah melalui program pemberian vitamin A pada Bulan Februari dan Agustus. “Saat pendaftaran TK, tujuan pemeriksaan KMS adalah untuk mengetahui apakah calon siswa sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap atau belum. Apabila ada calon siswa TK yang masih belum lengkap imunisasi dasarnya, akan dikonsultasikan dengan puskesmas yang mewilayahi sekolah tersebut untuk dapat dilakukan upaya lanjutannya. Jadi saat ini pelaksanaan program imunisasi anak sekolah sudah berjalan dengan baik dan sangat mendapatkan respons yang bagus dari seluruh sekolah,” ujarnya.

Anak-anak di atas 5 tahun sudah termasuk anak sekolah akan mendapatkan imunisasi wajib kembali mulai umur 7 tahun saat duduk di kelas 1 SD. Imunisasi yang diberikan sudah sesuai dengan rekomendasi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan dirangkum dalam program BIAS yang meliputi imunisasi Campak ( kelas 1), imunisasi DT (kelas 1) dan imunisasi Td ( kelas 2 dan 3). Tujuan dari BIAS tersebut adalah untuk memberikan perlindungan kembali anak-anak sekolah terhadap penyakit campak, difteri dan tetanus. “Jadi seluruh siswa SD kelas 1-3 di seluruh Indonesia akan mendapatkan imunisasi wajib secara serempak,” tegasnya.

Kesadaran orangtua untuk memberikan imunisasi kepada anaknya khususnya di Kota Denpasar dikatakannya sudah sangat bagus. Hal ini terlihat dari UCI  (Universal Child Immunization) yang sudah tercapai, yaitu capaian imunisasi dasar lengkap BCG, DPT-3, Polio 4, Campak dan HB 3 di atas 80%.  Namun di beberapa daerah UCI banyak juga yang belum tercapai yang kemungkinan disebabkan karena kondisi geografis yang berpengaruh terhadap akses pelayanan kesehatan.

Namun ia tak menyangkal, saat merebaknya vaksin palsu beberapa waktu lalu yang  sangat menyita perhatian semua kalangan, sangat mempengaruhi kinerja program imunisasi khususnya di fasilitas pemerintah seperti puskesmas. Puskesmas akhirnya melakukan serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi vaskin palsu tersebut, seperti melakukan pemeriksaan ke seluruh fasilitas kesehatan di wilayah kerja puskesmas untuk memastikan tidak adanya beredar vaksin palsu.

Selain itu pula melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat baik di posyandu termasuk sekolah untuk meyakinkan bahwa vaksin yang beredar adalah vaksin yang bersumber dari pemerintah. “Kekhawatiran masyarakat akan status imunisasi yang telah diperoleh anaknya akibat beredarnya vaksin palsu adalah hal yang wajar. Apalagi program imunisasi anak sekolah yang menyasar anak dari kelas 1-3 cukup banyak mendapatkan penolakan dari orangtua siswa atas beredarnya vaksin palsu tersebut. Jadi sebelum pelaksanaan imunisasi, sudah kami lakukan sosialisasi lebih awal  kepada sekolah agar seluruh orangtua siswa sasaran imunisasi mengisi blangko persetujuan imunisasi yang akan kami berikan kepada anaknya. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa  imunisasi yang diprogramkan merupakan program resmi pemerintah dan dengan menggunakan vaksin yang resmi/asli,” tutur Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar ini.

Imunisasi dijelaskannya merupakan suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memasukkan vaksin, yakni virus atau bakteri yang sudah dilemahkan, dibunuh, atau bagian-bagian dari bakteri (virus) tersebut telah dimodifikasi.Upaya ini akan meningkatkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Vaksin dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan atau diminum (oral). Setelah vaksin masuk ke dalam tubuh, sistem pertahanan tubuh akan bereaksi membentuk antibodi. Reaksi ini sama seperti jika tubuh kemasukan virus atau bakteri yang sesungguhnya. Antibodi selanjutnya akan membentuk imunitas terhadap jenis virus atau bakteri tersebut. Tujuan dari pemberian imunisasi adalah secara umum untuk menurunkan angka kematian bayi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Kenapa anak perlu imunisasi? Dalam ilmu kedokteran anak (pediatri) dijelaskan bahwa upaya pencegahan yang dilakukan adalah dengan sengaja memberikan kekebalan atau imunitas pada anak, sehingga anak tersebut walaupun mendapat infeksi tidak akan meninggal atau mendapatkan cacat. Anak menjadi fokus utama dalam pemberian imunisasi oleh karena pada anak khususnya balita belum memiliki kekebalan tubuh yang baik. Sistem kekebalam tubuh pada bayi baru lahir disebut dengan imunitas pasif bawaan, dimana bayi baru lahir akan memiliki kekebalan tubuh (zat anti) sampai usia 5 bulan saja yang didapat dari ibu sewaktu dalam kandungan. Namun lambat laun zat anti ini akan lenyap dari tubuh bayi. Setelah usia tersebutlah sebenarnya bayi akan semakin rentan terkena penyakit sehingga diperlukan adanya tambahan kekebalan tubuh yaitu dengan pemberian imunisasi.

Imunisasi apa saja yang diperlukan anak? Imunisasi diberikan untuk mencegah PD3I seperti penyakit TBC, difteri, pertussis, tetanus, polio, campak, hepatitis B, radang otak, influenza, tifoid, varicella dan termasuk juga saat ini pemberian imunisasi untuk mencegah kanker serviks. Namun, pemerintah telah menetapkan program imunisasi wajib/dasar yang harus diberikan kepada semua anak khususnya balita adalah Hepatitis B, BCG, Polio, DPT, Hib, Campak.

Saat ini jenis imunisasi yang diberikan dari pemerintah sudah dikembangkan dengan menggabungkan beberapa jenis imunisasi dalam sekali pemberian yang disebut dengan Pentavalen yaitu penggabungan imunisasi DPT-HB-Hib. Selain itu pula saat ini untuk pemberian imunisasi polio selain secara oral juga diberikan vaksin polio secara injeksi (IPV) yang diberikan saat usia bayi 4 bulan.  Untuk imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan. Kemudian pengulangan imunisasi juga diprogramkan dari pemerintah yaitu saat usia anak 1,5 tahun (18 bulan) dengan memberikan ulangan pentavalen dan saat usia 2 tahun (24 bulan) diberikan pengulangan imunisasi campak.

Jenis imunisasi lain seperti MMR, rotavirus, influenza, varicella dantifoid tidak merupakan imunisasi wajib yang dicanangkan oleh pemerintah. Akan tetapi pemberian imunisasi jenis tersebut masih tetap bisa didapatkan dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter anak. (Inten Indrawati)

To Top