Kolom

DEMO

Hakekat demo adalah unjuk rasa. Puncak kerucut unjuk rasa adalah tercapainya yang diinginkan. Tetapi, apa sejatinya yang diinginkan kadang terbungkus begitu rapi. Bahkan bisa berlapis-lapis. Bisa salah ditebak. Tak jarang targetnya berkebalikan dengan kemasannya.
“Teka-teki silang, Pak Amat?”
“Itulah politik,” jawab Amat, di warung Nyoman ketika ngerumpi sesama manula.
“Apakah para pengusung demo semua tahu apa yang mereka usung dengan mengerahkan jiwa-raganya itu. Adakah mereka sempat berpikir, jangan-jangan yang mereka gotong itu, justru akhir riwayat mereka sendiri?”
Amat merenung. Teringat masa mudanya.
“Kalau melihat ke belakang, pada banyak demo yang sudah terjadi, juga yang pernah saya ikuti, demo memang bukan tempat berpikir. Demo adalah lahan bertindak. Berkoar-koar, bersitegang urat leher dan kalau perlu, main kayu. Kalau masih ada yang mencoba berpikir, dia akan mental atau tergilas!” tandas Amat.
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu,” lanjut Amat. “Tapi ini pengalaman nyata, waktu muda. Api demo yang menggelegak, membakar anak-anak muda yang garing seperti daun kering. Demo seperti besi berani menyedot anak-anak muda untuk membelanjakan energinya. Peranan media sosial yang rajin ngintilin sepak-terjang kami, untuk dijual,  membuat kami militan! Kami berlomba untuk berperan radikal. Sampai satu ketika, kena batunya!”
“Apa batunya, Pak Amat?”
“Ya, batu biasa yang salah lempar dari teman sendiri! Ternyata dia itu provokator yang memang mau memancing di air keruh. Dia ingin demo berdarah supaya lebih parah!”
“Pak Amat kok mau diperalat?”
“Kan kepala sudah kosong dicuci bersih!”
“Jadi Pak Amat pensiunan demonstran?”
“Lebih kurang begitu!”
“Apa Pak Amat tahu apa tujuan utama demo?”
“Tahu! Untuk membela rakyat!”
“Kenapa rakyat mesti dibela?”
“Karena rakyat selalu ditipu, dijadikan korban!”
“Dijadikan korban oleh siapa?”
“Para pemimpinnya!”
“Pemimpin yang mana?”
“Pemimpin yang menjadikannya korban!”
“Termasuk pemimpin yang memimpin demo?”
Amat tersenyum.
“Pokoknya yang memperalat rakyat untuk kepentingan pribadinya! Terserah yang mana pun bisa. Manusia tak ada yang suci, terutama yang paling memuji dirinya suci!”
“Termasuk Anda sendiri begitu?”
Amat berpikir.
“Kalau ditanya begitu, saya jadi mikir. Yalah, saya sendiri juga begitu. Tapi untung si Amat ini bukan pemimpin!”
“Jadi rakyat? Siapa yang bukan rakyat?”
“Yang sedang kita demoi!”
“Ya mereka itu, siapa?”
“Bukan rakyat!”
“Kenapa mereka didemo?”
“Untuk menobatkan pemimpin baru?”
“Pemimpin baru yang kemudian harus didemo karena mengorbankan rakyat?”
“Betul sekali. Jadi ini memang lingkaran setan. Muara yang sebenarnya baru ketahuan setelah bertahun-tahun berlalu. Semua alasan yang dulu dikibarkan berapi-api hanya aksesoris untuk laris-manis. Yah, begitulah kehidupan ini, ternata tak ada yang tanpa pamrih!”
Amat membayar kopi dan lak-lak yang dilahapnya. Lalu pamit pulang menyandang wajah murung.
Para manula pendengarnya sibuk bertanya-tanya kepada Nyoman, pemilik warung. Siapa sebenarnya Amat.
“Sebetulnya nama asli Pak Amat, Made Tama,” kata Nyoman, “tapi dulu zaman orang suka pakai nama samaran namanya dibalik jadi Amat.”
“Betul beliau bekas pentolan demonstran?”
Nyoman ketawa.
“Kalau pentolan demonstran, tempatnya tidak akan di kompleks sederhana begini, Pak.”
“Lalu di mana?”
“Ya di langit sana!”

To Top