Buleleng

Bidik Peluang MEA, Stikes Buleleng Jalin Kerjasama dengan CEU Manila

Pendidikan keperawatan masih perlu melakukan beberapa pembinaan dan perbaikan baik dari segi kualitas dan profesionalisme untuk turut serta dalam persaingan pasar ASEAN. Jika keperawatan Indonesia tidak mampu menyeimbangkan kualitas dengan tenaga kerja perawat yang ada di ASEAN, maka sangat dikhawatirkan tenaga kerja terampil dari luar akan masuk ke Indonesia dan mengalahkan sumber daya keperawatan Negara sendiri.

Guna meningkatkan kualitas lulusan, Stikes Buleleng menjalin kerjasama melalui memorandum of understanding (MoU) bersama perguruan tinggi luar negeri,  salah satunya Centro Escolar University (CEU), Manila,  Philipina. Kerjasama dalam peningkatan mutu bukan baru pertama dilakukan Stikes Buleleng. Sejak beberapa tahun lalu, secara aktif Stikes membidik peluang MEA dengan beberapa perguruan tinggi kesehatan dari Negara lain, di antaranya Philipina Woman University, salah satu perguruan tinggi di Malaysia, dan Universitas Triniti di Philipina.

Ketua Stikes Buleleng, Dr. Ns I Made Sundayana S.Kep. M.Si., mengatakan kerjasama yang tertuang dengan CEU telah diaplikasikan dalam penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Telah kami aplikasikan melalui pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama serta penerapan dalam pengajaran,” ujarnya. Ditambahkan Sundayana bentuk kerjasama juga berupa dikirimnya mahasiswa dan dosen dari CEU untuk memberikan kuliah pakar di Stikes Buleleng, sementara pihaknya telah mengirim dosen untuk melanjutkan studi magister degree.

Sebagai lemabaga yang telah terakreditasi  B, Sundayana terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan yang diaplikasikan tak hanya terbatas pada teori maupun praktek, namun lebih mendasar kepada attitude (sikap) saat mengemban tanggung jawab. Kualitas tenaga medis utamanya perawat di Philipina diakui secara international bukan saja karena ketrampilan tetapi juga attitudenya. “Kami ingin mengadop keperawatan philipin yang telah diakui oleh dunia baik itu dari teknik ilmu keperawatannya,” jelasnya.

Menurutnya, selain pengetahuan, ilmu yang diadopsi dari perguruan tinggi di Asia itu lebih pada penerapan budaya empatinya. Para lulusan tak hanya didorong bersikap simpati, tetapi juga empati yang kini masih terkesan belum mendapat perhatian dari sebagian besar tenaga medis, khususnya di Bali. Padahal itu sangat mampu mendorong niat untuk lebih cepat melakukan perawatan karena pasien telah dianggap sebagai diri sendiri maupun keluarga. “Jika ada pasien yang dirawat dengan rasa empati akan beda jika hanya dirawat dengan rasa simpati,” imbuhnya.

Kerja sama ini,  sambung dia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan,  baik dari program studi keperawatan, kebidanan maupun lainnya. Hal tersebut penting sebagai bekal menghadapi persaingan, baik dalam negeri maupun luar negeri, terlebih ditengah perhelatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Dengan adanya kerjasama ini, mahasiswa akan sering berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, ini akan memudahkan mereka ketika ingin mencari kerja ke luar sehingga tidak hanya jago kandang saja,” pungkasnya. -Wiwin

To Top