Edukasi

Guru Harus Perbarui Ilmu

Perkembangan teknologi yang sesungguhnya memberikan kemudahan dalam dunia pendidikan ternyata juga memiliki efek yang yang langsung dirasakan baik oleh siswa maupun guru. Di satu sisi derasnya arus informasi yang sangat mudah diakses membuat para siswa saat semakin kritis.

Prima Damayanti S.Pd, salah seorang guru di SMPN Bolo Bima mengungkapkan, pendidikan dulu dan sekarang sangatlah berbeda, terutama dalam hal hubungan guru dan murid. “Dulu, guru hampir menjadi satu-satunya rujukan bukan hanya dalam hal ilmu pengetahuan melainkan juga bagi nilai-nilai. Transformasi budi pekerti, sikap, dan semacamnya lebih langsung didapatkan dari seorang guru,” ungkap Prima.

Namun, sekarang hal tersebut berbeda jauh. Dimana guru bukan lagi satu-satunya pusat memperoleh informasi tentang keilmuan. Informasi ilmu bagi siswa kini bisa berasal dari banyak sumber,  demikian pula tentang nilai-nilai. Murid sudah bisa mendiskusikan dengan gurunya.

Hal lain yang menjadi perhatian Prima adalah jika dulu ‘kontaminasi’ infomasi dari luar dapat dikatakan tidak ada. “Siswa hanya dapatkan informasi dan materi pelajaran dari guru saja. Jadinya guru benar-benar menjadi pusat ilmu,” katanya.

Ibaratnya, andaikan guru berkata bohong soal sesuatu murid tidak akan tahu. tapi sekarang guru tidak bisa lagi seperti itu mengingat siswa masa sekarang bisa jadi malah jauh lebih tahu dari gurunya. Itu sebabnya, lanjut Prima, kalau guru tidak memperbarui ilmu, bisa-bisa ‘keok’  di kelas. “Dulu siswa sangat jarang yang berani protes guru. Lain dengan sekarang, anak-anak (siswa) lebih terbuka,. Kalau pun tidak berani langsung ngomong, mereka bisa ngomong terbuka sama guru yang mereka rasa bisa diajak ngomong. Kalau guru yang malas belajar dan mengikuti perkembangan bisa-bisa kebingungan di dalam kelas,” kata Prima yang menjadi instruktur nasional bidang Bahasa Inggris di NTB ini.

Pandangan yang nyaris sama juga diungkapkan Kongso Sukoco, seniman dan budayawan kawakan di NTB. “Pendidikan dulu dan sekarang itu, bedanya ada pada hubungan guru murid. Dulu, guru hampir satu-satunya sumber ilmu, bukan hanya ilmu pengetahuan tapi juga nilai-nilai. Transformasi budi pekerti, sikap, dan semacamnya diperoleh secara langsung dari guru,” kata Kongso.

Namun  sekarang sumber ilmu bisa diperoleh dengan banyak cara terutama dunia maya.  Jadi guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi ilmu bagi murid. (Naniek I. Taufan)

To Top