Kreasi

Gek Mirah: Cerdas Menyiasati Waktu

Tak bisa ikut lomba menyanyi pop solo Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar atau tampil  di urutan paling belakang dengan konsekuensi nilai dikurangi lantaran terlambat dialami Agung Mirah Prayoga.

Gek Mirah –begitu dia akrab disapa– menceritakan ada pengalaman berharga yang dia dapat, di balik sukses yang diraihnya. Untuk ikut lomba, ia mempersiapkan diri hampir dua minggu. Latihan vokal maupun koreo dilakukan dengan mendatangkan pelatih ke rumahnya. Namun, gara-gara jalannya macet, ia terlambat sampai di tempat lomba di Wantilan Taman Budaya, Denpasar.

“Saya bersyukur pada Tuhan masih diberikan kesempatan lomba. Apalagi dengan situasi dan kondisi saya saat lomba, saya ditetapkan juri menjadi juara kedua. Saya pun sangat berterima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung saya saat lomba,” ujarnya.

Aktivitas menyanyi sudah digeluti Gek Mirah sejak duduk di bangku kelas VI SD Cipta Dharma, Denpasar. Berawal ikut salah seorang teman satu sekolahnya latihan vokal di sanggar musik dan vokal Cressendo, Sukawati, Gianyar.  Selanjutnya mencoba ikut lomba dan di luar dugaan menjadi juara. ABG kelahiran Denpasar, 13 Juli 2003 ini akhirnya sering mendapat juara. Bahkan pernah membawa pulang tiga piala sekaligus, sebagai juara lomba lagu berbahasa Bali, Indonesia maupun Inggris. Prestasi lomba nyanyi yang diraihnya, makin memantapkan langkahnya untuk lebih berani ikut lomba yang lebih bergengsi. Salah satunya lomba lagu pop Bali yang diadakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung. Hasilnya, lagi-lagi di luar dugaan, Mirah berhasil meraih juara pertama katagori anak-anak putri dan berhak memboyong piala bergilir Bupati Badung. Sukses yang diraih di ajang lomba menyanyi di Dinas Kebudayaan Badung, membukakan kesempatan Gek Mirah tampil di ajang Parade Lagu Pop Bali Pesta Kesenian Bali (PKB) Bali, duta Kabupaten Badung.

“Saya tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur atas prestasi dan kesempatan yang diberikan Tuhan. Tanpa anugerah Tuhan saya tak akan jadi apa-apa. Terima kasih untuk orang-orang terdekat yang telah mendukung saya,” ungkapnya.

Saat tampil pertamakali di PKB Bali, Gek Mirah sebagai penyanyi pendukung, setahun kemudian dia tampil sebagai penyanyi solo anak-anak putri. Masih segar dalam ingatan Mirah saat itu dia menyanyikan lagu berjudul  “Yening Tiang Kelih”. Kesempatan demi kesempatan buat Mirah kian terbuka. Dia pun kembali bergabung dengan Pemkab Badung dan tampil di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pada Parade Lagu Pop Daerah tingkat nasional. Persiapan yang memakan waktu cukup lama, memberikan pelajaran pada Mirah, jika tidak akan ada prestasi yang didapat dengan instan. Sempat gagal ketika ikut lomba nyanyi FLS2N tingkat Kota Denpasar, tak membuatnya kecewa. Justru dia bangkit dan belajar dari kekurangannya.

Akhirnya kesempatan yang ditunggui-tunggu pun datang. Putri dari I Made Astra Prayoga-Ida Ayu Agung Ekasriadi mendapat kesempatan bergabung dengan vokal grup SMPN 3 Denpasar dan beberapakali menjadi juara. Ia dipercaya sekolahnya, SMPN 3 Denpasar ikut ajang PSR. Sadar akan ketatnya persaingan, Gek Mirah pun berpacu dengan waktu untuk bisa latihan dengan baik. Hasilnya, ia meraih juara 2. Walaupun ada sepenggal kisah sedih, yang membuatnya sempat menangis di tengah kemacetan kota Denpasar. Mirah berharap kisah sedihnya ini dapat menginspirasi teman-temannya, agar cerdas menyiasati waktu. Terutama situasi macet yang akhir-akhir ini sering terjadi di Kota Denpasar.

Mirah menambahkan entah dari mana kekuatan itu datang, dia bisa menyanyi dengan tenang, suara yang enak didengar serta koreo yang apik. Meskipun sempat bermasalah, namun ada keyakinan dia dapat juara. Namun, tidak tahu berada di posisi berapa.

“Sampai kapan pun saya tetap ingat peristiwa yang menyedihkan ini. Saya berharap tak akan terulang kembali. Terima kasih lagu “Bali Sutrepti” dan “Burung Camar”, yang telah mengantarkan saya jadi juara,” ujar Gek Mirah. (Ngurah Budi)

To Top