Bunda & Ananda

Yuk, Melukis di Atas Baju Kaus

Umumnya, anak-anak melukis pada media kertas  atau kanvas. Namun kali ini, anak-anak SD diajak melukis di atas media baju kaus. “Setelah dilukis, anak-anak bisa dengan bangga memakai baju hasil lukisan sendiri,” ujar salah seorang panitia.

Workshop melukis pada produk/media yang dilaksanakan Rabu (26/4) di Taman Budaya (Art Centre) Denpasar tersebut dibuka Kasi Seni dan Pertunjukan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menghadirkan dua narasumber yakni Ketut Kesuma Tirta dan Wayan Adnyana. “Workshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pendalaman kepada kalangan siswa agar dapat melukis di media. Kami harapkan ke depannya kerjasama antara Dinas Kebudayaan dan sekolah dapat terus terus terjalin dan ditingkatkan,” ucapnya.

Dalam sesi penyampaian materi, Kesuma tirta mengingatkan bahwa melukis di atas media baju kaus jangan menggunakan warna yang tebal karena baju akan dipakai bukan dipajang seperti halnya lukisan di media kanvas atau kertas.

Jika diteliti ke belakang, dikatakannya baju kaus pada awalnya dipakai sebagai pakaian dalam. Karena sejuk dan enak dipakai kemana-mana, dipakailah sebagai baju biasa. Karena baju kaus terus hanya berwarna putih timbul kebosanan. Kenapa tidak dibuat berwarna? kenapa tidak digambari? Setelah segelintir orang  punya ide untuk menghiasi baju kaus itu dengan gambar-gambar, akhirnya timbullah orang menyablon di atas baju kaus. Banyak orang tertarik dan meniru, sehingga banyak kaus diisi gambar.

Sesuai perkembangan zaman, banyak baju kaus diberi gambar dengan melukis, teknik sablon, bahkan sekarang di-print, dengan berbagai macam tulisan dan gambar. “Sekarang yang akan kita buat adalah bagaimana cara menggambar di atas baju kaus. Karena baju kaus terbuat dari kain, otomatis kita mewarnai dengan media akrilik,” ujarnya.

Kesuma Tirta menjelaskan ada dua macam cat yang biasa dipakai , yakni cat minyak dan cat air. Yang dipakai dalam workshop tersebut adalah cat air berbasis air, untuk lebih menggampangkan, cepat kering dan tidak membuat baju kaku. “Sifat akrilik ini, jika warna sudah kering sifatnya seperti karet dan tidak luntur jika dicuci dengan air,” ucapnya.

Teknik penggambaran seperti biasa (seperti melukis di atas kertas), membuat sket dulu, diwarna, dan terakhir bisa dikontur (jika memang lukisan harus dikontur). Bisa mengkontur dengan spidol anti air (art line). “Perlakuan cat akrilik, boleh menggunakan secara transparan (tipis-tipis). Jika ingin membuat aksen warna yang lebih tegas, dibuat bertahap. Warna dulu kemudian dikembangkan lagi dan kembangkan lagi,” tegasnya lagi kepada para peserta workshop.

Wayan Adnyana menambahkan terkait pewarnaan, panitia hanya menyediakan 3 warna primer yakni merah, kuning, biru dan putih untuk mencari warna yang lebih muda. “Nanti kita sekalian belajar mencampur warna. Pencampuran warna kuning dan biru menjadi hijau. Jika hijau dicampur biru lagi menjadi hijau kebiruan tergantung warna yang dominan. Mari nanti anak-anak bersama-sama mengeluarkan ide kreasinya,” ucapnya menutup sesi materi.

Dari ke 47 hasil karya peserta workshop semua dinyatakan sudah maksimal. “Keberanian berkreativitas harus ditingkatkan lagi. Tidak mesti harus terpola tapi bebas untuk berkarya. Yang penting dilakukan dengan senag,” ujar Wayan Adnyana. Workshop kali ini dikatakannya hanya sebagian kecil karena materi dan waktu yang terbatas.

Kesuma Tirta memberikan tips sebelum baju kaus itu dipakai. Setelah warna kering, sebaiknya disetrika dulu sebelum dipakai. Disetrika dengan cara baju kausnya dibalik agar keringnya lebih sempurna dan untuk menguatkan catnya. Di akhir acara, baju kaus yang sudah dilukis tersebut dikembalikan lagi kepada peserta dan boleh dibawa pulang. Dipilih 10 hasil terbaik untuk diserahkan kepada Bapak Gubernur Bali sebagai bukti bawa workshop ini sudah berjalan dengan baik. (Inten Indrawati)

To Top