Edukasi

Tingkatkan Pengatahuan dan Ketrampilan Stikes Buleleng gelar Pelatihan BTCLS untuk Perawat

Dengan bertambahnya jumlah penduduk, angka kematian juga semakin meningkat. Selain faktor tingkat keparahan penyakit, kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, pengetahuan dan ketrampilan tenaga kesehatan yang belum professional juga turut serta mempengaruhi jumlah angka kematian tersebut.

Menyikapi hal ini, lembaga Stikes Buleleng Singaraja bergerak membangun inspirasi dan realita untuk bekerjasama dengan PPNI pusat dengan menyelenggarakan pelatihan penanggulangan penderita gawat darurat kardiovaskuler dan trauma untuk perawat. Pelatihan tersebut mengadopsi standar internasional yang berlaku yaitu kurikulum American Heart Association (AHA).

Menurut Ketua Stikes Buleleng Dr. Ners I Made Sundayana, S.Kep., M.Si., pengetahuan dalam menanggulangi gawat darurat memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Tidak sedikit penderita gawat darurat trauma dan kardiovaskuler justru berakhir dengan meninggal atau mengalami kecacatan yang diakibatkan karena kesalahan dalam melakukan pertolongan. “Beberapa kejadian hingga berakhir dengan kematian merupakan salah satu indikator ketidakmampuan petugas kesehatan untuk menangani penderita fase gawat darurat,” ungkapnya saat memberi sambutan dalam pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support for Nurse di Aula Stikes Buleleng, Rabu (26/04).

Menjawab tantangan MEA, pihaknya berharap mahasiswa khususnya keperawatan dapat mengembangkan budaya mutu dengan menyeimbangkan antara teori dan praktek. Para peserta hendaknya tanggap dan merasa terpanggil dengan fenomena atau gejala yang terjadi di lembaga rumah sakit, puskesmas, klinik dan pelayanan kesehatan lainnya. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan nantinya perawat satu pemahaman dengan dokter yang telah mengikuti pelatihan Advance Cardiac Life Support and Advance Trauma Life Support dalam menanggulangi penderita gawat darurat. “Ini merupakan salah satu program dalam meningkatkan budaya mutu dari segi pengetahuan, dan mahasiswa yang telah memiliki sertifikat BTCLS dianggap lebih mampu dalam penanggulangan kegawatdaruratan jantung dan trauma,” imbuhnya.

Ada empat tujuan yang ingin dicapai dalam pelatihan BTCLS tersebut di antaranya, Keselamatan Masyarakat (Safe Community), ketrampilan dalam memotivasi untuk hidup (Life Support Skill), kepemimpinan dan memangun mental (Leadership and Mental Building), dan ketrampilan dalam managemen bencana (Disaster Manajemen Skill). Kegiatan ini sekaligus dapat membekali petugas kesehatan yang penuh tantangan, ujian, serta dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, menyasar mahasiswa semester 8 S1 Keperawatan dan beberapa tenaga medis dari Rumah Sakit di Buleleng. Kegiatan yang diikuti 112 peserta itu menghadirkan trainer khusus dari 118 Jakarta. “Adanya 14 Orang trainer dengan Ketua Bapak Irawan dari 118 dan beberapa trainer dari kampus kita,” imbuhnya.

To Top