Kolom

BANDIT TENGIK

“Aku si Bandit Tengik terpesona di depan pesawat televisi, Pak Amat. Aku takjub, kenapa begitu gampang Dimas Kanjeng Taat Pribadi mampu menipu puluhan ribu anggota masyarakat. Kenapa orang mau saja percaya si Kanjeng terkutuk itu bisa menggandakan uang. Itu kan perbuatan kriminal yang tak dibenarkan agama?”

“Dengan akal bulus yang sama, kejadian serupa berulang di Banten. Ditambah lagi kabar  investasi bodong alias bohong, berkedok koperasi Pandawa, yang mengeruk sampai triliunan doku masyarakat. Apakah bangsa kita ini begitu bodohnya, atau kemaruknya ingin kaya, padahal banyak mereka yang sudah kaya, berasal dari kelas atas, terdidik, menjabat dan sudah punya mobil? Apa mereka cemas,  masa depan kita gelap sehingga panik mengumpulkan duit buat tujuh turunan anak cucunya?”

“Sementara diriku ini yang sudah sang Empunya copet, residivis maling dan raja nilep serta lain sebagainya, punya motor pun belum kesampaian-kesampaian. Apalagi punya  rumah, tabungan masa depan dan istri penyanyi dangdut yang akan memberiku kesempurnaan, anak untuk menyambung keturunan darah si Dogel Barakokok dan sebagai teman hidup memanjakan masa tuaku. Ini sudah keterlaluan! Tidak fair! Apalagi cita-citalku yang ingin  kedudukan, jadi selebriti! Tidak akan mungkin terealisasi! Aduh ini tidak adil! Amat sangat terlalu tidak mendidik sekali! Aku protes!!”

“Kamu bicara sama siapa, Bro?”

“Aku terkejut. Aku memeriksa, kiri-kanan 360 derajat. Tapi aneh, tak ada orang.”

“Siapa itu?”

“Aku!”

“Aku siapa?”

“Coba tengok ke layar televisi yang kau curi ini kemarin!”

“Aku kontan menatap televisiku.”

“Selamat malam!”

“Yaillah! Si Pembaca Berita Malam Bensye itu? Kamu, ya, Bensye?”

“Kau bicara padaku?”

“Ya o.”

“Tapi kamu kan lagi on air, ngebacot berita malam!”

“Ya i, ini bagian dari acaraku, Bro. Kita ini lagi siaran langsung. Lantaran tadi Ente sudah protes tidak adil!”

“Aku tidak protes, Banci kaleng! Itu fakta!”

“Oke. Tapi protes tetap protes! Kepada siapa Ente ucapkan fakta protes itu?”

“Kepada siapa lagi! Dia Yang di Atas itu?”

“Maksudmu kepada Tuhan?”

“Yo i!”

“Tapi kalau itu protes kepada Tuhan, kenapa muka kamu menghadap ke televisi?”

“Aku bingung, mesti menjawab bagaimana. Tapi pertanyaan harus dijawab karena ini siaran langsung. Kata orang, Tuhan ada di mana-mana. Jadi ke mana pun aku memandang Dia pasti di situ.”

“Baik. Pertanyaan berikutnya. Kalau Ente protes  sinis  begitu berarti Ente yakin ada yang sudah tidak fair. Kenapa tidak terima kenyataan saja, lalu daripada sirik, lebih baik ikut saja jadi anak buah Dimas Kanjeng?”

“Aku bingung lagi. Memang harus begitu solusinya kalau aku mau mengejar untung tok. Nyatanya tidak! Tidak, bukan keuntungan yang kuincer, tapi keadilan. Jangan dikira bajingan tengik macam aku tak punya hati nurani keadilan. Itu tidak adil, Pak Amat! Setuju denganku?”

Amat memandangi tamu si Bajingan Tengik yang tak dikenalnya itu. Yang nyelonong begitu saja masuk tanpa permisi. Yang langsung nyerocos ngomong seperti bendungan pecah. Karena curiga Amat sama sekali  tak peduli bualannya. Amat konsentrasi memperhatikan, dengan cermat gerakan tangannya.

Betul saja. Tangan orang itu tiba-tiba saja nyelonong mau mencomot jam di tangan kiri Amat. Langsung Amat bertindak. Menangkap dan memelintirnya, sambil berteriak: “Tangkapppp!”

Bu Amat yang sejak tadi ngintip bersama para tetangga keluar langsung menolong Amat memberangus bandit tengik yang mau menghipnotis itu.

Tapi si Bandit Tengik nampak punya ilmu. Dengan mudah, licin sekali, dia mengecoh dan lepas lalu lari leluar. Tapi di depan sudah menghadang 2 satpam, langsung memukul tapi malah jatuh. Si Bandit luput lagi. Sambil ketawa dia kabur.

Satpam dan para tetangga lantas memburunya. Bandit lari ke pos sambil terus ketawa dan menari-nari.

“Kayaknya itu orang gila, Pak,” kata Bu Amat.

“Memang.”

“Kalau nanti dimasukkan penjara pasti malah bisa tambah rusak.”

“Jadi baiknya dibebaskan saja?”

“Orang gila kan tidak bisa dihukum.”

“Memang, jadi lebih baik tembak mati saja?!”

Bu Amat tercengang.

“Bapak kok ngomong begitu?!”

Tiba-tiba si Bandit Tengik itu muncul lagi. Bu Amat menjerit dan lari ketakutan. Bandit itu ketawa cekakakan.

“Terima kasih, Pak Amat. Aku sukses! Para tetangga  di pos tadi ketawa sampai terkencing-kencing waktu aku bilang, ini hanya sandiwara, bagian dari Festival Monolog Bali setahun penuh!”

To Top