Life Story

Percaya pada Niat Baik

Ilustrasi Pelabuhan Lembar

Tina Titi (25), sibuk melayani pelanggan warung makan tempatnya bekerja di kawasan Ampenan Mataram. Wajahnya yang hitam manis dengan rambut yang ikal membuat siapa saja mudah menebak bahwa Tina berasal dari daerah Timur. Sebelum bekerja di warung ini, Tina memiliki kisah sedih mengapa ia bisa sampai di Lombok.

Hidup dalam belitan kemiskinan di kampung halamannya di NTT, membuat ia menerima tawaran untuk menjadi pembantu rumah tangga di Kota Kupang. Ia menikmati sekali bisa memperoleh pekerjaan tersebut, apalagi majikannya dinilainya baik. Ia jadi bisa hidup berkecukupan, setidaknya cukup makan, cukup pakaian dan lain-lain. Dengan gaji yang diterimanya dalam jumlah yang cukup untuk ukuran keluarga mereka, Tina juga bisa membantu orangtua dan adik-adiknya. Namun, baru enam bulan menikmati kebahagiaan lepas dari kemiskinan, majikannya pindah tugas ke Pulau Jawa. “Saya juga diminta ikut bersama mereka,” ujarnya.

Tina tidak keberatan ikut pindahan bersama majikannya itu, karena ia merasa majikannya itu memperlakukannya dengan baik. Selama ia bekerja, menurut pengakuannya, ia sangat senang dan cocok dengan majikannya itu. Begitu pula dengan majikannya yang cocok dengan Tina yang rajin dan tidak banyak bicara ini. Hubungan baik mereka terjalin dengan sangat baik, sampai tiba suatu hari yang menegangkan itu. “Majikan saya bertengkar hebat dengan suaminya,” kata Tina.

Hari itu, ia tidak tahu masalahnya apa, majikannya tiba-tiba bertengkar hebat. “Saya ketakutan sekali melihatnya,” kata Tina. Sesungguhnya Tina tidak ingin menceritakan semua ini, karena ia sayang pada majikan perempuannya itu. Namun ia akhirnya ingin membagi cerita ini dengan harapan bisa menjadi pelajaran, termasuk perjalanan hidupnya hingga sampai ke Lombok.

Ia mengisahkan bahwa majikan perempuannya adalah istri simpanan seorang pengusaha yang datang sekitar dua minggu atau sebulan sekali. Mereka memiliki dua orang anak yang diurus dengan baik Tina. Jarangnya suami majikannya itu pulang membuat majikan perempuan menjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain. “Hampir tiap pagi setelah saya antar anak-anak ke sekolah, pas pulang ke rumah saya selalu lihat ada mobil warna hitam parkir di depan rumah. Sampai saya akhirnya tahu bahwa itu kekasih gelap majikan saya,” kata Tina.

Tina memang tahu, tapi ia tidak ingin mencampuri urusan majikannya melainkan sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus kedua anak majikannya. “Orang itu (kekasih gelap majikannya) pulang menjelang anak-anak pulang sekolah,” kata Tina. Tina tahu semua apa yang terjadi dan itulah sebabnya ketika majikannya bertengkar ia diusir dari rumah oleh majikan laki-lakinya. “Saya ketakutan sekali saat itu, terus pergi dari rumah hanya bahwa tas pakaian seadanya saja. Saya tidak berani pulang lagi, karena pintu pagar dan pintu rumah sejak itu terkunci. Saya juga tidak tahu ke mana majikan perempuan saya dan anak-anaknya dibawa,” katanya.

Tina yang tidak kenal kota itu, terlantar tidur di emperan toko. Sekitar satu minggu ia kebingungan mau ke mana tujuannya. Mau pulang ke NTT tentu tidak bisa mengingat ia tidak tahu dari mana harus berangkat dan lainnya. Tiap malam tiba, Tina yang tidak lulus sekolah dasar ini selalu ketakutan. Ia takut jika tiba-tiba bertemu orang jahat yang membuatnya tidak tenang tiap kali ingin tidur. Sampai akhirnya ia bertemu dengan supir truk yang merasa iba melihatnya kebingungan di dekat terminal. Tina pun diajak ikut bersamanya. Entah apa yang yang ada dalam pikiran Tina, ia mau saja ikut laki-laki itu tanpa tahu mau dibawa ke mana.

“Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa keluar dari kota yang tidak saya kenal itu,” ujarnya. Selama dalam perjalanan yang tidak diketahui tujuannya oleh Tina itu, ia mengaku diperlakukan baik oleh supir truk itu. “Dia (supir) baik pada saya. Tidak pernah ganggu saya, malah saya dibelikan makanan dan disuruh tidur saja selama perjalanan dua hari dua malam,” kata Tina.

Sekali lagi keberuntungan menyertainya. Sampai tiba di pelabuhan yang tidak ia tahu (kelak ia tahu bahwa itu Pelabuhan Lembar), ia justru melihat situasi yang sebaliknya. “Supir itu yang kebingungan sambil bolak-balik terima telepon,” katanya. Beberapa jam mereka berhenti di Pelabuhan Lembar hingga akhirnya ia tahu bahwa supir itu kebingungan mau membawanya ke mana lagi karena tujuannya sudah sampai di Lombok. Supir itu ingin pulang ke rumahnya di Cakranegara. “Dia tidak berani bawa saya ke rumahnya, takut sama istrinya,” ujar Tina tertawa sambil sesekali ia mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada supir yang tidak ia ketahui namanya itu, karena telah memerlakukannya dengan baik.

Menurut Tina, saat mereka berada di sebuah warung makan pelabuhan, supir itu akhirnya mengaku terus terang bahwa ia bingung mau membawanya ke mana karena takut istrinya berpikir yang tidak-tidak. Baru beberapa saat mereka membicarakan harus ke mana Tina pergi, tiba-tiba supir itu menerima telepon. Wajahnya tegang lalu ia bergegas pergi menuju gerbang masuk pelabuhan.

Dari jauh ia melihat seorang perempuan menyambut supir itu dengan hangat, lalu sang supir masih terlihat wajahnya resah, membawa istrinya ke truk kemudian berlalu. Dari kaca mobil sang supir sempat melirik ke arah Tina yang masih duduk di warung itu tanpa bisa berkata apa-apa. “Saya lihat supir itu sedih karena meninggalkan saya begitu saja, tapi meski begitu saya tetap berterima kasih padanya,” ujar Tina mencoba memakluminya.

Dari kaca mobil itu pula, ia melihat kebahagiaan perempuan yang tampaknya istri supir tersebut. Mereka tertawa dan istrinya memegang tangannya. Melihat hal itu, tidak tega rasanya bagi Tina untuk mengejar supir tersebut dan menanyakan akan ke mana ia selanjutnya. “Saya tidak tega, takut istrinya salah paham,” ujarnya. Tina hanya memandangi saja truk itu pergi meninggalkannya yang tidak tahu harus ke mana selanjutnya.

Namun, dibandingkan saat terlunta-lunta di Jawa, Tina merasa lebih tenang kali ini meski ia juga tidak tahu harus ke mana. “Saya hanya percaya pada niat baik, Tuhan pasti bantu kita,” katanya dalam logat Timur yang kental. Dan, benar saja, selalu ada yang membantunya dalam kesulitan hidupnya. Hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di warung makan tersebut dan hidup layak dengan gaji yang selalu ia tabung untuk dikirimkannya ke orangtua dan saudara-saudaranya di NTT setiap dua bulan sekali. Ia berharap bisa pulang ke NTT suatu hari kelak. (Naniek I. Taufan)

To Top