Kolom

Kartini Hindu Masa Kini

A.A.Ngr Sri Rahayu Gorda

Raden Ajeng Kartini adalah simbol dari perjuangan Wanita Indonesia yang merupakan pelopor dari gerakan emansipasi wanita, agar wanita dapat mengenyam pendidikan, dapat berkontribusi membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di luar rumah (sektor publik).

Perjuangan R.A Kartini bertujuan agar wanita lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya. Bukan untuk membuat kaum wanita bersaing dengan kaum pria, sehingga kaum wanita dalam meraih kebebasannya dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita maupun seorang ibu. Inti dari perjuangan R.A Kartini adalah agar kedudukan wanita dapat disejajarkan dengan pria dengan tidak melupakan kewajibannya. Hal ini sejalan dengan pandangan wanita menurut Hindu. Kitab Suci Weda memandang wanita setara dengan kaum pria. Bahkan dalam diri manusia ada sifat kewanitaan (feminisme) sekaligus sifat kelaki-lakian (maskulin). “Ardhana-reswari” dalam konsep Hindu menunjukkan kesetaraan itu. Kata “Ardha” pada konsep tersebut berarti “setengah” atau “belahan yang sama”. Sedangkan kata “nara” berarti “manusia laki-laki” dan kata “iswari” berarti “Manusia wanita” (Wartam, edisi 14, 2016). Lebih lanjut Konsep “Ardhana-reswari” dapat dilihat dalam Kitab Manawa Dharmasastra 1.32 sebagai berikut:

“Dengan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian perempuan (Ardha Nari-Isvari), ia ciptakan Viraja (alam semesta)”.

Manusia bisa dikatakan sempurna setelah dapat mewujudkan “Ardhanariswari”. Dapat disimpulkan bahwa tanpa unsur kewanitaan, seorang manusia tidak akan terjadi secara utuh atau sempurna, begitu juga sebaliknya tanpa unsur kelaki-lakian, seorang manusia tidak akan terjadi secara utuh atau sempurna.

Wanita adalah seorang gadis dewasa, seorang ibu yang memiliki sifat kelemahlembutan, kedamaian, cinta dan kasih sayang, perhatian, tulus iklas dalam menjalani kehidupannya serta senantiasa memaafkan, berjiwa besar ketika terhina, dan kuat dalam doa baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.

Sosok wanita atau sosok ibu di zaman yang kekinian tidak hanya bisa melahirkan, mengasuh, membesarkan anak, mengurus suami dan menunggu suami pulang. Sosok ibu di era kekinian dituntut untuk lebih pintar, cerdas, berwawasan luas dan bijaksana, jika tidak, sosok ibu akan mengalami kegagalan dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Hal ini disebabkan zaman semakin modern dibarengi dengan memunculnya masalah yang semakin kompleks, yang tidak sesederhana dulu. Masalah yang akan dihadapai oleh ibu zaman kekinian terkait kenakalan anak dan remaja seperti: narkoba, seks bebas, perkelahian, aborsi termasuk soal perselingkuhan, perjudian hingga korupsi. Hal ini menuntut seorang ibu harus cerdas, pintar, berwawasan luas, penuh cinta kasih, ketulusan dan bijaksana. Apa pun perilaku keluarga akan dikaitkan dengan ibunya. “Di tangan ibulah letak masa depan bangsa ini”, “Dibalik kesuksesan seorang suami, terdapat istri yang luar biasa dibelakangnya”, begitulah kata orang bijak.

Kedudukan wanita atau seorang ibu memegang peranan dalam kehidupan ini, banyak kondisi tercipta dipengaruhi oleh sikap ibu sekaligus istri. Dalam agama Hindu peranan wanita sangat penting, khususnya dalam upaya meningkatkan “intelektualitasnya” dalam mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan, baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, dan untuk lingkungan di luar keluarganya (peran di ranah publik), secara eksplisit tersurat dalam kutipan Reg Veda VIII.33.19:

“Perempuan sesungguhnya adalah seorang sarjana dan seorang pengajar”.

Sloka diatas sangat jelas mengamanatkan bahwa kedudukan dan peran seorang wanita maupun seorang ibu memiliki potensi untuk mengenyam pendidikan tinggi (sarjana). Berpendidikan tinggi disini harus dimaknai untuk dapat mengembangkan potensi dirinya untuk menambah wawasan baik untuk karier domestik sebagai pendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang suputra serta pendamping suami agar menjadi kepala keluarga yang bijak serta sukses, maupun untuk karier di ranah publik.

Tetapi, ada hal yang patut diingat untuk wanita dan ibu di zaman sekarang, boleh pintar, cerdas, dan berkarier gemilang, namun jangan pernah merasa paling pandai, paling hebat, sampai-sampai merendahkan suaminya sendiri dan melupakan kewajiban serta perhatiannya terhadap anak-anak dan keluarganya. Jangan sampai sosok ibu yang berkarier melepaskan tanggung jawab hanya kepada pembantu, acara TV serta HP.

Begitu juga suami selalu dilayani pembantu rumah tangga. Anak-anak dimanja dengan materi. Di sinilah dibutuhkan kesiapan wanita atau seorang ibu rumah tangga yang ingin berkarier di ranah publik.

Kesuksesan dan pengakuan dari masyarakat, seringkali membuat wanita lupa menikah karena sibuk mengejar karier, atau seorang ibu yang berkarier di ranah publik melupakan posisi dan kewajibannya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Di rumah anak dan  suami perlu seorang ibu dan istri, bukan sosok wanita karier yang memegang jabatan tinggi. Apalagi keberhasilan seorang ibu ketika ia sukses menciptakan rumah tangga yang harmonis, suami sukses dalam pekerjaan, dan anak-anak yang pintar dan bermoral baik, dan juga sukses dalam kariernya. Kehidupan rumah tangga yang tenang dan bahagia adalah landasan kedamaian keluarga, dan dasar yang kuat menciptakan pemimpin-pemimpin yang tangguh.

Tiap-tiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini, yang memiliki tujuan untuk memperingati jasa-jasa R.A Kartini yang telah memperjuangkan kesetaraan dan kemandirian kaum wanita. Akan tetapi kehidupan yang serba modern menjadi tantangan tersendiri bagi kaum wanita dalam mengambil peran dalam berbagai kehidupan.

 

A.A.Ngr Sri Rahayu Gorda.

(Dosen FH Undiknas Denpasar)

To Top