Kolom

TIKAM WAKTU TERTAWA

Dalam cerita wayang ada episode Niwatakawaca. Saat birahinya datang dia menyerang khayangan mau menggondol Dewi Supraba, ratunya bidadari. Para dewa panik lalu minta tolong Arjuna.
Baru saja dapat panah pasupati, setelah lulus dari goda-rayu 7 bidadari. Arjuna pun bertempur. Tapi setelah baku-hantam habis-habisan, Arjuna tergeletak tak berdaya.
Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak. Mulutnya terkuak lebar. Langit-langit mulutnya, letak titik lemahnya tersingkap. Arjuna cepat melepas gendewa dan tamatlah riwayat sang durjana.
Apa yang bisa dimanfaatkan dari kisah itu? Tertawa adalah saat yang tepat untuk menikamkan pesan moral ke sukma penonton. Karena waktu mereka tertawa itulah pertahanannya kendor dan semua celahnya relaks terbuka. Hanya satu atau dua detik, tapi itulah peluang emas setelah satu hingga dua atau empat jam pertunjukan.
Jadi kita mengundang orang untuk menghadiri pertunjukan, sesungguhnya hanya untuk satu dua detik emas itu. Selebihnya adalah bumbu, proses.
Tetapi jangan salah, kita tak bisa menyebutnya proses itu hanya embel-embel alias tak penting. Karena tanpa proses, tak ada celah yang bisa masak untuk kita gasak. jadi ada tidak ada peluang emas juga sangat tergantung dari bumbu dan proses yang kita siapkan.
Ketawa memang bukan satu-satunya yang menciptakan peluang emas. Hampir semua emosi yang memuncak (sedih, marah, terkejut, heran, kagum, kecewa, bahkan bingung dan sebagainya) memungkinkan menciptakan peluang emas. Tetapi ketawa terbilang paling murah.
Murah dalam arti paling tinggi kemampuannya untuk “melumpuhkan”saraf dengan “biaya” yang relatif lebih murah.
Orang terpeleset jatuh, latah, salah ngomong, lupa dialog atau tak sengaja kena pukul hingga kesakitan, penontoon sudah ketawa. Kadang baru lihat tampang, kostum, penonton sudah spontan ger-geran
Tetapi membuat lelucon tidak gampang. Memerlukan kejelian/kecerdasan. Banyak orang bilang membuat komedi lebih sulit dari tragedi. Hambar sedikit, lelucon langsung jadi bumerang, menyebalkan.
Humor sebagai tujuan dan humor untuk mempersiapkan saat menggasak pun berbeda. Humor biasa hanya mempermainkan/akrobatik dengan logika. Orang tertawa tapi tetapi waspada. Humor yang menciptakan peluang melumpuhkan saraf. Orang tertawa dan membiarkan dirinya tertikam (pesan moral). Jadi kata mereka: tikamkan pesan moral itu waktu orang tertawa!
Amat mengakhiri ceramah di depan istrinya sepulang dari nonton FMB (Festival Monolog Bali
Bali 2017 setahun penuh).
“Jadi begitu?”
“Ya!”
“Contohnya bagaimana?”
Amat bingung, lalu menjawab:
Nggak tahu.”
Bu Amat tertawa.
“Ya sudah, cerita lakonnya bagaimana?
Nggak tahu.”
Bu Amat bertambah geli.
“Kalau nggak tahu kok ngasih saya wejangan: Tikamkan pesan moral ke sukma penonton waktu mereka ketawa?”
Nggak tahu!”
Bu Amat tertawa terkekeh-kekeh. Amat mencoba mengingat cerita lakon yang tadi ditontonnya, tapi tak bisa. Soalnya penonton berjubel, Amat nonton dari balik punggung orang.
Tapi paginya Amat bangun kasep. Di luar rumah terdengar bu Amat ceramah sama Bu Made: Tikamkan pesan moral ke sukma penonton waktu mereka ketawa!”

To Top