Sosialita

Bulantrisna Djelantik: Menari adalah Berbagi dan Berdoa

Globalisasi dan pesatnya teknologi tak bisa dihalangi. Begitu juga dengan kegiatan sekolah dengan kurikulumnya makin padat, menjadikan muncul kesan makin sedikitnya  waktu dan minat anak muda, mendalami kesenian tari tradisional. Bagaimana pandangan salah seorang maestro tari Indonesia, Dr. Ayu Bulantrisna Djelantik?

Menurut sosok penari yang telah mendedikasikan hidup di dunia tari lebih dari 60 tahun ini, adalah tugas para orangtua dan pendidik untuk memantau dan menyaring pengaruh globalisasi, sehingga anak–anak berhasil menyerap nilai positifnya. Selanjutnya menggiring minat terhadap budaya sendiri, demi membangun jati diri generasi penerus. Sementara para pekerja seni tari bertugas menyesuaikan dan mengembangkan tari tradisi agar diminati generasi muda.

Strateginya, kata pensiunan dokter spesialis THT yang biasa disapa Byang Bulan ini, ia justru menggunakan multimedia dalam karyanya. Ia ikut melirik apa yang disukai anak mula dengan menonton film, musik, konser, dan acara TV yang tengah gemari. Selanjutnya ia pun menggarap tari tanpa mengubah pakem, berpegang pada tari tradisi, tak lepas dari akarnya  dan disebut  genre “Tari Tradisi Inovatif”.  Begitulah  Byang Bulan berhasil melakukan pengembangan pola gerak, waktu, penerangan, warna kostum dan pola lantai untuk menebarkannya di kalangan anak muda.

“Strategi lainnya adalah mengajak anak muda melihat karya seni berkualitas dari dekat, misalnya dengan mementaskan tari tradisi di sekolah hingga di berbagai mall. Diperlukan pula peran pemerintah mengadakan program seperti pesta kesenian, festival tari, termasuk menyediakan sarana dan pusat-pusat seni dengan suguhan yang  menarik,” kata putri pasutri dr. AA Made Djelantik (alm)  dan Astri H. Zwart (almh), yang sempat menuntaskan S2 Doctor Medizin di LM Universitas, Muncih, Germany  dan  S3 bidang THT  di Universitas Antwerp, Belgia ini.

Hal menarik lainnya kisah Byang Bulan, bahwa sejak tahun 1970-an, pemerintah telah mendirikan Akademi Seni Tari di beberapa kota besar dan selalu memasukkan bidang ‘Tari Bali’. “Umumnya untuk sanggar di luar Bali, tarian yang diajarkan adalah jenis tari balih-balih-an , tarian murni untuk pertunjukan,  tak ada kaitannya dengan upacara keagamaan,” kata ibu tiga anak ini yang di usia belia sudah menari di Istana ini.

Kepada Tokoh, Byang Bulan juga menyampaikan salah satu catatan pengalaman menariknya, bahwa sejak tahun pertama menjadi mahasiswa Kedokteran Universitas Padjadjaran di Bandung di tahun 1965, ia sudah diminta menjadi pengajar tari di Githa Saraswati, di asrama Bali dan di berbagai perkumpulan lainnya.  Hingga di tahun 1971 dirinya  diminta ikut sebagai pendiri ASTI Bandung (Akademi Seni Tari Bandung), dan diangkat menjadi  PNS , sebagai Dosen Tari Bali.

Kemudian setelah lulus dokter, Byang Bulan pindah sebagai dosen Fakultas Kedokteran. Ia tidak hanya mengajar, tapi pentas di Bandung, Jakarta, serta ikut beberapa misi kesenian ke luar negeri. Dengan kepandaiannya membagi waktu antara keluarga, profesi dokter dan kegairahan menari Bali, di tahun 1992  ia memutuskan mendirikan perkumpulan tari yang mendalami aneka Legong Klasik  bernama “Bengkel Tari Ayu Bulan”.

Anggota “Bengkel Tari Ayu Bulan” sudah belajar menari Bali sejak kecil, dan kebanyakan sudah bergabung sejak 25 tahun silam. Meski sebagian bukan orang Bali, namun mereka hebat, sangat berbakat dan serius meningkatkan kemampuannya hingga menjadi aisten dan guru tari. Mereka juga diajarkan tentang pertunjukan  yang bagus,jangan sekadar menari, pentingnya penjiwaan,  termasuk soal penunjang seperti audio, lighting dan pola lantai yang baik agar penonton nyaman. Begitu pula perlu ada rasa kebersamaan dan saling menghargai antar penari.“Menari bukan semata bergerak dengan indah, tapi menari adalah doa dan membangun kesadaran penonton,” tegas Byang Bulan yang juga suka dipanggil Ninik oleh anak didiknya ini.

 

SALING MENGINSPIRASI DAN MELENGKAPI

Sejak mendirikan  bengkel tari, Byang Bulan mencipta beberapa kreasi Palegongan baru berkolaborasi dengan teman guru tari Bali maupun sendiri. “Ada tantangan besar untuk mencari kebebasan dalam keterikatan  demi tak lepas dari pakem. Tari kreasi di luar Bali, konsepnya lebih universal. Namun, kini dengan maraknya berbagai tari kreasi di Youtube, para koreografer (penata tari) pun bisa saling memperhatikan dan belajar. Karenanya, perkembangan tarian Bali di luar Bali , tetap berhubungan dengan penggembangan teman-teman di Bali, kami saling menginspirasi dan melengkapi,” tuturnya. Ia menyebutkan jika kelompok tari yang digagasnya secara berkala belajar lagi dari para penguruk di Bali.

Berprinsip menari adalah nafas hidup, tak heran Byang Bulan bersama murid tarinya sukses bercerita kisah-kisah yang dilupakan seperti filsafat hidup di karya ‘Asmarandana’, percintaan tragis pada ‘Sampik Engtay’, keteguhan hati dalam ‘Sitayana’, hingga kepahlawanan Pandawa lima dalam kreasi ‘Mintaraga’. Ia juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dengan falsafah kehidupan dalam tari ‘Bedoyo Legong Calonarang’ hasil kolaborasinya dengan Retno Maruti;  pentingnya  harmoni ilmu dan seni universal dalam ‘Citra Dewi’ yang terinspirasi Saraswati, dan terakhir, perlunyanya menjaga perdamaian dalam  ‘Rejang Shanti’ yang merupakan kolaborasi dengan rekan seniman di Bali yakni Dayu Ani Arya, Cok Sawitri dan Gus Made Widnyana.

Begitu juga cerita mengenai wanita sangat mengusik dirinya, seperti ‘Satua Calonarang’, dan karya kolaborasi ‘Gayatri Rajapatni’ yang menampilkan kekuatan dan konflik pada kisah sejarah. “Biasanya sebelum berkreasi saya  mengadakan penelitian dan mencari literatur,” ujarnya. Ia menambahkan jika karya tari Bali di “luar Bali” selalu mencari makna universal dan kesegaran baru yang  ikut memperkaya sekaligus bermanfaat bagi pengembangan tari di Bali via  dialog dan kritikan.

Bicara kesan lainnya, Byang Bulan mengatakan pementasa terakir yang sangat berkesan baginya adalah tampil di empat negara Eropa akhir tahun lalu, yang disebutnya sebagai “Sangasari Europe Roadshow” yang misinya mempertunjukkan sembilan tarian yang ditetapkan Unesco mewakili semua tarian Bali sebagai warisan budaya dunia. Namun, karena minimnya dana, hanya 4 penari yang  ditanggung. Maka, di tiap negara mereka bekerja sama dan berlatih dengan penari Bali setempat.

Byang Bulan menyampaikan semua pementasan berkesan baginya,  baik yang di panggung besar, kecil, termasuk di ruang publik seperti di jalanan atau taman.  Seperti menari di Trowulan ,atau di Candi Sukuh, terasa bumi dipijak penuh nuansa sejarah. Belum lama juga katanya mereka menggelar tarian perdamaian yakni ‘Rejang Shanti’ secara masal oleh 60 penari di Taman Mini Indonesia Indah.

Terkait julukan maestro yang disandangkannya Byang Bulan menyatakan tak menyangka dan bersyukur di usia lanjut ia memperoleh apresiasi dengan julukan Maestro dan meraih Muri sebagai penari Bali terlama menari Goak dalam Legong Lasem.  Kini ia bertekad ingin terus berbagi pengalaman  dan menjaga tari tradisi khususnya Legong, sebagai kebanggaan dan jati diri bangsa.

“Melalui tari saya menapakkan kaki ke bumi, menengadahkan muka kepadaNya dan meregang tubuh sebab tari bagi saya adalah doa,” pungkasnya.  (Sri Ardhini)

 

 

 

To Top