Inspirasi

Anto Gondrong: Batik Nyeleneh dari Tarakan

Anto Gondrong

Sebutan batik boleh sama namun ‘Batik Pakis Asia’ karya Anto Gondrong memiliki keunikan tersendiri. Itu juga diakui oleh sejumlah pengunjung pameran kerajinan yang mampir ke stan Anto lantaran melihat batik khas Tarakan, Kalimantan Utara, menampil suatu yang berbeda dibanding batik lain yang juga dipamerkan dalam event itu.

“Orang bilang batik saya nyeleneh, acakadutalias berantakan. Di Jawa, orang menyebut batik saya tidak jelas lantaran memang keluar dari pakem batik. Ada juga yang bilang karya saya batik nggak genah..hahahha. Biar saja orang menyebut apa, tapi ini lah karya saya batik lukisan kotemporer,” ungkap Anto Gondrong tentang motif batiknya yang banyak menimbulkan pertanyaan orang lantaran dianggap tidak biasa.

Tapi diakui Anto, memang kalau dibanding dengan batik Jawa yang dibuat berdasarkan pakem, batiknya memang terlihat aneh dan terkesan ‘nyeleneh’. Batik Jawa, tambahnya, soft, lembut, dan  teratur. Beda dengan batiknya, yang menampilkan warna-warna yang ‘kuat’ dan tegas. “Orang yang mampir ke mari bilang batik khas Tarakan karya saya,  beda, baik dari motif maupun warna. Katanya perbedaannya sangat mencolok,” ungkap Anto.

“Batik ‘nyeleneh’ tapi mereka (customer) ternyata banyak yang suka,” ucap Anto sembari menyebut dalam pameran kali ini hampir seluruh produk yang dibawanya dari Kalimantan Utara laku terjual. “Ini tinggal sisa-sisa saja,” tambahnya sembari menunjuk beberapa produk tersisa, sementara sebagian besar raknya sudah terlihat kosong.

Menurut Anto yang menjadi satu-satunya perwakilan Kalimantan Utara yang berpameran, dia membawa  cukup banyak produk, baik itu berupa kain batik, baju, tas, kaos dan berbagai pernak-pernik bermotif batik. “Semua produk yang saya bawa bermotif batik khas Borneo,” tambahnya.

Lelaki yang memulai kiprahnya sebagai pelukis media kanvas ini mengaku pamerannya di Jakarta tergolong sukses. Padahal, tambahnya, saat pameran begitu banyak pelaku UKM yang juga menjual produk yang sama dengannya yakni kain batik. Para pembeli tertarik karena dirinya menyajikan motif batik yang berbeda dari biasanya. Karenanya, meski harga selembar kain sekitar Rp350-450 ribu, para pengunjung tak keberatan membayarnya.

Anto mengaku sengaja menampilkan warna-warna yang kuat dan berani. “Ini ada filosofinya lho. Warna-warna kuat ini menggambarkan tentang watak orang Kalimantan yang keras dan tegas,” ujar Anto sembari menambahkan semua motif yang digambarkan memiliki makna.

Menurut bapak dua anak ini, sebagai pelukis dia bukan sekadar melukis batik tapi selalu menyelipkan pesan dalam lukisannya. Batiknya bisa ‘bercerita’, begitu katanya, sembari menjelaskan beberapa motif batik yang dilukisnya.

“Dalam setiap karya saya pasti ada kekhasan Borneo. Saya berusaha mengangkat dan melestarikan budaya khas Borneo. Lihat ini (sambil menunjuk lukisan wajah Raja Salman, Raja Arab Saudi yang belum lama ini berkunjung  ke Indonesia), meski saya menggambar seorang tokoh tapi saya juga menyelipkan motif khas Kalimantan,” tambah Anto.

Tak heran kenapa Anto begitu getol mengangkat kekhasan budaya Kalimantan. Pasalnya, dia bukan saja pengusaha batik tapi juga merupakan tokoh pelestari budaya setempat. Atas kiprahnya dalam  bidang lingkungan hidup dan pelestarian budaya, Anto telah menggondol sejumlah penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Untuk diketahui Borneo adalah sebutan lain dari Pulau Kalimantan. Pulau ketiga terbesar di dunia itu terletak tiga wilayah negara yakni sebagian masuk wilayah Indonesia (Kalimantan), sebagian lagi masuk wilayah Malaysia (Sabah dan Serawak) dan Brunai Darusalam. Nah di jaman dulu orang menyebut keseluruhan pulau itu sebagai Borneo.

MENDULANG REJEKI LEWAT BATIK KHAS BORNEO

Kembali ke soal kiprah Anto yang awalnya seorang pelukis kanvas kemudian menjadi pengusaha batik. Menurut Anto awalnya ia adalah pelukis sebagaimana umumnya yakni melukis dengan media kanvas. Namun menjual lukisan tidak lah mudah.

“Kalau bisa terjual satu lukisan dalam satu bulan, itu sudah bagus,” ungkap Anto menggambarkan betapa tidak mudahnya menjual lukisan. Meski sulit, ucap Anto, dia tidak ingin meninggalkan hobi yang telah ditekuninya sejak kecil.

“Ini adalah bakat saya, dan saya sangat menyukainya. Jadi saya berpikir bagaimana caranya agar hobi melukis saya dapat tersalurkan namun juga memiliki nilai jual atau disukai orang,” tuturnya. Maka lahirlah ide membatik atau batik painting.

“Saya belajar dasar-dasar membatik, pakem-pakem membatik termasuk pewarnaan batik di Yogjakarta. Setelah bisa, saya pun membuat batik dengan gaya saya, juga pewarnaan kreasi sendiri. Saya tidak memakai pakem-pakem batik Yogja yang saya pelajari. Orang bilang batik saya menyeleweng dari pakem…hahahha,” katanya tertawa lebar.

Tapi katanya lagi, justru itulah yang akhirnya menjadi kekhasan produknya. Dan memang sejak dia beralih menjadi pelukis batik di mana hasil lukisannya itu bisa dijadikan baju, sarung, dan produk lainnya seperti tas, dompet, dll, orang pun mulai melirik produknya.

Perlahan tapi pasti, bisnisnya makin berkembang. “Beda dengan menjual lukisan kanvas, kain batik saya yang bermotif kekhasan budaya Kalimantan, dapat terjual 100-150 lembar sebulan. Itu belum termasuk produk pernak-pernik lainnya,” ungkap Anto yang melabeli produknya dengan ‘Batik Pakis Asia’, Khas Tarakan.

Sebenarnya, kata Anto, bisnis batik painting ini  baru ditekuninya selama empat tahun terakhir, namun di luar dugaan perkembangannya sudah begitu pesat. Padahal tambahnya, awal dia menekuni batik, banyak orang mencemoohnya, memandang remeh karyanya.

“Mereka bilang ngapain ikut-ikutan bikin batik, Kalimantan kok dibikin batik. Saya jadi bahan cemooh orang. Kata mereka, kalau orang ingin batik kan ada batik Jawa yang memang sudah terkenal, jadi kita di Kalimantan tidak perlu ikut-ikutan. “

“Tapi saya tidak peduli. Saya terus berkarya sembari terus mengedukasi masyarakat bahwa kita perlu batik untuk bisa menjadi media melestarikan budaya Kalimantan. Kita bisa membuat batik dengan memasukkan unsur-unsur khas Kalimantan,” paparnya.

Dan pada akhirnya kini masyarakat sudah bisa menerimanya. Apalagi ketika melihat bisnis ini berkembang dan banyak orang menyukai batik khas motif Kalimantan. Jadi lewat batik kekhasan budaya Kalimantan bisa dilihat di mana-mana, tidak harus di Kalimantan saja. “Batik khas Kalimantan diaplikasikan di kain, misalnya dijadikan baju atau pada produk lainnya seperti tas, dll, itu semua bisa dibawa ke mana-mana,” ujarnya.

Menariknya, Anto meski di daerahnya dikenal sebagai penggiat budaya setempat, namun sesungguhnya dia bukanlah orang asli Kalimantan. “Saya ini perantau, tapi saya sudah 32 tahun di Kalimantan. Jadi Kalimantan itu sudah menjadi ‘tanah’ saya dimana saya ikut melestarikan budayanya yang saya aplikasikan ke  batik,” ucap nya.

“Saya ini bukan orang asli Kalimantan tapi sangat peduli pada budaya orang-orang Dayak,” tambah peraih penghargaan bidang pelestarian budaya dari organisasi ekonomi Indonesia-Jerman. “Saya juga meraih penghargaan pelestari budaya dari Konsulat Jenderal RI di Kinabalu, Malaysia,” kata Anto lagi.-Diana Runtu

To Top