Kolom

Teman Belajar yang Sehati dan Mendamaikan

Luh Putu Udayati

Dewasa ini, dunia pendidikan masih menjadi bagian dari kehidupan setiap insane. Pendidikan masih menjadi ‘makanan pokok’, nutrisi yang menyehatkan jiwa dan raga atas berbagai pengetahuan yang didapat, terutama sejak TK hingga SMA. Pendidikan masih menjadi fondasi utama untuk bekal kehidupan seseorang kelak setelah memasuki usia dewasa, yang mengharuskan dia memasuki dunia kerja. Pekerjaan yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas dan mumpuni, hanya dimungkinkan dibekali melalui bangku sekolah.

Pendidikan akan menjadi berkualitas bila semua pihak terlibat positif di dalamya. Mulai dari keluarga, guru, masyarakat hingga pemerintah. Terutama keluarga sebagai sekolah informal, tempat berbagai karakter tumbuh dan berkembang. Karakter yang akan melekat dan menjadi warna dalam pribadi setiap orang.

Menyoal dunia pendidikan dan keluarga, selalu tidak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan. Selalu ada sesuatu yang dapat kita temukan hakikatnya, terlebih di saat-saat seorang anak dalam sebuah keluarga mengahadapi moment-moment penting dalam proses belajar-mengajar di sekolahnya, seperti ujian sekolah bagi siswa kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA. Atau, ulangan umum bagi siswa selain siswa kelas akhir di masing-masing jenjang tersebut.

Maka menjadi ariflah bila sebagai orangtua, jika (juga) menempatkan diri menjadi seperti mereka. Berempati atas pelaksanaan ujian atau ulangan umum yang dihadapi anak-anak, adalah sebuah alasan yang kuat untuk menjadikan mereka merasakan keluarga sebagai pendukung utama kesuksesan mereka. Terlihat kecil dan sederhana memang, tapi seringkali terabaikan atas nama kesibukan.

Bagaimana mungkin anak dapat belajar di rumah dengan tenang, ketika orangtua tak berhenti untuk menonton televisi dengan volume suara yang keras? Bagaimana mungkin anak dapat belajar nyaman, jika orangtua tidak bisa mengontrol emosi atas persoalan yang terjadi di rumah tangganya. Bagaimana mungkin anak mampu belajar nyaman jika waktu belajarnya tersita untuk pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan secara gotong-royong dalam keluarga tersebut, dan bukan ditumpukan pada satu anggota saja.

Menjadi hal yang wajib dan wajar, apabila setiap orang yang menjadi anggota keluarga turut mendukung anak yang menghadapi ujian atau ulangan umum dengan menjadi teman belajar yang sehati dan mendamaikan. Caranya sederhana saja yakni, ikut mendukung suasana belajar yang sehati dan mendamaikan, menjaga nuansa ketenangan dan atmosfer belajar. Terlebih  jika anak-anak masih di tingkat SD. Penting bagi orangtua untuk menjadi teman belajar, minimal mengajak mereka untuk bertanya jawab pada latihan soal yang sudah dikerjakan oleh mereka. Banyak orangtua yang sudah menyerahkan semuanya pada bimbingan belajar di luar sana sehingga merasa tidak perlu lagi mendampingi anaknya belajar di rumah. Padahal sentuhan orangtua, menjadi kekuatan bagi mereka mengerjakan soal-soal ujian di sekolah.

Dukungan juga penting, sejak bangun tidur hingga malam menjelang tidur kembali. Banyak fakta yang terjadi , anak-anak terlambat tiba di sekolah karena terlambat bangun. Di mana peran orangtua, dalam hal ini ibu, untuk turut serta menjaga aura persiapan ujian di rumah? Diperlukan kerelaan untuk bangun lebih pagi, membangunkan mereka dan menyiapkan sarapan. Kalau sudah terlambat bangun, seringkali akhirnya tidak punya waktu untuk sarapan. Terengah-engah tiba di sekolah, menahan lapar sembari mengerjakan soal ujian selama dua jam penuh. Tidak ada yang bisa diharapkan maksimal dalam situasi seperti ini. Belum lagi, jika kartu peserta ujian lupa dibawanya karena terlambat bangun tadi, sehingga tidak sempat lagi mengecek perlengkapan ujian. Padahal, kartu ujian adalah tanda peserta boleh mengikuti ujian.

Menjadi teman belajar yang sehati dan mendamaikan dapat dilakukan lewat perhatian-pehatian kecil, menanyakan apakah anak tadi dapat mengerjakan dengan baik soal-soal ujian, mengapa tidak dapat menjawab, besok jadwal pelajaran apa yang diujikan dan lainnya. Sentuhan kecil yang sangat berarti, di tengah badai serba individualis oleh kemajuan teknologi, yakni  gadget yang sudah menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Gadget yang sudah mendekatkan teman yang jauh menjadi dalam genggaman, tetapi anggota keluarga yang sangat dekat menjadi ‘terlempar’ jauh lantaran masing-masing asik dengan dunia mayanya. Nyaris tidak ada komunikasi yang bermakna di rumah tersebut.

Kemajuan teknologi juga penting sebagai bukti kemajuan peradaban manusia di atas muka bumi ini, tetapi lebih penting menanamkan nilai-nilai humanis, karakter positif seperti saling menghargai, saling memperhatikan, jujur, dan banyak hal lain lagi. Semua itu dimulai dari kelurga, rumah yang nyaman dan peduli satu sama lain. Nilai-nilai dan karakter positif yang menjadi modal dasar anak ,menghadapi kemajuan peradaban manusia.

Tidak dapat dimungkiri, dunia pendidikan dewasa ini telah dapat diakses dengan sangat mudah melalui sumber terbesar yakni akses dunia maya. Hanya butuh klik satu laman, maka jendela dunia akan terbuka selebar-lebarnya. Semua orang dapat mempelajari apa saja yang ada di dalamnya, tetapi butuh kearifan untuk memilih dan memilah informasi di dalamnya. Keluargalah menjadi filter penyaringnya.

 

Luh Putu Udayati

Guru SMAK Santo Yoseph Denpasar

To Top