Kolom

IBU SEJATI

Ketika Ami kembali berkunjung atas undangan bapaknya, ia kembali heran. Nampak banyak ibu-ibu tetangga.
“Bapak mau latihan monolog lagi?”
Amat mesem.
“Sudah cukup, Ami. Semua tetangga sudah nonton,”
“Terus-terang saja Bapak takut sama Ibu?!”
Amat tersenyum.
“Apa salahnya takut sama istri yang baik!? Lihat itu!”
Ami kian heran. Di dapur banyak ibu tetangga.”
“Ada apa ini, Pak?”
“Arisan.”
Kok di dapur?”
Amat tak menjawab hanya menggiring Ami masuk. Dalam dapur para ibu nampak lagi sibuk memasak. Ada juga yang menyiapkan jajanan.
Ami hampir mau bertanya lagi. Tapi terdengar suara Bu Amat lantang dan jernih:
“Sebagai ibu yang baik aku datang ke kantor polisi, atas kemauan sendiri. Melaporkan putraku Ujang yang telah khilaf, sesat, bejat, buas. Ia teler lalu membantai satu keluarga ludas. Mengunci pintu dalam kamar  lalu membakar. Lima orang meninggal. Termasuk pacar Ujang sendiri. Alasannya tak ada. Ujang bilang ia tak tahu. Aku tak sadar, ibu, katanya….”
Ami terkejut,
Lho ini monolog? Ibu main monolog?”
“Sstttt!”
Ami takjub. Lalu berbisik lirih.
“Ami tahu monolog ini, judulnya: Ibu Sejati. Tentang seorang ibu yang melaporkan anaknya yang telah membunuh, dengan harapan pengakuannya akan meringankan vonis. Tapi sayang, hakim tetap menjatuhkan hukuman mati. Betul, tidak?”
“Ssttt!”
“Permintaan terakhir anak itu sebelum dieksekusi, minta izin makan bersama ibunya, seperti yang pernah dilakukan oleh siapa namanya itu?”
Amat kembali memberi isyarat:
‘”Sstttt!”
“Ya betul, monolog ini pasti inspirasinya dari situ. Waktu makan bersama ibu itu minta maaf. Anaknya berjiwa besar sabar menerima sebab waktu kejadian itu ia mabok tak ingat apa-apa. Ibunya yang justru merasa tambah berdosa. Kasihan…. ”
“Sssttt!”
“Dalam perjalanan pulang, depan pintu rumah, ibu itu jatuh. Tetangga tak ada yang mau menolong karena mengaggap ibu itu kejam, kok tega-teganya melaporkan anaknya sendiri. Tapi siapa lagi yang harus melaporkan dosa anak kalau bukan, kita ibunya, kata ibu itu!”
“Sssttt, Ami, hormati penonton, jangan dahului Ibu kamu!”
“Subuh pada saat eksekusi, ibu itu tak bisa menyaksikan eksekusi, karena ia terlalu menyesal dan mati menggantung diri,”
Beberapa ibu yang nonton terdengar mengisak. Tapi suara Bu Amat masih jelas terdengar:
“Matahari sekali lagi memanjat Timur. Hari akan terang. Penjahat sebenarnya tertangkap, Eksekusi dibatalkan. Ujang putra ibu yang baik bersiul pulang Ia beli sajadah baru di pinggir jalan. Oleh-oleh buat mama sayang, yang gagah berani menegakkan  kebenaran”
Amat langsung tepuk tangan. Ibu-ibu menyambut meriah. Tapi seorang ibu protes:
“Mengapa ibu itu dibunuh?”
Yang lain angkat tangan:
“Kalau di sini itu kejadian waktu ibu itu jatuh pasti kami tolong! Jadi dia tak akan bunuh diri”
“Hakim itu ceroboh menjatuhkan hukuman! Tuntut saja dia!”
“Ibu-ibu, silakan makan dulu sebelum gulainya dingin!” kata Amat memotong suara ibu-ibu yang berebutan mau ngasih kmentar, “habis makan, ini ada anak saya Ami yang paham cerita ini akan memberikan penjelasan. Silakan!”

To Top