Sosialita

Ayu Laksmi : Berkesenian di Ranah Tradisi

Beberapa minggu lalu Ayu Laksmi dan grup Svara Semesta menggelar pertunjukan di beberapa kota di India dalam event Divali Festival, International Yoga Festival serta Festival Seni dan Film. Ketiga event tersebut berlangsung di kota Rishikesh dan dihadiri lebih 2000 pengunjung yang datang dari 110 negara.

Dikatakan oleh penyanyi kelahiran Singaraja ini, pada waktu yang bersamaan juga berlangsung dua event lainnya, yaitu Rishikesh Art & Film Festival serta  Rishikesh Yoga Festival. Panggung pertunjukan sebenarnya bisa dikatakan sederhana tapi karena dibangun di pinggir Sungai Gangga mampu menciptakan kemegahan. Pertunjukan pun dilaksanakan ketika sinar matahari masih ada.

”Saya bersyukur memperoleh kesempatan berkali-kali tampil di Sungai Gangga, mengumandangkan lagu-lagu Svara Semesta. Hal ini sekaligus menjadikan saya  dapat melakukan persembahan sesaji dalam bentuk seni kembali untuk alam semesta,” ucapnya sambil menyebutkan nama para penampil Svara Semesta.  Mereka adalah Iyan Barlyanta (aktor teater, penari & yogi asal Ternate), Jasmine Okubo – koreografer- penari asal Jepang , Dewa Ayu Eka Putri (koreografer-penari asal Ubud), Ketut Rico Mantrawan (keyboard – gitar) dan Nyoman Suarsana (gamelan, suling, kupek ) serta bintang tamu Anjasmara (aktor film) dan yogi inisiator Indonesia-India Sanggam Indra Udayana.

Di sana, ia dan grupnya diterima sangat antusias oleh penonton baik yang berasal dari India juga para peserta Yoga Festival negara lainnya. “Orang bijak berkata, tidak ada yang kebetulan, sepertinya benar pernyataan itu. Bukanlah sebuah kebetulan saya memilih judul album saya Svara Semesta. Karena kini Svara Semesta tidak hanya sebuah nama album, tapi komunitas yang terdiri dari orang-orang pemuja keindahan, para konseptor serta pelaku seni musik, tari, sastra, teater, film dan spiritual . Komunitas ini berdiri tak sengaja, bersamaan dengan peluncuran album pertama saya, didukung oleh para penggerak dan pelaku seni,” papar Ayu laksmi yang memiliki konsep kolaborasi dalam berkesenian, yakni berbagi ruang dan berbagi riang. Ia juga berkeyakinan kalau “alone we can do so little but together we can do so much” . 

Soal undangan tampil di luar negeri, Ayu Laksmi mengakui memang sering mendapatkannya. Diantaranya beberapa negara di Eropa, Tiongkok dan India. Terutama untuk India dalam kurun waktu tiga tahun ini ia rutin tampil di berbagai festival. Dikatakan jika sebelumnya saat mengundang sering panitia tidak mampu membiayai keseluruhan pendanaan, apalagi untuk grup seni dengan anggota yang banyak. Sempat ia merasa dilema, karena tidak bisa memberangkatkan anggota grupnya. Namun bersyukur setelah cukup lama berjuang, dua tahun terakhir  akhirnya  proposalnya direspons beberapa Kementerian. Ayu  Laksmi pun bisa lebih maksimal dalam menggelar sebuah pertunjukan. “Walau belum bisa dikatakan seluruh keperluan yang ideal dapat terpenuhi atau sempurna, namun bagaimanpun keadaanya telah jauh lebih baik,” jelasnya.

 

ADA DI DIRI SENDIRI

Menurut Ayu Laksmi seringnya tampil sendiri juga menjadikannya terbiasa berkolaborasi, siap tampil dalam situasi apapun dan bersama siapapun. Kondisi ini juga membuatnya berkeinginan memainkan alat musik saat di panggung. Ia  pun belajar alat musik tradisi dari Karangasem. Kini dalam setiap pementasannya Ayu Laksmi selalu ditemani alat musik, baik saat tampil secara solo maupun grup.  “Jika mau jujur tentu lebih nyaman bisa tampil bersama grup saya Svara Semesta,” tandasnya.

Dukungan dari Kementerian Pariwisata ini membuatnya merancang serta menggelar sebuah pertunjukan untuk lebih bernuansa Indonesia baik dari penyajian musik, tari dan busana. “Saya pula mulai membiasakan diri untuk selalu memperkenalkan diri saya dalam setiap pemanggungan saya,” Good evening ladies and gentlemen , first of all I ‘d like to introduce myself I’m Ayu Laksmi, from Bali Indonesia” . Jadi bukan hanya mengenalkan Bali tapi juga Indonesia,” paparnya.

Where there is a will there is a way“, “Tidak ada yang kebetulan” ,”If it means to be it will be” merupakan  beberapa quotes yang mendasari  pikiran Ayu Laksmi dalam menjalankan aktivitasnya . Berupaya semaksimal mungkin,  terus menerus bergerak, mencoba dalam kesempatan lain sekalipun beberapa kali bertemu dengan kegagalan, dan mencoba untuk tidak mudah putus asa atau berpatah semangat.

Ayu Laksmi bicara perjalanannya bermusik. Ia pun mengenang kembali masa lalu, yakni di tahun 2002 saat Bali diguncang Bom Bali 1, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia kembali ke ranah tradisi, menjadi perempuan Bali,  menjadi anak bangsa yang cinta akar budayanya, adat istiadat. Utamanya, dalam hal berkesenian, seni musik dan seni suara.  Sebab  sebelumya ia pernah agak kebarat-baratan, mulai dari berkesenian sampai dengan berbusana. Ia merasa belum bertemu keinginan murni dari dalam diri, belum membuat karya yang  mencerminkan dirinya perempuan Indonesia, dan belum berkontribusi untuk kepentingan orang banyak.

Ketika tak ada orang lain di sekitarnya, hanya dirinya sendiri, ia pun menemukan yang selama ini dicarinya, ternyata jawabannya ada pada diri sendiri. Sejak itu ia lebih percaya diri dan membuat karya yang original. Di awal katanya masih ada keraguan sehingga ketika mulai berproses dilakukan diam-diam, jika sudah usai baru boleh didengar, dikomentari, dan dikritik. Untuk ini Ayu Laksmi  bangga dikelilingi saudara, sahabat yang cukup sarkastik, hingga ia terbiasa menghadapi kritik, yang dianggap perwujudan dari sebuah bentuk kasih sayang serta  bisa jadi kekaguman yang disajikan dengan cara dan penyampaian berbeda. (Sri Ardhini)

 

Restu Ibu sebagai Spirit

Bagaimanapun bagi seorang Ayu Laksmi masa lalu sangat indah untuk dikenang. Masa  kini adalah masa nanti. Apa yang dirancang di masa lalu, terjawab di masa kini, dan apa yang  dirancang di masa kini adalah bekal menghadapi masa nanti. Siapa yang merancang dan melaksanakan adalah diri kita sendiri. Orangtua hanya bertugas di awal kehidupan, kakak hanya bisa memberi contoh , dan teman bisa dijadikan referensi, selanjutnya menjadi tugas kita sendiri untuk dapat melanjutkan hidup secara mandiri. “Saya bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu mendukung segala aktivitas saya. Buat saya ini penting, restu seorang ibu adalah utama buat kekuatan spirit saya untuk tetap berkarya. Ibu saya I Gusti Ayu Sri Haryati  berusia 84 tahun dan sampai kini masih tetap bekerja sebagai seorang dokter gigi dan waktu  luangnya digunakan untuk menjahit. Sungguh menginspirasi hidup saya dan sebuah lagu original karya saya  di tahun 2008, terinspirasi dari ibu saya. Lagunya pun  menjadi bagian dalam album Svara Semesta I,” ungkapnya.

Karya original yang digarapnya sejak tahun 2002 , baru tahun 2010 terealisasi, yang pertama, sebuah karya murni yang meski dengan segala keterbatasan. Ayu Laksmi ketika itu mencoba mencipta beberapa lagu, merancang musik dasar, sekaligus memproduseri  sendiri albumnya yang berjudul Svara Semesta. Album yang bertemakan penghormatan terhadap berbagai keberagaman , tersajikan dalam nuansa tradisi Indonesia dengan istilahnya kini bergenre “world music”. Tahun 2015 kembali berhasil meluncurkan album yang kedua bernama Svara Semesta 2.

Kini Ayu mengemas pertunjukannya bukan hanya untuk seni musik, tapi dalam sajian  theatrical music show, penggabungan antara seni musik, suara, sastra , teater dan visual art. Tema yang dipilihnya  tetap berakar pada Bhineka Tunggal Ika atau unity in diversity. Apalagi sejak dulu kumpulan lagu dalam album Svara Semesta sering ditampilkan dalam panggung festival atau menjadi bagian malam kultural berbagai kongres atau pertemuan bertaraf internasional.

Seiring berjalannya waktu dan atas kuasa Sang Pencipta, karya -karya Ayu Laksmi juga direspons oleh para sineas film. Baik itu sineas Indonesia juga sineas asing, menggunakan lagunya untuk ilustrasi musik film  TV, film dokumenter dan film layar lebar. “Tentu saja kebanyakan dari mereka adalah para sineas yang idealis, dimana film yang dibuat adalah film festival bukan film komersil. Film yang memakai lagu saya diantaranya film Ngurah Rai, Jaya Pangus, dan  Bali is My Life. Namun kini sudah  ada film layar lebar komersial yang tertarik  memakai salah satu karya saya yang diambil dari album Svara Semesta 2,” kata Ayu Laksmi yang senang mengisi waktu luangnya dengan melukis, meditasi dan yoga ini.

Yang menarik lainnya dari Ayu Laksmi adalah beberapa  lagu juga diapresiasi mulai dari anak-anak,  para intelektual, hingga budayawan dan sastrawan,  terutama lagu  yang menggunakan sastra Jawa Kuno atau bahasa Kawi. Hingga ia diminta  tampil dalam  komunitas anak anak muda, sekaligus memberi workshop  seputar tema motivasi ,”pemberdayaan talenta dan keahlian”  Selain itu mulai awal bulan April ini ia akan ikut dalam sebuah pembuatan film layar lebar. Judul dan sutradaranya masih rahasia. Aktivitas lainnya ia juga akan ikut meramaikan Festival Monolog 100 karya Putu Wijaya. (Sri Ardhini)

 

To Top