Edukasi

Wisuda Sarjana XXXVIII IKIP PGRI Bali: Bekali IT dan Kewirausahaan

Rektor Made Suarta mewisuda 95 wisudawan, Selasa (21/3) di Inna Bali Beach Hotel.

Guru tak hanya digugu dan ditiru. Tugasnya juga mengawal dan mennyemangati murid-muridnya di tengah arus globalisasi untuk juga bisa berkompetisi. Dengan selalu tetap menjaga etika dan kesopanan sehingga menjadi contoh yang baik. Tak hanya cerdas akademik, namun cerdas tapi beretika dan berdedikasi tinggi. Demikian sekelumit kesan dan pesan perwakilan wisudawan, Ketut Kusuma Wardani yang juga menjadi lulusan terbaik, yang disampaikan dalam Wisuda Sarjana XXXVIII IKIP PGRI Bali, Selasa (21/3) di Inna Bali Beach Hotel.

Pada wisuda kali ini, IKIP PGRI melepas 95 wisudawan dari 4 fakultas yakni, Fakultas Ilmu Pendidikan, FPBS, FP IPS, MIPA dan FPOK. Menurut Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum, meski wisuda kali ini jumlah pesertanya terkecil sepanjang sejarah namun cukup istimewa. “Wisuda terkecil tapi banyak sekali kami berikan pembekalan mulai dari skill. Mereka di bangku kuliah sudah dapat pembekalan IT dua semester termasuk mendapatkan sertifikat IT,” jelasnya.

Ia mengatakan, tantangan global yang ada untuk para alumni perlu disikapi dengan memberikan inovasi pembelajaran di kampus. Kampus IKIP PGRI Bali tak hanya mencetak tenaga kependidikan atau guru, namun juga membentuk wirausahawan muda. Program entrepreneurship, disebutkan Rektor Suarta akan terus dikembangkan diluar disiplin ilmu yang dipelajari di kampus. “Sering saya katakan, ciptakan kran kedua, jangan hanya terpaku hanya pada satu kran saja. Itu istilah kami,” jelasnya.

Hingga wisuda XXXVIII, IKIP PGRI Bali telah menamatkan 20.604 calon guru. Mereka  menjadi guru PNS dan swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Secara profesional, mereka yang dilepas telah memenuhi empat kompetensi guru, yakni kompetensi profesional, kepribadian, sosial, dan pedagogik.

Sepanjang pengamatan dan penelusuran yang dilakukan, tamatan IKIP PGRI Bali semua terserap di dunia kerja. Jika tidak, mereka akan berwirausaha sesuai inovasi dan kompetensi yang dimiliki alumni.

Ketua Yayasan PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. mengatakan, pilihan menjadi guru adalah sangat mulia. Bangsa ini menjadi terhormat dalam pergaulan dunia ketika melahirkan anak-anak cerdas dan berpendidikan. Tak bisa dibayangkan nasib bangsa ini jika kita tak memperhatikan nasib guru. Karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera mengangkat guru baru untuk mengisi posisi guru di sekolah yang segera memasuki masa pensiun. “Betapa menakutkan jika kekurangan guru di Bali ini sampai diisi guru asing,” ucapnya.

Di sisi lain, ia menyatakaan kebanggaannya bahwa lulusan SLTA memilih studi lanjutnya di IKIP PGRI Bali. Apalagi kampus ini kini sedang berjuang meningkatkan status menjadi universitas dengan modal semua Prodi terakreditasi B. Untuk mendukung tujuan itu, yayasan sudah membangun gedung lantai 4 dengan 23 ruang perkuliahan. Ia juga berharap tahun ini KIP PGRi bali mampu melahirkan guru besar secara mandiri.

Koordinator  Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. mengingatkan, saat ini budaya mutu telah menjadi isu sentral  dalam pengembangan pendidikan, terutama di jenjang Pendidikan Tinggi. Mutu tidak lagi hanya menjadi gaya hidup pakem bagi setiap insan yang terlibat dalam dunia pendidikan. Peningkatan kualitas melalui berbagai jalur pendidikan tidak akan pernah berakhir. Dunia terus bergerak dan berubah begitu cepat. Siapa saja yang tidak mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan perubahan, maka akan tergilas. “Karena itu, setiap insan termasuk para wisudawan yang diwisuda saat ini wajib mempersiapkan diri sebaik-baiknya, terutama kesiapan mental dan berbagai kecakapan (skill) sehingga bisa tetap eksi dalam menghadapi dan menikmati gelombang persaingan,” pungkasnya. –ten

To Top