Kolom

Film bukan Media Hiburan Semata

Yudi

Serombongan anak menyaksikan film animasi “Moana” di sebuah bioskop di sebuah mall di Denpasar beberapa waktu lalu. Usai mengantri tiket, membeli soda dan pop corn, mereka beramai-ramai memasuki ruangan. Dimanakah orangtuanya ? Siapa yang mendampingi mereka saat menonton film layar lebar itu ?
Bila mempertimbangkan kemandirian, anak-anak zaman sekarang  cukup berani mengambil keputusan. Dengan gawai di tangan, mereka bisa merancang rencana dengan rekan-rekannya untuk sekadar “hang out” atau mengorder makanan lewat jasa antar tanpa perlu repot-repot keluar rumah. Telepon pintar di tangan mereka menjadi sahabat sejati yang bisa diajak kerja kelompok secara online, mengerjakan tugas-tugas sekolah tanpa perlu tatap muka dengan rekan-rekannya. Browsing mencari lagu atau film release terbaru, bertarung dalam game online atau sekadar mengubah status di jejaring sosial untuk meningkatkan relasi dan popularitas, menjadi keperluan utama generasi digital ini. Eksis dan kekinian itulah yang diinginkan.
Deras arus informasi ditunjang dengan tingginya rasa ingin tahu anak, tanpa sadar memacu mereka berkembang menuju pendewasaan lebih cepat yang disangka. Tinggal lingkungan di sekitar mereka baik itu orangtua, guru atau saudara sekitar, bereaksi merespons keberadaan anak-anak generasi digital ini. Apalagi bila mereka memasuki masa remaja kemudian dalam proses pencarian jati diri. Begitu banyak pertanyaan yang akan mereka lontarkan dan harus dijawab. Siapa yang menjawab ? Gawai-kah?
David Gilmour pernah memiliki pengalaman menarik seputar hubungannya dengan anaknya, Jesse yang beranjak remaja. Kritikus film asal Kanada yang juga dosen tamu di Universitas Toronto itu, seperti dituturkan dalam bukunya “The Film Club,” mengatakan semula dirinya tidak siap menghadapi perkembangan Jesse. Puncaknya adalah saat sang putra  itu ingin berhenti sekolah karena dianggap membosankan dan tidak perlu.
Sebagai orangtua, David menyadari pendidikan formal perlu diberikan  kepada anak sebagai pegangan menghadapi masa depan. Jika jalur formal lewat pengajaran di sekolah tidak memungkinkan, mengapa tidak mencari alternatif lain yang bisa diberikan orangtua kepada putra. Setidaknya dengan membekali anak dengan pelajaran kemandiran dan pematangan mental hal itu membawa anak mampu survive dalam menghadapi kompetisi hidup.
David pun meminta satu hal sebelum Jesse mengambil keputusan berhenti dari sekolah yakni nonton tiga film dalam sepekan secara bersama-sama. Kata “bersama-sama” lebih ditekankan karena dalam hal ini Gilmour ingin berdiskusi dengan Jesse tentang film yang baru saja di tonton. Lewat diskusi itu Gilmour ingin melihat reaksi Jesse dan membangkitkan kepedulian dia baik pada dirinya sendiri atau masa depannya serta orang-orang di sekitarnya.
Maka disusunkan ‘kurikulum film’ dengan bekerjasama dengan penyewaan video Queen di Toronto. Seratusan film dari berbagai genre disiapkan dari level terberat sampai terburuk, dari sarat muatan pendidikan sampai seringan pop corn, dari horor, perang, kriminal sampai romantika percintaan.
Tanpa disadari, film menjelma menjadi media pembelajaran dalam memahami warna-warni kehidupan bagi siapapun penontonnya. Ia tidak hanya mampu meluruhkan keteguhan kita namun juga merontokan hati kita bila menyaksikan adegan-adegannya. Saksikan saja saat Audrey Hepburn memetik gitar di tepi jendela apartemennya sambi mendendangkan lagu “Moon River” pada film “Breakfast at Tiffany’s.”  Atau, wajah menawan Macaulay Culkin yang bergaya bak orang dewasa menggunakan ‘aftershave’ dalam “Home Alone.” Berbagai karakater Johnny Deep yang  kita bisa menganggap dia adalah berbagai orang lain yang bisa menghibur tapi menjengkelkan, teman sekaligus rival, egois namun menolong banyak orang seperti dalam karakter Jack Sparrow (Pirates of the Caribbean), Tonto  (the Lone Ranger) atau Willy Wonka (Charlie and the Chocolate Factory) .
Pada akhirnya, bila menonton film tidak hanya sebagai media hiburan saja, maka banyak bisa didapat. Begitu banyak nilai-nilai hidup terselip di dalamnya mulai romantika hubungan perkawanan, lintang pukang manusia mengelola dirinya atau petualangan-petualangan hingga mencapai batas kemampuan yang harus dijalani pelakunya. Itu bisa menjadi bekal untuk memperkaya pengalaman batin seseorang seperti pada kasus Jesse yang akhirnya memahami apa arti tanggungjawab selain kebebasan yang ia tuntut.
Yang tak kalah  penting adalah peran orangtua dalam mendampingi putra-putrinya saat menonton film. Mereka lebih dituntut untuk memberikan pemahaman hidup yang mudah dicerna anak lewat jawaban-jawaban cerdas nan menarik. Disi lain, relasi ini akan meningkatkan kualitas hubungan anak dan orangtua yang semata tidak hanya kuantitas pertemuannya saja. David pun tak ragu melepas anaknya menuju masa depan.

 

Yudi Winanto

Pecinta Film

To Top