Kolom

AH

Terinspirasi oleh ulah bapaknya, Ami, tak mau kalah. Ia juga tak ingin kena Alzhaimer (pikun berat), lalu berniat mendaftar ikut Festival Monolog Bali 2017.
“Saya mau memainkan naskah AH, tentang dokter yang tugas kerja di pedalaman dan diminta penduduk setempat menghidupkan kepala suku mereka yang kepalanya sudah terpenggal oleh musuh dalam perang suku,” kata Ami kepada suaminya.
Suami Ami terkejut. Belum sempat bertanya, Ami sudah nyerocos lagi, “dan saya tidak mau main di dalam gedung. Saya mau main di kandang babi.”
Bukan hanya suami Ami, Amat dan istrinya juga kaget. Bu Amat langsung memaksa suaminya melobi Ami. “Jangan biarkan anak Bapak itu kumat lagi kepala batunya! Mau ikut festival, boleh saja, tapi yang bener! Masak mau monolog di kandang babi?!”
Amat mencoba menjelaskan.
“Bu, festival monolog ini tujuannya untuk mendekatkan teater modern pada masyarakat dan teater tradisi. Murah, meriah. Tidak harus main dalam gedung. Main di lapangan, di halaman rumah, di dalam rumah seperti yang Bapak lakukan, juga mungkin di kuburan seperti yang biasa dilakukan oleh tontonan tradisi itu, ya  boleh-boleh saja. Jadi ada tujuan mulianya!”
Bu Amat memotong.

“Ah, banyak alasan! Nanti dia mau main di kandang macan lagi! Ibu tahu, tujuannya hanya satu: dia tidak suka Bapak ikut-ikutan orang muda! Orang tua harus sadar diri sebagai orang tua saja!”
Amat tertegun. Lalu dia nyamperin Ami ke rumahnya.
“Jadi, sebenarnya tujuanmu, hanya untuk mencegah supaya Bapak tidak jadi ikut festival, begitu Ami?”
Ami bingung, tak menjawab.
“Tidak usah berkilah! Kalau ya bilang ya! Kalau tidak juga bilang ya! Karena itu pasti kehendak bawah sadarmu! Bapak ini dulu guru, jadi tahu ilmu jiwa. Bawah sadar itu, seperti kata Freud pakar ilmu jiwa itu, adalah musuh dalam selimut dalam kepribadian, kita! Kamu harus waspada! Kalau mau melarang Bapak ikut festival tunjukkan yang Bapak lakukan itu tidak pantas ditontonkan, Bapak akan mundur teratur! Tapi para tetangga kan sampai menangis menonton dan kamu sendiri keplok tangan? Ingat? Berarti tontonan Bapak bagus! Ya tidak?”
Tiba-tiba Ami tersenyum.
“Tunggu dulu. Sebetulnya Bapak ke mari memang mau memarahi Ami, karena menuduh Ami melarang Bapak ikut festival, atau mau bertanya apa betul saya mau main di kandang babi?”
Amat terhenyak.
“Terus-terang saja, Pak.”
Amat memarik nafas panjang.
“Ayo, jangan dikacau bawah sadar Freud.”
“Ingin bertanya mengapa kamu mau main di kandang babi.”
“Baik. Denger baik-baik,! Itu bukan saya. Saya tidak berbakat main drama. Itu usul Ami kepada Ibu, karena Ibu ternyata ingin juga ikut festival melihat latihan Bapak sukses. Paham?”
Amat tercengang.
“Dan yang kedua, bukan saya yang tak suka lihat Bapak ikut monolog, tapi Ibu! Kenapa? Sebab Ibu takut kalau nanti sukses, Bapak berubah! Ibu sudah puas dengan apa adanya Bapak sekarang. Jujur, sederhana dan ikhlas! Paham?”

To Top