Dara

Riris Indah : Ingin Tontonan Khusus Anak-anak

Melihat perkembangan film Indonesia dari masa ke masa terutama saat ini, pastilah menarik jika dijadikan  topik diskusi. Apalagi kita dapat melihat berbagai film Indonesia bukan hanya di bioskop tapi juga dapat menontonnya melalui televisi. Menonton film pun bukan sekadar hiburan , malah ada yang menjadikannya hobi.

Luh Riris Indah Rahma Putri yang berulang tahun tiap 5 September ini telah menggumuli dunia FTV sejak 3 tahun silam. Ia memiliki kesan tersendiri tentang perfilman Indonesia. Menurutnya dalam sebuah film kita dapat melihat imajinasi sutradara yang dituangkan secara apik. Dengan perkembangan film Indonesia yang semakin pesat di setiap tahunnya, penonton disuguhkan film – film berkualitas di berbagai genre.

Riris begitu panggilan, sebagai salah seorang satu pelaku industri film TV, mengatakan setiap tahun warna film akan semakin berwarna. Tak ada lagi satu genre yang menguasai bioskop, tapi mulai dari komedi hingga film yang bertemakan politik. “Bahkan banyak pula hadir komunitas film-film independen di Indonesia dengan sinematografi yang baik,” ujar Duta Endek Kota Denpasar tahun 2015 dan tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Ekonimi, Undiknas University ini.

Ditanya soal pengalaman pribadinya berkuat di depan kamera Riris pun berkisah jika dirinya mulai terjun ke dunia layar kaca, khususnya FTV sejak masih kelas 1SMA. Awal mulai ikutan syuting , ia hanya tampil sebagai figuran. Syutingnya pun sampai seharian, menunggu dari pagi sampai pagi lagi dan harus standby dari awal mulai syuting sampai akhir.

Setelah cukup lama Riris melakoni akting sebagai figuran, rupanya setahun kemudian ia pun mulai mendapatkan kesempatan yang lebih baik. “Setelah hampir setahun, saya baru mulai dapat dialog  dengan peran sebagai pelayan, suster, ataupun yang lainnya,” ujar sulung dari tiga bersaudara buah hati pasutri  Luh Putu Trisnawati dan  Pande Ketut Suartama ini.

Pengalaman FTV yang paling berkesan bagi Riris saat “Ku Ukir Senyummu di Langit Ubud”.  “Proses syutingnya paling lama dibandingkan judul sebelumnya. Prosesnya yang sebenarnya 4 setengah hari ternyata berlanjut hingga 7 hari. Selama proses syuting setiap harinya selesai sampai pukul 1 malam dan bisa lebih sampai pukul 6 pagi. Keseluruhan proses yang cukup lama memberikan kesan tersendiri dan pengalaman yang berbeda buat saya,” tuturnya.
Kembali bicara soal  film Indonesia, khususnya  yang beredar saat ini , Riris yang menyukai semua genre film ini, menyebut judul film “Cek Toko Sebelah “ sebagai film Indonesia disukainya.  “Awalnya terlihat kurang menarik tapi setelah ditonton, walaupuan tergolong drama komedi tapi semua scene-nya, feel-nya dapet banget baik itu rasa sedihnya sampai happy-nya. Sebagian besar scene-nya memang membuat kita tertawa tapi beberapa scene juga sukses membuat penonton menangis,” lanjut Riris..
Namun, Riris masih merasakan ada yang perlu dibenahi. Sekarang perfilman untuk layar lebar sudah sangat berkembang dan semkin berkualitas karena ide stori dan karakter pemain yang semakin bagus aktingnya. Namun, untuk film di layar kaca masih kurang  banyak  rumah produksi nasional yang kreatif dalam pembuatan cerita yang bisa menyampaikan pesan positif bagi penontonnya. “Terutama bagi anak kecil. Mereka saat ini lebih banyak menyaksikan tontonan sinetron yang sebenarnya lebih pas untuk para remaja dan bukan untuk konsumsi anak-anak,” tandas Riris yang ingin sukses di bidang desainer, tatarias, fotografi dan kuliner ini. (Sri Ardhini)

 

 

To Top