Bunda & Ananda

PENYAKIT KUTU RAMBUT

 

Dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera

Anak usia sekolah adalah suatu masa usia anak yang sedang dalam periode belajar. Mendapatkan banyak permasalahan kesehatan akan sangat menentukan kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut di antaranya dapat berupa masalah kesehatan umum yang nantinya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah.

Penyakit kutu rambut merupakan satu masalah kesehatan pada anak usia sekolah terutama pada tingkat pra sekolah, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Penyakit kutu rambut atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama Pedikulosis kapitis, merupakan suatu infeksi atau infestasi kutu kepala yang disebabkan oleh ektoparasit spesifik yang terbatas pada rambut kepala, walaupun sesekali juga dapat terlibat daerah janggut. Penyakit ini sering diabaikan terutama di negara yang terdapat prioritas kesehatan lain yang lebih serius, karena dianggap tidak terlalu penting serta tidak mengancam nyawa. “Faktor risiko penyakit ini adalah usia muda terutama anak-anak pada kelompok umur 3 – 11 tahun. Hal ini mungkin disebabkan karena kebiasaan anak bermain bersama (kontak erat dengan penderita), berbagi alat-alat seperti topi, sisir dan lainnya,” ujar dr. Ni Komang Wulan Putri Tjatera, dokter fungsional di Puskesmas I Denpasar Selatan.

Selain itu dikatakan juga jenis kelamin perempuan lebih sering terkena penyakit kutu rambut karena perempuan hampir semuanya memiliki rambut yang lebih panjang daripada laki-laki. Menggunakan tempat tidur bersama, mengunakan sisir atau aksesoris rambut bersama, rambut yang panjang, frekuensi cuci rambut yang jarang, tingkat sosial ekonomi yang rendah, dan kepadatan tempat tinggal juga menjadi faktor risiko terkena penyakit kutu rambut ini.

Tingkat kebersihan diri yang rendah juga dapat mempengaruhi prevalensi pedikulosis, walaupun disebutkan juga bahwa infestasi kutu bukan merupakan indikator tingkat kebersihan seseorang, karena pada dasarnya penyakit ini dapat diderita siapapun. Pedikulosis kapitis banyak menyerang anak sekolah yang tinggal di asrama karena banyaknya faktor pendukung infestasi penyakit ini seperti kebersihan yang kurang dan kebiasaan pinjam meminjam barang.

Penyebab dari Pedikulosis kapitis ini adalah Pediculus humanus var capitis, yaitu suatu ektoparasit spesifik yang hidup di kepala manusia dan memperoleh sumber makanan dari darah yang dihisapnya 4-5 kali sehari atau sekitar setiap 4-6 jam. Rentang hidup kutu sekitar 30 hari dan dapat bertahan hidup di lingkungan bebas sekitar 3 hari, sedangkan  telurnya dapat bertahan hidup di lingkungan bebas sekitar 10 hari.  Daur hidupnya sangat tergantung pada manusia, tidak dapat melompat ataupun terbang, tetapi kutu tersebut akan merayap untuk berpindah dengan kecepatan 23 cm per menit. Walaupun pada seluruh bagian kepala dapat menjadi tempat kolonisasi, tapi kutu kepala lebih menyukai daerah tengkuk dan bagian belakang telinga.

Telur kutu berbentuk oval dan umumnya berwarna putih. Telur diletakkan oleh betina dewasa pada pangkal rambut, sekitar 1 cm dari permukaan kulit kepala, dan akan bergerak ke arah ujung rambut sesuai dengan arah pertumbuhan rambut. Telur kutu ini akan menetas setelah 7-10 hari menjadi nimfa dan akan menjadi kutu dewasa dalam waktu 9-12 hari.

Penularan pedikulosis dapat melalui kontak langsung dengan penderita maupun kontak tidak langsung dengan benda-benda yang terinfeksi seperti sisir, handuk, bantal, topi ataupun aksesoris rambut yang digunakan bersama.

Gejala dari Pedikulosis kapitis ini adalah rasa gatal pada kulit kepala yang timbul akibat air liur dan kotorannya. Rasa gatal akan mengakibatkan orang yang terinfestasi untuk menggaruk kepala. Kebiasaan menggaruk yang sering dapat menyebabkan iritasi, luka, serta infeksi sekunder. Jika terjadi infeksi sekunder berat, karena banyaknya nanah dan cairan luka maka akan mengakibatkan penggumpalan rambut yang dapat ditumbuhi jamur. Banyak sekali dampak yang dapat ditimbulkan oleh infestasi pedikulosis kapitis ini, baik dampak kesehatan dan juga psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak yang terinfestasi. Selain mengakibatkan efek pada kulit, penderita pedikulosis kapitis ini, juga dapat mengalami anemia. Rata-rata anak dengan pedikulosis aktif akan kehilangan 0.008 ml darah per hari atau 20.8 ml/bulan, yang mana gejalanya mungkin tidak terlalu terlihat pada anak dengan asupan gizi yang baik, namun secara signifikan akan terlihat pada anak yang kurang asupan gizi atau zat besi. Frekuensi pola makan kutu pun mempengaruhi potensi anemia yang dialami penderita pedikulosis kapitis. Infestasi berat pedikulosis kapitis yang menyebabkan anemia akan membuat anak-anak lesu, mengantuk serta mempengaruhi kinerja belajar dan fungsi kognitif. “Rasa gatal ini disebabkan oleh injeksi air liur kutu ke dalam kulit kepala dan menyebabkan reaksi alergi. Rasa gatal yang berlebihan dan berkelanjutan akan menyebabkan gangguan tidur terutama karena aktivitas Pediculus capitis yang meningkat di malam hari,” jelas dr. Wulan.

Rasa gatal akan mengakibatkan gangguan tidur, dan gangguan tidur yang persisten akan menimbulkan dampak negatif berupa menurunnya daya konsentrasi, penurunan ketajaman memori, sensorik, motorik dan kognitif, yang dapat menyebabkan gangguan prestasi belajar pada anak.

Dari sisi psikologis, infestasi Pediculus capitis membuat anak merasa malu karena diisolasi dari anak lain akibat anak-anak lain takut tertular parasit ini. Anak-anak yang menderita penyakit ini cenderung mengalami masalah psikis yaitu merasa malu, rendah diri, terisolasi, rasa takut, bahkan frustasi akibat stigma masyarakat yang menganggap pedikulosis kapistis identik dengan higienitas yang buruk, kemiskinan serta kurangnya perhatian dari orangtua.

Penanganan dari Pedikulosis kapitis ini bertujuan untuk memusnahkan semua kutu dan telur serta mengobati infeksi sekunder bila ada. Metode pengobatan mencakup metode fisik maupun kimiawi. Metode fisik yang dapat digunakan adalah memotong rambut sependek mungkin untuk mencegah infestasi dan membantu agar obat topikal bekerja lebih baik. Selain itu penggunaan sisir bergerigi halus dan rapat yang sering kita sebut dengan sisir serit membantu untuk menyingkirkan kutu dan telurnya. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida atau pedikulosid, telah secara luas dipakai di seluruh dunia. Insektisida mudah dan nyaman digunakan serta hasilnya sangat efektif. Akan tetapi, telah disadari adanya efek samping yang potensial dan juga banyak ditemukan terjadinya resistensi tungau terhadap beberapa insektsida. Pedikulosid ini sebaiknya tidak digunakan pada anak usia kurang dari 2 tahun. Pengobatan kimiawi yang biasanya digunakan antara lain :

  1. Malathion

Pengobatan secara topical di antaranya dengan memberikan malathion 0,5% atau 1 % dalam bentuk lotion atau spray. Lotion digunakan malam hari sebelum tidur setelah rambut dicuci dengan shampoo, kepala ditutup dengan kain selama 1 malam, keesokan harinya rambut dicuci lagi dengan shampoo, lalu disisir dengan menggunakan sisir serit

  1. Permetrin

Pengobatan secara topical dengan menggunakan 1 % dalam bentuk cream rinse diaplikasikan selama 10 menit.

  1. Gameksan 1 %

Pengobatan dengan menggunakan gameksan krim 1 % paling mudah didapatkan di Indonesia. Krim dioleskan ke kulit kepala yang telah dicuci dengan shampoo lalu dibiarkan selama 12 jam, kemudian dicuci kembali dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas.

Pengobatan dengan ketiga bahan kimia tersebut di atas dapat diulang seminggu kemudian, apabila ternyata masih ditemukan kutu pada kulit kepala. Sedangkan pengobatan untuk infeksi sekunder dapat menggunakan antibiotika sistemik dan/atau topikal, setelah sebelumnya rambut dipotong pendek. Metode pengobatan lainnya dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di rumah seperti mayones, petroleum jeli, minyak zaitun, margarine, ataupun gel rambut digunakan dengan mengaplikasikannya dengan banyak dan tebal pada rambut dan kulit kepala. Hal ini dikatakan dapat memperlambat gerakan kutu dewasa dan memudahkan untuk disisir , tetapi tidak dapat mematikan kutu yang ada. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi kekambuhan.

Edukasi keluarga tentang pedikulosis kapitis sangat penting diberikan sebagai pencegahan. Selain itu menghindari adanya kontak langsung (rambut dengan rambut) ketika bermain dan beraktifitas di rumah maupun di sekolah, tidak menggunakan pakaian seperti topi, scarf, jaket, kerudung, aksesoris rambut secara bersama, tidak menggnakan sisir, handuk secara bersamaan, melakukan desinfeksi sisir dari orang yang terinfestasi dengan merendamnya dalam air panas selama 5-10 menit, merupakan cara pencegahan penularan pedikulosis kapitis. Anggota keluarga dan teman bermain anak yang terinfestasi harus diperiksa, namun pengobatan hanya diberikan pada yang terbukti mengalami infestasi. Kerjasama semua pihak dibutuhkan agar eradikasi dapat tercapai.  –Inten Indrawati

To Top