Edukasi

Prof. Sulistyawati: Raih Doktor Tiga Kali

Prof. Sulistyawati bersama suami

 Menghadapi pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak tahun 2015, Bali sebagai gerbang utama pariwisata Indonesia harus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Pariwisata Hindu (SDM PHB) di Bali. Adat istiadat menyebabkan SDM PHB memiliki komitmen rendah karena frekuensi absen yang cukup sering yang digunakan untuk urusan adat. Fenomena ini menarik untuk diteliti oleh Prof. Dr.Ir. Sulistyawati, M.S.,M.M.,M.Mis.,D.Th., dan diangkat menjadi topik disertasi dalam Program Studi Doktor Pariwisata Program Pascasarjana Universitas Udayana, dengan mengambil judul “Strategi Peningkatan Jabatan Sumber Daya Manusia Pariwisata Hindu di Bali ke Tingkat Manajer pada Hotel Berbintang di Bali”. Dengan masa studi Program Doktor Pariwisata yang berhasil ditempuh dengan waktu yang relatif singkat, nilai-nilai mata kuliah yang diperoleh sangat memuaskan, serta topik disertasi yang diangkat sangat menarik, Prof. Sulistyawati menjadi lulusan terbaik Program Doktor Universitas Udayana 2017, dan meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,87.

Prof. Sulistyawati bersama keluarga

Wanita berusia 71 tahun ini merumuskan beberapa permasalahan untuk diteliti, (1) Bagaimanakah kompetensi SDM PHB pada hotel berbintang di Bali? (2) Bagaimanakah kendala yang dihadapi SDM PHB untuk mampu menduduki posisi manajer pada hotel berbintang di Bali? (3) Bagaimanakah strategi peningkatan  jumlah SDM PHB untuk bisa menduduki posisi manajer pada hotel berbintang di Bali?

Ia mengatakan, penelitian ini memakai metode triangulasi konkuren, dengan pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner. Penentuan sampel secara purposive sampling. Lokasi penelitian berada di Sanur, Kuta, dan Nusa Dua.  Data dianalisis dengan teori motivasi McClelland (1976), teori kompetensi Spencer dan Spencer (1993), teori Kontrol Subernetika Parsons (1951), teori Culture and Personality Kluckhonn dan Strodtbeck (1961) dan teori Budaya Nasional Hofstede (1983) yang dibahas secara descriptive interpretative dengan sistem perlindungan PCA.

Berdasarkan hasil wawancaranya dengan 23 informan, SDM PHB cukup memiliki motif berprestasi, memiliki kepercayaan diri, memiliki personality dan kepemimpinan yang sangat baik, memiliki pengetahuan dan keterampilan  yang baik. Hasil kuantitatif melalui penyebaran kuisioner kepada 182 responden juga menyatakan, SDM PHB memiliki need for power yang kuat dengan indikator terkuat yaitu ingin menduduki posisi leader (79%), memiliki kepercayaan diri dengan indikator terkuat yakni senang mendapatkan pujian (76,25), memiliki konsep diri yang baik dengan indikator terkuat sopan dan ramah (78,4%),  memiliki pengetahuan yang baik dengan indikator terkuat senang belajar  (86,2%), memiliki keterampilan yang baik dengan indikator terkuat mampu berpikir konseptual (86,7%).

Dilihat dari variabel budaya, SDM PHB memegang teguh konsep pawongan dengan indikator terkuat tresna (79,1%) disusul dengan konsep parahyangan dengan  indikator terkuat dharma yatra ( 75%), dan terakhir konsep pelemahan dengan indikator terkuat Bali Shanti (69,8%). Kompetensi kualitas baik yang dimiliki SDM PHB tidak terlepas dari dukungan latar belakang nilai budaya Bali yang dimiliki SDM PHB, Balinese Cultural Values (BCV).

Prof. Sulistyawati (paling kanan) bersama wisudawan lainnya

Kendala yang dihadapi SDM PHB untuk menduduki posisi manajer pada hotel berbintang di Bali, berasal dari faktor internal yaitu motif dalam diri sebagai akibat dari adanya ketidaktepatan dalam pemahaman dan pemaknaan BCV. Disamping itu juga ada kendala dari faktor ekternal yaitu adanya underestimate terhadap kompetensi SDM PHB (44%), terhadap masalah adat (22%), adanya politisasi jabatan (22%), dan mindset SDM luar Bali atau asing lebih unggul  (11%). Ada berbagai strategi peningkatan jabatan SDM Pariwisata Bali agar  mampu menduduki manajer pada hotel berbintang di Bali, yaitu (1) Strategi peningkatan kompetensi SDM PHB.  (2) Strategi peningkatan daya saing SDM PHB. (3) Strategi pembuatan kebijakan yang mendukugn SDM PHB.  (4) Strategi memotivasi SDM PHB. Novelty penelitian yaitu SDM PHB  memiliki kompetensi yang sebanding dan bahkan lebih unggul daripada SDM luar Bali atau asing, bila memiliki nilai plus BCV yang kemudian melahirkan Spiritual Quotient ( SQ)  pada SDM PHB, yang bisa menjadi stimulan bagi pertumbuhan Adversity Quotient, Creativity Quotient,  dan Leader Quotient.

Gelar doktor di bidang pariwisata ini merupakan doktor ketiga yang berhasil diraih oleh istri Dr.Ir. Frans Bambang Siswanto, M.M. Doktor yang pertama di Qxford Brookes University UK bidang Arsitektur tahun 1995, dan doktor kedua di STTII Yogyakarta bidang Teologi tahun 2013.

Ia menuturkan, latar belakang ia mengambil bidang pariwisata karena ingin menambah ilmu di bidang pariwisata, disamping akan membuka Politeknik Internasional Bali di Bitdec, Pantai Nyanyi, yang izinnya keluar bulan Maret 2017. Ia menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 3 bulan dan atas prestasinya dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,87, dalam pelepasan wisudawan Fakultas Pariwisata Unud, Periode ke-85, Kamis (9/3).  Harapannya ke depan, ia dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi para generasi muda untuk terus belajar tanpa memandang usia.–ast

To Top