Kolom

FESTIVAL MONOLOG BALI

Ami terkejut. Ada kabar burung  Bapaknya akan ikut berpartisipasi dalam Festival Monolog Bali 2017 yang berlangsung mulai 22 Maret s/d Desember. Buru-buru Ami terbang ke rumah orang tuanya. Dan takjub menemukan Amat benar-benar sedang latihan monolog.
Amat berlatih dalam kamar yang terkunci. Ia tak menghentikan latihannya walaupun Ami sudah mengetuk dan memanggil berkali-kali. Amat malah mengeraskan suara seakan minta jangan diganggu. Ami terpaksa harus puas hanya bisa rembugan dengan ibunya di dapur.
“Kenapa Ibu biarkan Bapak ikut-ikutan festival monolog? Itu kan kegiatan anak-anak muda?”
Bu Amat ketawa.
“Bapakmu itu dulu guru Ami, jangan lupa. Dia dulu sering melatih murid-muridnya buat sandiwara untuk perpisahan sekolah.”
“Tapi itu kan dulu dan lagi yang main murid-murid, tak apa. Tapi ini sekarang Bapak yang main. Monolog lagi, berarti akan sedirian ngoceh di panggung, seperti orang gila! Apa sih maunya Bapak? Tua-tua kok ingin jadi artis? Malu Ami!”
“Bukan begitu, Ami. Bapakmu itu tak mau dimakan usia tua yang kebanyakan membuat manula jadi pikun, malas tidak suka bergaul apalagi berpikir. Itu juga atas anjuran Pak Dokter Gianto, bekas temannya di SD dulu. Katanya supaya otak tidak karatan karena itu berarti nanti gampang kena alzheimer, harus banyak dipakai!”
“Ah, alasan! Ngaku saja ingin jadi selebriti! Bapak harus Ibu larang!”
“Kenapa? Ceritanya Ibu suka!”
“O ya? Jadi Ibu mendukung? Cerita apaan yang Bapak mau mainkan itu?”
Bu Amat keluar dari dapur. Ia menengok kanan dan kiri untuk memastikan tak ada orang di sekitar. Lalu mendekat ke telinga Ami dan berbisik
“M…  .”
Ami memekik kaget. Mukanya pucat. Bibirnya gemetar menahan perasaannya. Tanpa menjawab sepatah pun, Ia  bergegas kembali ke kamar bapaknya mau mendobrak.
“Ami!”
Ami tak mempedulikan panggilan ibunya. Dengan beringas ia mendorong pintu kamar kasar. Ternyata sudah dibuka. Amat tersenyum menyambut.
“Silakan duduk Ami, sekarang Bapak siap.”
“Tidak! Bapak tidak boleh ikut Festival Monolog! Bapak harus tahu diri! Bapak sudah tua, tidak perlu jadi selebriti! Itu hak kami yang muda-muda! Bapak duduk manis saja jadi panutan jangan bikin sensasi! Jaga wibawa, jadilah contoh! Dan jangan keblinger nyeleneh memainkan monolog yang cabul itu. Bapak bisa-bisa dijerat undang-undang anti pornografi…. . ”
“Pagi-pagi seorang anak bertanya pada neneknya, Nek apa itu m … ,’ kata Amat memulai lagi latihannya.
“Stoppp!” teriak Ami memprotes.
Tapi Amat terus saja melanjutkan. Ami berbalik mau keluar. Bu Amat sudah berdiri membelakangi pintu, mencegah Ami keluar.
“Duduklah yang tenang, Ami, lihat Bapak berlatih.”
“Tidak! Ami mau pulang!”
“Setelah selesai monolog Bapak, kamu boleh pulang.”
“Tidak! Ami jijik!”
“Bagaimana kamu bisa bilang jijik sebelum menontonnya?”
“Itu jorok!”
“Boleh katakan begitu kalau kamu sudah menontonnya.”
“Tidak perlu ditonton kalau sudah jelas bejat!”
Ami menerobos keluar. Tapi begitu pintu terbuka, ia terkejut. Ada tiga ibu tetangga dan dua anak remaja mau masuk.
“Mereka tetangga yang belum sempat nonton. Mereka ingin nonton karena tetangga yang sudah nonton menganjurkan mereka nonton,” bisik Bu Amat,” Silakan, Bu, Dik,  baru saja mulai.”
Semuanya bertegur sapa ke Ami, lalu masuk dan duduk menonton. Bu Amat keluar, menutup pintu dan menatap Ami.
“Mau nonton, tidak,  Ami?”
Ami tak menjawab. Bu Amat mendekati Ami. Dengan lembut lalu memberi penjelasan.
“Ami, monolog yang dibawakan Bapakmu itu tentang seorang anak lugu, polos yang jujur  menanyakan apa itu m … kepada neneknya. Anak itu dimarahi habis dianggap bejat….”
Ami mengangkat tangan menyetop penjelasan ibunya. Di dalam kamar terdengar ketawa berderai.
“Mula-mula memang lucu Ami, komentar Bu Amat,” sampai akhirnya hanya ibu guru yang berani menjelaskan apa itu m. Tapi direktur sekolah ngamuk. Guru itu dipecat. Masyarakat pun garang mengusir. Tapi ketika guru pulang kampung,  taksinya dicegat para pemuda. Mereka menyiksa, memperkosa dan membunuh guru itu,  karena penjelasannya dianggap meracuni murid.”
Ami bergerak masuk ke dalam kamar. Bu Amat ngintilin.
Amat sedang duduk bersimpuh di lantai, mengucapkan akhir monolognya.
“Banyak orang mengaku pintar dan berani membela kebenaran. Tapi tak seorangpun mau memberikan penjelasan pada anak kami yang polos bertanya. Hanya ibu guru satu-satunya yang berani. Terimakasih Ibu. Tapi alangkah mahalnya kebenaran kalau hanya untuk menjelaskan satu kata saja diperlukan nyawa manusia.”
Amat mengusap air matanya yang tak tertahan. Begitu juga para tetangga. Bahkan juga Bu Amat. Dan akhirnya Ami yang kemudian pelan-pelan bertepuk tangan.

To Top