Sosialita

Sekolah Pelangi Dharma Nusantara (PDN): Sekolah Pelangi Dharma Nusantara (PDN) Cetak Siswa Cerdas Pintar dan Berbudi Pekerti Luhur

Sekolah Pelagi Dharma Nusantara (PDN) memang baru seumur jagung, namun sekolah satu atap (TK, SD, SMP) di bawah naungan Yayasan Pelangi Dharma Negara ini, sudah mampu menunjukkan taringnya. Tentu saja hal ini tak terlepas dari semangat para pendirinya beserta para guru dan staf untuk mencapai visi misi Sekolah PDN, menjadikan anak-anak didik yang cerdas berprestasi dan memiliki budi pekerti luhur.

Pelangi memiliki warna-warna yang indah. Itu pula yang menjadi semangat sekolah ini, yang membeda-bedakan anak bangsa baik dari suku, agama dan lainnya, untuk mendapatkan pendidikan yang layak. “Inilah swadharma kami pada negara, bersama-sama pemerintah turut mencerdaskan anak bangsa didukung dengan guru-guru pengajar yang profesional di bidangnya masing-masing,” ujar Ketua Yayasan Pelangi Dharma Negara, Drs. I Wayan Suaba, MBA.

Pengusaha farmasi ini mengatakan, setelah dunia kesehatan, jalur pendidikan menjadi pilihannya untuk ngayah dan mendekatkan diri dengan masyarakat. Ikut membantu anak-anak yang tidak bisa diterima di sekolah negeri, untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dengan catatan tidak terlau membebani orangtuanya. Alasan yang paling menguatkannya adalah dunia pendidikan menjadi tempat kedua setelah keluarga, sebagai tempat pembentukan pondasi bagi karakter tunas bangsa. “Karena itulah, kami terus-menerus memotivasi para guru untuk benar-benar mengajar dan mendidik anak-anak kita untuk menjadikan mereka anak yang pintar cerdas berprestasi dan berbudi pekerti luhur. Supaya nantinya berguna untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa,” tegasnya.

Wayan Suaba menambahkan, kalaupun nantinya si anak menjadi pegawai, jadilah pegawai yang sukses, jika jadi pengusaha jadilah pengusaha yang sukses dan baik, atau kalau pun jadi pemimpin jadilah pemimpin yang baik dan benar. “Itu yang akan membuat saya bangga. Artinya dia sukses dalam menata kehidupannya ,” ujarnya bersemangat.

Cita-cita dan semangatnya inilah yang menjadi dasar pijakan Sekolah PDN untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pendidikan maupun sarana prasarana sekolah. “Cita-cita saya sederhana saja dan berharap ini bisa saya wariskan ke anak cucu agar bisa terus-menerus membantu masyarakat yang mau dididik dan belajar di sekolah kami. Semua aturan pemerintah dan kurikulum yang dianjurkan, kami taati. Kami juga tetap memotivasi para guru dan staf untuk bekerja sungguh-sungguh, tulus, jujur dan profesional sesuai dengan ilmu yang dimiliki dan sesuai tugas yang dibebankan di Sekolah PDN ini,” jelasnya.

SEMUA ANAK PELANGI PINTAR

Hal  senada disampaikan Manajer Operasional Sekolah PDN I Wayan Dudik Mahendra, S.S. “Sekolah kami memang relatif baru, namun dari segi prestasi patut diperhitungkan. Kami sudah mengondisikan agar orangtua siswa tidak terlalu terbebani dengan biaya SPP, dan guru-guru kami juga mendapatkan gaji yang layak,” ujarnya.

Semua itu diakuinya memerlukan pemikiran yang cukup panjang. Ke depannya dengan semakin lengkapnya gedung dan sarana prasarana lain yang dimiliki, diharapkan sekolah ini makin mendapat tempat di hati masyarakat dan bisa menjadi sekolah swasta pilihan. Saat ini jumlah rata-rata siswa per kelas 20 orang. “Kami berharap ke depannya memenuhi target kuota maksimal 30 per kelas untuk tetap dapat menjaga kualitas proses belajar mengajar,” ujar Dudik.

Selain itu, sekolah juga fokus kepada peningkatan kegiatan-kegiatan yang mampu mendorong anak-anak menunjukkan prestasi-prestasi individu. Juga, mendukung dan mendorong guru-guru, dan kepala sekolah untuk bisa berkreativitas. Anak-anak tidak dikejar pintar di akademis saja, namun membuat setiap anak menunjukkan potensi kelebihannya. Sehingga di sini tidak ada anak yang bodoh. Semua anak Pelangi pintar di bidangnya masing-masing.

“Inilah tantangan ke depan kami, mempersiapkan anak-anak agar mampu beradaptasi dengan cepat dengan mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan kebebasannya sebagai manusia. Yang saya sedihkan, sekarang ini sekolah cenderung menjadi tempat yang membuat anak-anak menjadi robot. Dari anak yang bebas merdeka, masuk ke sekolah jadi robot. Dibentuk secara paksa sesuai keinginan entah sekolah, dinas, atau siapa. Di Sekolah PDN tidak begitu, kami tetap mengikuti aturan tetapi kami mendorong anak-anak untuk menampilkan kemampuan terbaiknya,” paparnya . –ten

To Top