Kolom

Pencari Kerja atau Pemberi Kerja?

Salah satu pengaruh paling dahsyat dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini, adalah tingginya tingkat mobilitas dunia kerja, terutama pada aspek sumber daya manusia. Hal ini tentu membuat segala proses yang terkait tenaga kerja harus direvisi oleh perusahaan atau pengguna tenaga kerja. Para pencari kerja saat ini, ada yang disebut generasi milenial dengan berbagai atribut kebiasaan sikap dan perilakunya yang kadang membuat pihak perusahaan geleng-geleng kepala menghadapinya.

Salah satu contoh yang terjadi adalah bagaimana seorang tenaga kerja yang baru beberapa hari diterima kerja di perusahaan, ternyata sudah mengeluh bahwa pekerjaannya membosankan, dan keluhan tersebut diunggahnya di status media sosial. Bayangkan, bagaimana perasaan atasan saat melihat salah satu staf pegawai barunya yang baru beberapa hari diterima kerja sudah mengeluhkan kebosanan? Perilaku generasi yang sedikit-sedikit update status di medsos inilah yang saya maknai sebagai generasi milenial. Citra generasi milenial menjadikan dirinya hanya sebagai objek teknologi komunikasi, bukan pengendali teknologi komunikasi.

Terlepas dari yang namanya generasi milenial tersebut, ada dua kategori umum dalam pekerjaan, yaitu pemberi kerja dan pencari kerja. Dalam hal ini, saya ingin mengupas sebuah konsep sederhana tentang konsep diri pekerja yaitu “The I” dan “The Me”.

Konsep diri “The I” merupakan sebuah konsep diri pekerja yang aktif dan terus bergerak untuk  berbuat dan melakukan sesuatu untuk perubahan dunia. “The I” adalah gambaran seorang pribadi yang berkonotasi subjektif (menjadikan dirinya sebagai subjek/pelaku) dan memiliki ego yang kuat untuk merubah dunia. “The I” selalu melakukan sesuatu untuk orang lain dan mengerti keperluan orang lain, sehingga “The I” tidak akan lelah untuk berbuat sesuatu untuk orang lain.

Sedangkan “The Me” merupakan konsep diri yang pasif dan menganggap diri sebagai objek (objektif). Konsep “The Me” akan selalu menganggap bahwa dirinya hanyalah seorang yang dipekerjakan, yaitu bekerja hanya kalau disuruh atau diperintah orang lain. “The Me”, mempunyai kebiasaan menunggu perintah dan lebih banyak mengeluh kalau tidak ada orang lain yang memberikannya pekerjaan. Sehingga, karena “The Me” yang pasif, maka kecenderungan sedikit sekali mampu mengubah dunia.

Dari konsep “The I” dan “The Me” kalau ditarik benang merah, akan jelas dimaknai bahwa seseorang yang memiliki konsep diri “The I” akan menjadikan dirinya seorang pemberi kerja dan selalu berpikir akan melakukan sesuatu agar orang lain mau bekerja (baca: menyuruh bekerja). Jadi, “The I” sangat tepat rasanya dibilang sebuah konsep diri yang memberikan orang lain pekerjaan, atau bahasa kerennya cenderung akan menjadi seorang entrepreneur atau wirausaha. Seorang pemberi kerja yang aktif sebagai wujud konsep diri “The I” akan selalu kreatif dalam menciptakan hal baru atau sesuatu hal baru untuk mengubah dunia.

“The Me” lebih dimaknai sebagai penerima kerja, karena sifatnya yang pasif dan hanya bisa menerima perintah dari orang lain. Saya tidak bisa bayangkan, kalau di dunia ini lebih banyak orang dengan konsep diri “The Me” daripada “The I”, mungkin dunia tidak akan cepat berubah seperti saat ini. Sehingga saya sangat berharap, kalau di Indonesia khususnya, lebih banyak orang yang memiliki konsep diri “The I”. Karena dengan sikapnya yang selalu aktif bergerak, akan mampu membuat banyak perubahan dan menciptakan hal-hal baru bagi kemajuan bangsa. Secara khusus, semakin banyak yang orang dengan konsep “The I” maka akan semakin banyak jumlah pengusaha yang akan memberikan lowongan pekerjaan bagi orang lain, atau lebih banyak sebagai pemberi kerja daripada penerima kerja. Kalau Anda, mau jadi yang mana??

 

I Made Widiantara

Dosen Prodi Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bali, Pengurus HIMPSI wilayah Bali

To Top