Kolom

RAJA SALMAN

Kedatangan Raja Arab Saudi, Baginda Raja Salman, setelah Baginda Raja Abdullah 47 tahun lalu, istimewa. “Dalam beberapa hal mungkin sekali artinya bagi kita agak berbeda-beda, Pak. Amat, tergantung  keyakinan politik kita. Betul tidak?” kata Pak Made.
Amat tak menjawab.
“Saya terkejut melihat ada pangeran yang pakai celana jeans. Ada putri berambut pendek tak pakai jilbab. Beliau bertemu dengan pemuka semua agama. Notabene 6 hari di pulau kita yang mayoritas beragama Hindu. Itu kan menunjukkan beliau moderat dan toleran, Pak Amat?!”
Amat hanya menjawab dengan senyum. Ia yakin pernyataan tetangga dan sekaligus musuh dalam selimutnya itu,   adalah pancingan.
“Beliau ingin mengorek kesalahanku, supaya bisa dia jadikan ejekan di dalam arisan kompleks,” kata Amat menceritakan peristiwa itu pada Ami.
“Jadi Bapak tidak menjawab?”
“Tidak. Kenapa? Karena diam adalah emas!”
“Tapi bagaimana kalau itu diartikan Bapak bersikap skeptis? Kurang merespons kedatangan pemimpin yang sangat penting artinya bagi kita, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia?”
Amat tertegun.
“O ya? Bisa begitu ya?”
“Bisa saja. Diam tidak selalu jadi emas, Pak, bisa juga jadi batu kerak.”
Amat manggut-manggut.
“Kalau begitu mestinya bapak bilang, kunjungan ini adalah bagian dari pertanda diplomasi presiden kita sebagai negarawan, jitu. Raja Salman mengunjungi indonesia ketika ada komunitas yang membuat wajah agama yang teduh dan bijak jadi beringas. Begitu?”
“Ya terserah, Bapak. Itu poin yang bagus. Tak akan ada orang yang berani mempermainkan poin yang bagus. Kalau ada itu berarti dia bunuh diri. Karena sekarang masyarakat kita sudah tambah kritis. Jadi jangan takut.”
Amat manggut-manggut. Setelah kembali ke rumah ia mencoba melakukan testing.
“Bu, yang paling menarik dari kedatangan Raja Salman itu, apa? Jangan ragu, terus-terang saja, daripada diam jadi batu kerak!”
Bu Amat berpikir.
“Jangan dipikirin. Lontarkan saja sejujurnya!”
Bu Amat menatap Amat curiga.
“Jangan curiga. Tak ada orang yang akan berani mengejek kebenaran. Karena itu berarti bunuh diri. Masyarakat kita sekarang sudah kritis. Katakan saja sejujurnya!”
Setelah menimbang, Bu Amat menjawab polos.
“Menurut saya, pangeran putranya Raja Salman itu gantengnya selangit. Lebih ganteng dari semua bintang film dan bintang sinetron kita. Kalau ikut pilkada di indonesia, pasti saya akan nyoblos dia!”
Amat mau membantah. Tapi Bu Amat sudah berdiri dan pergi ke dapur. Amat termenung.
“Bukan itu komentar yang ingin kudengar dari ibumu, Ami,” kata Amat ketika ketemu Ami lagi.
Ami ketawa.
“Apa yang ingin Bapak dengar?”
“Kenapa ibumu tidak bilang, bahwa …..  kunjungan Raja Salman ke Indonesia itu …. “.
“Apa?”
Amat mikir. Tapi tak menemukan apa yang ingin ia dengar dari istrinya.
“Apa, Pak?”
“Ada pangeran yang pakai celana jeans. Ada putri berambut pendek tak pakai jilbab. Beliau bertemu dengan pemuka semua agama. Notabene 6 hari di pulau kita yang mayoritas beragama Hindu. Itu kan menunjukkan beliau moderat dan toleran!”
Lho itu kan komentar Pak Made, musuh Bapak?”
Amat mengangguk.
“Betul.”
“Bukannya Bapak mencurigai beliau memancing-mancing Bapak untuk bikin kesalahan?”
Amat tertawa.
“Itu dia Ami! Kedatangan Raja Salman ini membuka hati Bapak. Jangan harga mati benci dan curiga kepada orang yang berbeda keyakinan politik! Kenapa Bapak apriori mencurigai komentar Pak Made? Itu kan betul, meskipun Pak Made itu bukan cs kita?!! Semoga orang lain juga begitu!”

To Top