Indonesia

Sukmawati Mei Widarti: Tari sebagai Ekspresi Jiwa

Indonesia dikenal sebagai negara yang hasil alamnya melimpah, penduduk yang cukup padat, dan beragam budaya kerap memukau negara lain. Berbicara tentang budaya, seperti bangunan peninggalan bersejarah berupa candi, alat musik daerah, senjata khas, lagu daerah bahkan pertunjukan seni tari yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

Sebagai masyarakat bangsa dan negara harus memiliki rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme yang tinggi dengan cara melestarikan agar kebudayaan di Indonesia tidak menjadi punah dan terus berkembang.

Perkembangan teknologi yang pesat, membuat masyarakat khususnya anak muda sekarang sulit untuk memahami kebudayaan yang lahir dari negaranya sendiri. Kebanyakan mereka lebih nyaman dan asyik meniru budaya barat yang sangat berpengaruh pada nilai – nilai moral bahkan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Berbeda dengan pelajar asal kota Lumajang ini, Sukmawati Mei Widarti, yang mengagumi ragam budaya negaranya, terutama di bidang seni tari. Wanita kelahiran 2000 ini, mengaku bahwa tari merupakan separuh jiwanya. Karena sejak usia lima tahun, ia sudah terjun dan mendalami seni tari tradisional.

Umumnya, setiap orang pasti memiliki keahlian atau bakat yang muncul dari dirinya masing – masing dalam bidang yang berbeda. Awalnya, siswi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lumajang ini mempunyai hobi menari. Selain itu, dia juga senang mendengarkan musik – musik tradisional. “Saya, kalau mendengar musik seperti suara gendang, paling susah disuruh diam,” kata wanita usia 17 tahun ini.

Sempat berpikir tujuannya menari hanya untuk bersenang – senang saja, tetapi setelah beberapa waktu masuk dalam dunia tari, dan merasa ini bermanfaat juga bagi masyarakat sekitarnya yang kurang melestarikan budaya asli Indonesia ini. Akhirnya, Sukma memutuskan ingin terus berlatih dan menjadi seorang penari yang profesional.

Selain jago tari, anak tunggal dari pasutri Didik Hadiyarto dan Sunarmi Agustina Widarti ini pernah terjun di dunia modelling dan tarik suara. Dengan suaranya yang merdu mampu meraih juara pertama tingkat kabupaten dan naik ke tingkat provinsi. “Waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri Jogotrunan, Lumajang. Dan, itu otodidak, tanpa ada guru pembimbing.” jelasnya.

Karena keterbatasan jumlah ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Lumajang  yang hanya ada seni tari tradisional, akhirnya bakat di tarik suaranya tertunda dan berhenti. Hal itu tidak membuat Sukma merasa putus asa, justru menjadikannya semangat dan fokus dalam bidangnya itu.

Hari pertama masuk sekolah di SMP nya, wanita bertubuh tinggi ini merasa minder saat mengikuti ekstra tari yang dibimbing oleh guru seni, Dwi Swarsiningsih S.Pd. Tetapi dengan modal usaha doa dan rasa percaya diri semua akan berjalan dengan baik. Niat dan tekadnya sudah bulat, sehingga dia merasa yakin pasti bisa dan harus bisa.

Berjalannya waktu, perempuan kulit sawo matang ini merasa bersyukur atas kelebihan dan keahlian yang dimilikinya yaitu menari. Dengan gerak gerik lemah gemulainya, pembimbing tari di sekolahnya, yang kerap dipanggil Dwi ini, tertarik dengan kelincahannya saat membawakan sebuah tarian.

Ia ditawari bergabung dengan sanggar tari ternama di kawasan Lumajang, yaitu ‘Sanggar Palupi’  yang kebetulan milik guru pembimbingnya itu. Sanggar ini didirikan bersama suaminya, M. Munif, sebagai pembimbing iringan gamelannya. Dengan senang hati, perempuan murah senyum ini, menerima hasil tawaran dari gurunya dan langsung bergabung.

Prestasi yang sering didapatkan disekolahnya, seperti juara pertama lomba Festival Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten yang kemudian lanjut ke tingkat provinsi ketika kelas satu SMP di Dinas Pariwisata, Lumajang tahun 2013. “Kebetulan gelar juara ini bertahan selama 3 tahun berturut – turut hingga saya lulus,” tambahnya.

Tak hanya itu,wanita berhidung mancung ini, juga pernah menari bersama sanggarnya mewakili kabupaten Lumajang untuk mengisi acara pagelaran seni tingkat nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Anjungan Jawa Timur, Jakarta Timur, pada tahun 2014.

Tarian yang ditampilkan saat perlombaan itu merupakan kreasi baru ciptaan Dwi Swarsiningsih S.Pd dan rekan kerjanya, Amin Supriatin S.Pd. Tari tersebut adalah tari ‘Baling’ yang menceritakan tentang perjuangan wanita merebut senjata colonial dan tari ‘Soran’ menceritakan tentang acara suroan atau malam 1 Muharram.

Setelah lulus SMP, Sukma melanjutkan sekolah di SMKN 1 Lumajang. Ia memilih seni tari. Kemahirannya yang sudah ditekuni sejak 12 tahun yang lalu membuatnya semakin yakin bahwa dia harus jadi seorang penari, dia akan memperkenalkan dirinya di mancanegara sebagai penari.

Selain mengikuti ekstrakulikuler di sekolahnya , ia tetap bergabung di sanggar untuk latihan tambahan. Pembimbing seni tari di SMK, Erwin Nur Siska Rani S.Pd, melatih dengan sabar dan menuntun hingga gerakan menjadi sempurna. Tak hanya di SMP, prestasi yang diraihnya di SMK pun tidak sedikit, antara lain pernah mewakili kabupaten Lumajang untuk berlaga di tingkat provinsi dalam acara Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di Hotel New Grand Park, Surabaya. Disusul dengan kegiatan Festival Tari Tradisional Pelajar (FTTP) yang diselenggarakan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan lomba tari memperingati HUT TNI ke-71 tahun 2016 di wilayah Kodim 0821/Lumajang. Segudang prestasi mampu ia raih untuk membanggakan orang tuanya yang selalu mendukung dan mendampingi saat perlombaan berlangsung.

“Selain melestarikan budaya, saya menganggap tari sebagai ekspresi jiwa, untuk mengembangkan hobi dan juga bakat,” jelas wanita lincah ini. Harapan kedepan, ingin berprestas, berlomba, berkompetensi di tingkat Internasional yang membawa nama baik keluarga, sekolah dan sanggar. (Putri Ardiashari)

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top