Sosialita

Selenggarakan Seminar “Valentine Day”: BPR Kanti Bekerjasama dengan Lady Lawyers Bali

Sesudah sukses menggandakan dan menyebarkan buku hukum Adat Bali pada tahun 2014 secara cuma-cuma untuk semua Bendesa Adat seluruh Bali (1488), tahun ini BPR Kanti kembali menggelar acara yang istimewa seminar tentang “Emansipasi Wanita Kekinian, KDRT, dan Kedudukan Wanita Bali dalam Pewarisan”.

BPR Kanti bekerjasama dengan Lady Lawyers Bali (LLB) menyelenggarakan Seminar ini, Sabtu (18/2) di Gedung Diklat BPR Kanti. Seminar yang diikuti karyawan BPR Kanti dan masyarakat umum ini merupakan salah satu implementasi corporate social responsibility (CSR) BPR Kanti yang berkantor pusat di Jalan Batuyang No. 67 B Batubulan.

Menghadirkan lima pembicara, yaitu Ketua Dharma Wanita Provinsi Bali CIA Pemayun, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Adat Bali Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si., Kadek Ary Pramayanty, S.H., Febry Asmarani, S.H., dan Ida Ayu Putriyasa, S.H. Bendahara LLB Ary Pramayanty mengungkapkan, seminar ini merupakan ajang diskusi untuk menginformasikan sekaligus mengedukasi masyarakat khususnya kaum perempuan tentang emansipasi perempuan kekinian saat ini. Menurutnya, perempuan di era sekarang ini sudah sangat maju dan mampu ikut andil dalam menopang pembangunan.

Meski demikian, Ary Pramayanty juga mengingatkan, emansipasi perempuan juga memiliki koridor dan batasan. Kesuksesan wanita di tempat kerja atau karirnya juga harus dibarengi keberhasilannya dalam keluarga. Karena seorang wanita tetap punya andil besar dalam melahirkan generasi emas bangsa lewat kasih sayangnya terhadap anak dan keluarga. Untuk itu, tanggung jawab mendidik anak dan keluarga tetap menjadi tugas wanita bersama sang suami.

“Emansipasi perempuan Bali khususnya sudah bagus, namun lebih lagi kepada koridornya. Emansipasi sih emasipasi tapi jangan sampai kebablasan, meninggalkan keluarganya,” ujarnya. Kita harus bertanggung jawab kepada penerus bangsa, dalam artian generasi muda sekarang. Ketika anak kurang sentuhan dan kasih sayang keluarganya, disana akan terjadi kenalan remaja. Jadi, yang bertanggung jawab adalah ibu dan bapaknya karena mereka adalah satu team work yang memang harus bahu-membahu untuk membina generasi muda.

Ary Pramayanty menambahkan, kaum wanita dalam kehidupan keluarga menuntut kehidupan yang layak. Dalam hal ini tentunya mereka tidak akan pernah puas dan selalu akan memperbaiki kualitas hidupnya menuju perekonomian yang lebih baik. Jangan sampai di luar wah tapi keluarga berantakan. “Pada akhirnya, kita harus bersyukur memiliki keluarga yang baik sehingga ke depannya semua akan menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Digelarnya seminar dalam moment Hari Kasih Sayang (Valentine Day) ini kebetulan juga bertepatan dengan HUT ke-4 LLB. Ketua Panitia, Made Arya Amitaba yang diwakili Direktur Operasional BPR Kanti, Ketut Tantra mengatakan, seminar ini merupakan kerjasama BPR Kanti dengan LLB yang kebetulan sedang berulang tahun yang ke-4. Kegiatan ini di-support BPR Kanti dan Ketua Dharma Wanita Provinsi Bali.

Melalui seminar ini, BPR Kanti berharap masyarakat dapat mengerti emansipasi wanita dan menyadari peran dan kedudukannya masing-masing antara pria dan wanita. “Saya berharap, Seminar Emansipasi Wanita Kekinian, KDRT dan Kedudukan Wanita Bali dalam Pewarisan ini dapat bermanfaat bagi tugas, peran, dan kedudukan wanita dan pria sehingga keharmonisan dalam rumah tangga dapat terwujud,” ujarnya.

To Top