Buleleng

Partisipasi Masyarakat Rendah dalam Pilkada

I Nyoman Suandana, S.E., M.Si

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Buleleng 2017 telah berlangsung beberapa minggu. Akan tetapi ajang lima tahunan tersebut menyisakan beberapa catatan. Paska pungut hitung suara untuk tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, ternyata tingkat partisipasi pemilih di Buleleng sangat rendah. Bahkan disinyalir, tahun ini terendah partisipasi masyarakatnya.

Angka golongan putih (golput) alias pemilih tidak menggunakan hak suaranya di Pilkada Buleleng mencapai 45,57 persen. Artinya, tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 54,43 persen dari total 588.125 jumlah pemilih tetap. Ditingkat Kecamatan, ada dua kecamatan yang tingkat kehadiran pemilih ke TPS berada dibawah angka 50 persen. Kedua kecamatan itu masing masing Kecamatan Tejakula dan Kecamatan Sawan.

Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilu menjadi perhatian Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Panji Sakti I Nyoman Suandana, S.E., M.Si,. Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pemimpin terpilih benar-benar berasal dari mayoritas suara rakyat. Sikap apatis yang ditunjukkan masyarakat dapat disebabkan oleh beberapa faktor. “Semakin rendahnya partisipasi masyarakat dari waktu ke waktu disebabkan beberapa faktor utama,” ujar pria yang biasa disapa Suandana ini.

Menurutnya, faktor pertama adalah terbatasnya pilihan pasangan calon yang diajukan partai politik. Terbukti dengan adanya dua calon kepala daerah sehingga menyebabkan tidak secara maksimal mengakomodasikan aspirasi pemilih. “Jika diibaratkan paslon itu adalah menu makanan dan TPS adalah restoran, dan masyarakat tidak suka menu yang disajikan maka mereka tidak ingin dan merasa rugi jika datang ke tempat itu” ujarnya.

Faktor kedua yakni perbedaan antara janji kampanye dengan realitas politik. Kata dia, saat ini masyarakat sudah mulai cerdas dalam menentukan pilihan sehingga program-program yang belum tercapai pada masa pemerintahan sebelumnya akan mempengaruhi partisipasi masyarakatnya. Terakhir katanya, arah partai politik mendukung pasangan calon yang populer dan bermodal besar, akhirnya berujung pada jumlah pasangan calon yang terbatas sehingga mengurangi jumlah perbincangan antara kandidat dan masyarakat. “Kalau komunikasi antara paslon dan masyarakat kurang terjalin dan cenderung ke politik sehingga masyarakat di luar pendukung partai akan apatis saja,” imbuh pria kelahiran Busung Biu tersebut.

Apapun alasan dibalik tingginya angka golongan putih di Pilkada Buleleng, seharusnya masyarakat tetap menjalankan kewajiban dan haknya. “Pemilihan ini merupakan kewajiban masyarakat untuk mendapatkan haknya. Kalau sekarang mereka tidak memilih maka nantinya mereka tidak akan mendapatkan hak,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top