Connect with us

Metropolitan

Jakarta Banjir Jangan hanya Salahkan Pemerintah

Published

on

Evakuasi warga korban banjir di Cipinang Muara

Jakarta banjir, sebetulnya biasa. Tidak ada yang istimewa. Karena selalu terjadi hampir setiap tahun. Yang tidak biasa adalah karena saat ini Jakarta masih dalam suasana Pilkada, sehingga banjir di Jakarta menjadi sesuatu yang ‘seksi’ untuk diributkan. Ditambah lagi pada kampanye lalu, salah satu ‘jualan’ utama Ahok, sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot, adalah soal keberhasilan penanganan banjir.

Padahal kalau mau jujur, memang benar setelah ditangani dengan pembuatan sheetpile (dinding turap) dan normalisasi kali, penambahan pompa air, jumlah titik banjir di Jakarta relatif banyak menurun. Kalaupun banjir, akan lebih cepat surut dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi itu lah, suasana Pilkada membuat banjir yang terjadi di 54 titik pada Selasa (21/2) lalu, menjadi suatu kehebohan, sekalipun di sejumlah titik banjir surut dalam tempo beberapa jam saja.

Sejumlah artis mengatakan, terjadinya banjir di Jakarta tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada pemerintah karena untuk menangani banjir bukan hanya pemerintah yang berperan tapi masyarakat pun harus berpartisipasi. Misalnya, menjaga lingkungan tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dll.

“Kita ini tidak bisa hanya semata-mata menyalahkan pemerintah atas kejadian ini. Kan harusnya balik lagi kepada kesadaran masyarakat. Misalnya kebiasaan buang sampah sembarangan, nggak bisa menjaga kebersihan lingkungan, dll. Atau menempati lahan yang seharusnya tidak boleh menjadi permukiman. Ada tempat yang seharusnya tidak boleh ada pembangunan namun ternyata menjadi apartemen atau mal, padahal itu adalah daerah resapan,” papar Fauziah Shihab, pemeran ‘Ustadzah Jannah’ dalam film ‘Cahaya Cinta Pesantren’.

Advertisement

Wanita cantik berdarah Arab-Betawi ini mengaku sejak kecil akrab dengan banjir lantaran dia dan keluarganya tinggal di daerah Cawang yang setiap tahun menjadi langganan banjir. Maklum, dekat dengan aliran Sungai Ciliwung. Karena sudah terbiasa menghadapi banjir maka masalah ini dihadapi dengan kepada dingin.

BACA  Jubir Reisa: Jumlah Kasus Baru per Hari Masih Diatas 3000

“Kalau dulu itu, di permukiman saya tinggal, jika banjir datang hebat sekali, ketinggiannya bisa melebihi atap rumah. Miris melihatnya,” ucap Zee Zee, panggilan akrab Fauziah Shihab, yang kini sudah tidak tinggal di kawasan Cawang lagi.

Menariknya , kata wanita kelahiran Maret 1988 ini lagi, ketika ditanya kepada masyarakat kenapa tidak pindah rumah, mereka bilang tidak mau karena sudah merasa nyaman di sana. “Jadi orang-orang di situ kalau ditanya kenapa nggak pindah, mereka bilang enggak lah kita dari zaman nenek buyut di sini, sudah nyaman di sini. Jadi banjir sudah bagian dari cobaan,” ungkap Zee Zee yang memulai kariernya di dunia hiburan sejak usia 8 tahun.

Roy Marten, aktor kawakan juga mengungkap hal senada. Meski dia juga menjadi korban banjir namun dia  tidak mau menyalahkan pemerintah atas masih terjadinya banjir di Ibukota. Menurut ayah dari aktor Gading Marten ini, banjir yang terjadi di kawasan tempat tinggalnya Kali Malang, Jakarta Timur, karena hujan deras yang terus menerus sehingga membuat kali meluap. Derasnya air membuat jebol tembok pembatas sehingga air pun masuk ke pemukiman. Banjir di rumah Roy mencapai selutut orang dewasa.

BACA  Soal Prokes, Doni Monardo Tak Segan Tegur Pejabat Daerah

“Memang kebanjiran, tapi sekarang hanya selutut. Saya kira banjir sekarang tidak separah tahun-tahun sebelumnya, ya. Rumah saya itu, kan, dikelilingi tembok. Nah saat itu tembok di sebelah bocor, lubang besar karena mungkin hujannya terlalu kencang, kali meluap, jadinya ya banjir,  masuk selutut,” ungkap Roy yang mengaku sangat kerepotan dengan datangnya banjir.

Advertisement

“Saya benar-benar kerepotan banget.Tapi saya pikir, orang lain juga terkena banjir, jadi ya sudah lah, nikmati saja,” tambahnya. Meski direpotkan dengan adanya banjir namun Roy yang tenar dengan film ‘Cintaku di Kampus Biru’, 1975, mengaku tidak berpikir untuk pindah rumah. “Ah..ya enggak mikir pindah. Begini, dalam setahun itu kan ada 365 hari, katakan lah saya kena banjir dua hari, artinya kesenangan saya ada 363 hari. Artinya, mayoritas saya senang, kan? Jadi saya nikmati rumah saya, halaman rumah saya, ok,” paparnya.

PESATNYA PEMBANGUNAN JABODETABEK

Permasalahan banjir di Jakarta memang sungguh kompleks, bukan hanya soal tanah Jakarta yang mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Tapi juga pesatnya pembangunan di Jakarta sehingga mengurangi daerah resapan. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data,  Informasi  dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mengatakan, banjir Jakarta tidak dapat diatasi jika tata ruang tidak dibenahi.

BACA  UN Dihapus, Kualitas Pendidikan belum Merata

“Pengendalian banjir harus diteruskan. Relokasi warga di bantaran sungai adalah suatu keharusan. Kita perlu melebarkan sungai agar mampu mengalirkan,” ucap peneliti utama di BPPT itu.Menurutnya, relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran.

“Tapi seringkali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Penataan ruang harus dikendalikan. Daerah-daerah sepadan sungai, kawasan resapan air dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya,” tegas dosen Universitas Pertahanan ini dalam rilisnya.

Ditambahkannya, dari citra satelit Landsat tahun 1990 hingga 2016 menunjukkan permukiman dan perkotaan berkembang luar biasa. Permukiman nyaris menyatu antara wilayah hulu, tengah dan hilir dari daerah aliran sungai yang ada di Jabodetabek. Sangat minim ruang terbuka hijau atau kawasan resapan air sehingga air hujan yang jatuh sekitar 80 persennya berubah menjadi aliran permukaan. Bahkan di wilayah perkotaan sekitar 90 persen menjadi aliran permukaan.

Advertisement

Maka tak heran ketika curah hujan yang sebenarnya tidak terlalu besar, Jakarta kebanjiran. Data BMKG—Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika— menyebutkan bahwa curah hujan saat ini masih jauh lebih kecil dibanding tahun 2007, 2013 dan 2014.Peluang hujan ekstrem saat ini, katanya, makin sering terjadi. Itu artinya makin tinggi risiko terjadinya banjir jika tidak dilakukan upaya pengendalian banjir yang komprehensif dan berkelanjutan.(dianaruntu@cybertokoh.com)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Metropolitan

Jakarta Menuju Kota Ramah Sepeda, Begini Usulan B2W Indonesia

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Kota modern dan ramah lingkungan tak hanya tergambar dari tata kotanya, tetapi juga ditunjang oleh sistem transportasinya yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.

Penyelenggaraan sistem transportasi di DKI Jakarta dalam empat tahun terakhir sebetulnya bisa dibilang mengalami kemajuan. Yang paling menonjol, tentu saja, adalah pengadaan lajur dan jalur sepeda.

“Tetapi, meski layak diapresiasi, Bike To Work (B2W) Indonesia menilai komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dipimpin Gubernur Anies Baswedan untuk memastikan keberadaan jaringan jalur sepeda tetap berlanjut masih perlu dikritisi” kata Ketua Umum B2W Indonesia Fahmi Saimima di Jakarta dalam siaran pers yang diterima Senin (25/10).

Advertisement

Fahmi mengatakan, prasarana bersepeda, yang direncanakan sebagai satu jaringan dengan jarak total 500 km di seluruh Jakarta, adalah wujud dari visi Pemprov DKI Jakarta tentang mobilitas urban, yakni mengalihkan penggunaan kendaraan bermotor pribadi ke angkutan umum dan moda yang ramah lingkungan/ berkelanjutan–sepeda dan jalan kaki.

Fahmi menjelaskan secara fisik, keberadaan lajur/jalur yang sudah dibangun sepanjang 97,77 km itu sekurang-kurangnya telah mengubah penampakan jalanan yang kebetulan ditetapkan sebagai lokasi dari rute yang akan dilalui pengguna sepeda. Ini pun sudah ikut menyumbang pencapaian Pemprov DKI Jakarta di bidang mobilitas kota yang mendapat Sustainable Transport Award 2021, penghargaan yang pernah diterima antara lain oleh Kota Bogota, Seoul, New York City, Guangzhou, dan San Francisco.

BACA  Tanah Abang untuk Siapa?

“Tetapi seperti di kota mana pun di dunia yang punya keinginan serupa dengan Jakarta, jalur sepeda ini hanya satu dari sejumlah langkah yang dibutuhkan bagi sebuah transformasi perilaku, kebiasaan, dan budaya dalam bermobilitas. Prasarana ini tidak serta merta orang mau meninggalkan kenyamanan kendaraan bermotor pribadi untuk bersepeda sehari-hari,” ucapnya.

Ia menilai dibandingkan dengan kota-kota lain di dunia yang serius untuk terus meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung mobilitas warganya, Jakarta justru terlihat sudah berpuas diri dengan pembangunan jalur sepeda.

“Pandemi memang menyulitkan pendanaan untuk melanjutkan apa yang telah dikerjakan, tak terkecuali dengan Jakarta. Tapi pandemi pula yang mendorong banyak kota di dunia untuk berubah drastis, dengan tetap menempatkan prioritas bagi warganya, terutama dalam hal mobilitas dan kesejahteraan,” ujar Fahmi.

Advertisement

Menurut Fahmi, diperlukan keberanian dan komitmen dari Pemprov DKI Jakarta untuk mendorong peningkatan penggunaan sepeda sebagai sarana mobilitas warga, selain juga perlunya dukungan dalam bentuk anggaran pembangunan sarana dan prasarana yang memadai.

Saat ini, B2W Indonesia juga mendukung atas lahirnya peraturan yang menjadi pedoman keberadaan prasarana bersepeda, juga fasilitas pendukungnya (termasuk kewajiban bagi gedung perkantoran untuk menyediakan tempat parkir dan kamar mandi/ruang ganti), seperti di Peraturan Gubernur No. 51/2020. Ini regulasi saat keadaan pandemi, Demikian pula dalam Instruksi Gubernur No. 49/2021 yang memasukkan poin lajur/jalur sepeda sebagai salah satu isu prioritas yang harus diselesaikan pada Desember 2022, yakni terbangunnya jaringan jalur sepeda dengan total 298 km, belum lagi ada Instruksi Gubernur nomor 66 tahun 2019 tentang pengendalian kualitas udara, serta Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1263 tahun 2020 tentang perubahan kedua atas keputusan Gubernur nomor 1042 tahun 2018 tentang daftar kegiatan strategis daerah yang mencantumkan Pengembangan Sarana dan Prasarana Sepeda.

BACA  Pilkada Jakarta "Rasa" Pilpres

Sebagai langkah awal yang bisa mewakili semua upaya tersebut, B2W Indonesia mengusulkan diberlakukannya Fuel-Free Friday, yaitu di setiap hari Jumat pagi (06.00 – 09.00 wib) dilakukan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor (sama ketika pembatasan PPKM), jikalau diperlukan untuk di seluruh ruas jalan protokol di Jakarta. Berbeda dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor, yang berlangsung setiap Minggu di kawasan terbatas, Fuel-Free Friday mencakup kawasan dan keterlibatan masyarakat yang lebih luas.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta diharapkan melaksanakan beberapa hal berikut ini:
merealisasikan pembangunan Bike Lounge yang digagas Jakarta Experience Board;
mengaktifkan lagi dan memperluas Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau yang lazim disebut car-free day, serta mewujudkan inklusivitas bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan olahraga;merealisasikan salah satu syarat aplikasi penerima Sustainable Transport Award 2021, yakni penyelenggaraan summit atau konferensi akbar tentang Transportasi berkelanjutan (baca: sepeda) yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder).

Ke depan, Pemprov DKI Jakarta diharapkan dapat menindaklanjuti semua masukan dan kritikan dari masyarakat demi pengelolaan sistem transportasi Ibukota yang modern dan ramah lingkungan. Dan ini perlu dukungan khalayak luas serta potensi warga DKI Jakarta, termasuk B2W Indonesia yang siap menjadi mitra Pemprov DKI Jakarta. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Metropolitan

Habis Vaksinasi Dapat Sembako

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 terus digenjot. Salah satunya di Global Islamic School (GIS) Condet, Kramatjati, Jakarta Timur. Slot 300 vaksin pada Rabu (28/7) berhasil disuntikkan semua sebelum pukul 14.00 WIB.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Mukti Juharsa meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi di Gerai Vaksin Presisi itu dan menyatakan puas. Menurut pengamatannya, proses vaksinasi sangat tertib sejak dari pendaftaran, pendataan, pengecekan kesehatan, hingga penyuntikan vaksin.

“Vaksinasi berlangsung bagus. Kegiatan ini bisa diperpanjang, sepanjang masih banyak yang mendaftar. Mulai besok, kami tidak saja akan menambah vaksin, tapi juga akan kami bagikan sembako berupa beras lima kilogram per orang,” ujar Kombes Mukti, yang didampingi Ketua Yayasan Perguruan GIS, H. Buyar Winarso dan koordinator vaksin H. Wardoyo.

Advertisement

Dalam kesempatan kunjungan tersebut Kombes Mukti mengingatkan kepada para peserta vaksin agar tetap menjaga protokol kesehatan. “Ajak tetangga, kerabat, dan handai taulan yang belum vaksin. Makin banyak warga masyarakat yang divaksin, makin cepat tercipta herd immunity,” ujar lulusan Akpol 1994 itu.

BACA  Pilkada Jakarta "Rasa" Pilpres

Tak lupa Kombes Mukti juga meminta para tokoh masyarakat, utamanya di Condet dan sekitarnya, agar tidak kendor melaksanakan protokol kesehatan. Tetap menggunakan masker (rangkap), menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan memakai sabun. “Vaksinasi bukan satu-satunya cara memutus mata rantai pandemi. Ada cara lain, yakni disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” tambah perwira polisi yang banyak bertugas di bidang reserse itu.

Di tempat terpisah, Eni Kusumawati, koordinator pelaksana Gerai Vaksin Presisi di SMU GIS mengatakan berkat bantuan banyak pihak, vaksinasi berlangsung lancar dan tertib.  Menanggapi penambahan jatah vaksin serta pembagian sembako pada vaksinasi selanjutnya, Eni menyambut antusias. Vaksin yang sedianya berakhir Kamis (29/7), dibuka kemungkinan diperpanjang hari Senin dan Selasa minggu depan.

Sementara itu, Ketua BKOMG, Hj Mira Wardoyo dihubungi secara terpisah mengatakan, terima kasih kepada Polda Metro Jaya yang telah memfasilitasi kegiatan Gerai Vaksin Presisi di SMU GIS Condet. “Mohon maaf jika ada kekurangan di sana-sini. Maklumlah, persiapannya hanya dua hari. Ini mirip legenda Bandung Bondowoso,” ujar Mira.

Ditambahkan, Gerai Vaksin Presisi merupakan bagian dari “Bhakti Kesehatan Bhayangkara untuk Negeri”. “Alhamdulillah, mulai besok ada pembagian sembako bagi yang mengikuti vaksin di SMU GIS. Menurut Kombes Mukti,  bantuan sembako itu merupakan sumbangan institusi TNI-Polri. Semoga makin menambah antusias masyarakat melaksanakan vaksin,” harapnya. (Diana Runtu)

Advertisement

Continue Reading

Metropolitan

PWI Jaya Gelar Bukber

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi DKI Jakarta menggelar acara buka bersama di hari ke-18 Ramadhan 1442 Hijriyah, Jumat (30/4). Acara yang dihelat di Sekretariat PWI Jaya, lantai 9 Gedung Prasada Sasana Karya, berlangsung meriah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ketua Umum PWI Pusat, Atal Sembiring Depari, berada dalam jajaran tamu kehormatan bersama Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch.Bangun. Dari PWI Pusat hadir juga Dar Edi Yoga, wakil bendahara. Terlihat pula Kamsul Hasan, yang memimpin PWI Jaya dua periode, legenda bulu tangkis nasional Icuk Sugiarto dan Roso Daras, dari Satgas Covid-19 BNPB.

Roso Daras menjelaskan tentang diperpanjangnya program ubah laku, kerja sama BNPB dan Dewan Pers. “Program ubah laku dimulai lagi bulan Mei, dan diberlakukan hingga Desember 2021,” ungkapnya.

Advertisement

Bakrie Amanah, lembaga amil kelompok usaha Bakrie,  memberikan dukungannya pada kegiatan PWI Jaya di bulan penuh berkah ini. Mereka mendonasikan Rp 15 juta kepada PWI Jaya, sebagai bentuk kepedulian dari dampak pandemi Covid-19. Edo Hendra, wakil Bakrie Amanah, melakukan penyerahan bantuan sosial secara simbolis kepada perwakilan media.

BACA  Pengurangan Mobilitas saat Libur Panjang Potensial Turunkan Kasus Covid-19

Ketua PWI Jaya,  Sayid Iskandarsyah, memberikan sambutan, disusul Hendry Ch.Bangun. Sementara itu, Icuk Sugiarto membagi kisah perjuangannya ketika merebut gelar di Kejuaraan Dunia Bulu tangkis 1983 di Kopenhagen, Denmark. Icuk kini membesarkan Icuk Sugiarto Training Camp (ISTC), yang berdiri di atas lahan seluas empat hektar di Cisaat, Sukabumi. Menuju waktu berbuka ada siraman rohani dari ustaz Rommy Syahril, yang juga ketua Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) PWI Jaya. (Diana Runtu)

Continue Reading

Tren