Sehat

Mengenal Penyakit Rematik Jantung

Pemeriksaan Ekokardiografi / USG Jantung di RS Wangaya.

Penyakit rematik yang dikenal pada umumnya mengenai persendian dan mengenai usia tua. Namun, tahukah Anda, rematik bisa juga terjadi pada jantung. Agar tidak terjadi kesalahan pemahaman,  perlu kita ulas penyakit jantung rematik atau yang sering disebut beberapa pasien dengan rematik jantung.

Menurut dr. I Putu Parwata Jaya, M.Biomed.,Sp.JP-FIHA., penyakit jantung rematik (PJR) diawali dengan terjadinya demam rematik (DR) yang ditandai dengan salah satu dari beberapa kriteria atau kelainan seperti nyeri pada persendian, berdebar, benjolan bawah kulit di daerah tertentu, bercak kemerahan pada kulit, gerakan-gerakan tubuh tertentu di luar kesadaran (yang sering diterjemahkan sebagai kriteria Jones), demam, dan tanda adanya infeksi kuman Streptokokus ß hemolitikus grup A pada tenggorokan melalui pemeriksaan laboratorium.  “PJR diakibatkan karena adanya gejala sisa pada katup jantung (atau yang lebih dikenal masyarakat dengan klep jantung) dari perjalanan demam rematik,” ujar dokter spesialis jantung RS Wangaya ini.

Gambar katup mitral yang mengalami kekakuan/stenosis yang bisa dilihat melalui pemeriksaan ekokardiografi/USG jantung.

Angka kejadian PJR di Indonesia pada tahun 1981-1990 sekitar 0,3-0,8 diantara 1000 anak sekolah. Angka kematian akibat penyakit ini diperkirakan 7,6 per 100.000 penduduk di Asia Tenggara, dan angka disabilitas pertahun diperkirakan sebesar 173,4 per 100.000 penduduk di negara berkembang.  “Hal ini tentunya akan memberikan dampak ekonomis yang besar bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang dan padat penduduk di kawasan Asia Tenggara,” kata dokter yang bertugas juga di RS Dharma Yadnya dan Bhakti Rahayu ini.

Mekanisme terjadinya PJR diawali dengan adanya infeksi di tenggorokan oleh kuman Streptokokus ß hemolitikus grup A. Infeksi kuman ini akan mengakibatkan terbentuknya respon imun tubuh dimana respon imun tubuh ini dapat menyerang kulit, otak, persendian dan jantung sehingga akan muncul gejala-gejala demam rematik. Kejadian ini biasanya akan terjadi berulang-ulang, dimana usia yang sering ditemukan antara 5-15 tahun. Kejadian penyakit demam rematik yang berulang ini akan mempercepat terjadinya kelainan pada katup jantung yang mengakibatkan terjadinya gejala sisa pada katup jantung penderita.  Pada pasien dewasa PJR ini sering sekali ditemukan pada usia dewasa muda.

Kelainan katup yang sering ditemukan pada penderita PJR adalah kelainan katup aorta dan katup mitral. Jenis kelainan kedua katup ini bisa berupa regurgitasi (kebocoran  katup/katup tidak menutup dengan baik) atau stenosis (kekakuan katup/kesulitan katup untuk membuka dengan baik). Pada penyakit jantung rematik yang sudah kronis biasanya akan lebih sering ditemukan kekakuan katup atau kesulitan kayup untuk membuka dengan baik pada katup mitral.

Ia mengatakan, pasien yang sudah mengalami stadium lanjut biasanya akan ditemukan datang dalam keadaan gagal jantung. Pada kondisi gagal jantung dapat ditemukan gejala-gejala seperti mudah lelah, sesak nafas saat istirahat maupun beraktivitas, bengkak pada pergelangan kaki, terbangun malam hari karena sesak nafas, perasaan kembung atau penuh di perut, nafas terasa cepat, denyut jantung yang tidak teratur/keluhan berdebar, denyut jantung yang cepat, ascites, dan gejala gagal jantung lainnya.

Salah satu pemeriksaan  penunjang yang dapat dikerjakan untuk menilai adanya kelainan katup jantung pada PJR adalah pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung. “Dengan pemeriksaan ekokardiografi kita bisa mengetahui adanya gangguang fungsi bilik jantung, pelebaran serambi dan bilik jantung, penebalan atau kekakuan  katup dan juga aliran darah pada jantung,” jelasnya.

Keuntungan dari pemeriksaan ekokardiografi adalah dapat memberikan gambaran mengenai struktur jantung dan pembuluh darah jantung tanpa harus menimbulkan rasa sakit berlebihan  kepada pasien. Keuntungan lain dari pemeriksaan ini adalah tidak menimbulkan dampak radiasi pada pasien.

“Pada PJR pemeriksaan ekokardiografi dapat digunakan untuk memonitoring perjalanan penyakit dan beratnya kelainan katup yang dialamai oleh penderita. Monitoring dengan pemeriksaan ekokardiografi biasanya dilakukan sesuai dengan derajat beratnya katup yang dialami oleh penderita serta apakah kelainan katup yang dialami sudah menimbulkan gejala gagal jantung atau tidak,” kata dr. Putu Parwata.

Biasanya pemeriksaan ini diulang dalam waktu 6 bulan sampai 3 tahun sekali.  Pemeriksaan ekokardiografi juga dipakai sebagai acuan dalam membantu menentukan waktu yang tepat untuk dilakukan tindakan operasi dan jenis tindakan operasi yang akan dikerjakan pada pasien apakah tindakan operasi dilakukan dengan pembedahan atau dengan menggunakan balon pada pasien dengan kelainan stenosis katup jantung.

“Saat ini pemeriksaan ekokardiografi sudah tersedia di RS Wangaya dengan biaya yang cukup terjangkau sehingga diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami kelainan jantung dan juga khususnya masyarakat yang menderita penyakit jantung rematik,” imbuhnya.

Penanganan PJR dapat dilakukan dengan pengobatan dan tindakan operasi. Pengobatan yang diberikan ditujukan untuk mengeradikasi kuman streptokokus di tenggorokan, mencegah progresivitas kelainan katup yang dialami serta berulangnya penyakit, dan  mengurangi keluhan gagal jantung.

Tindakan operasi biasanya dilakukan pada pasien yang telah mengalami komplikasi katup baik regurgitasi atau stenosis dengan gangguan hemodinamik. Operasi yang dilakukan dapat berupa penggantian katup atau dengan menggunakan balon untuk melebarkan penyempitan katup yang terjadi.

Ia menyatakan, kewaspadaan terhadap berulangnya penyakit ini sangat diperlukan untuk mencegah progresifitas penyakit. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali gejala sedini mungkin dan usia yang paling sering berulangnya penyakit ini. “Dengan mengetahui gejala penyakit ini dan usia kapan penyakit ini sering berulang kita akan lebih waspada dan lebih cepat untuk mencari pengobatan ke dokter spesialis jantung sehingga progresifitas penyakit akan dapat kita cegah. Pada pasien yang sudah mengalami kelainan katup jantung, tidak adanya gejala penyakit tidak menutup kemungkinan progresivitas penyakit terus berlangsung, sehingga pemantauan gejala dan pemeriksaan ekokardiografi secara berkala sangat diperlukan,” ujarnya. (wirati.astiti@cybertokoh.com).

 

To Top